Taiwan Siapkan 'Neraka Drone' untuk Gagalkan Invasi China
Jakarta, CNBC Indonesia - Taiwan mempercepat pembangunan armada drone udara dan kapal tanpa awak untuk menghadapi potensi invasi China. Strategi yang terinspirasi pengalaman Ukraina ini dirancang untuk menciptakan medan perang yang disebut militer Amerika Serikat (AS) sebagai hellscape atau "neraka" bagi pasukan penyerbu.
Konsep tersebut mengandalkan gelombang drone, rudal, dan artileri untuk mendeteksi sekaligus menyerang pasukan China sebelum mereka mampu menguasai wilayah Taiwan.
"Upaya kami terkait drone dan penanggulangan drone dimulai agak terlambat, dan awalnya kami melakukan uji coba sambil berjalan," ujar Letnan Jenderal Huang Wen-chi, Direktur Jenderal Perencanaan Strategis Kementerian Pertahanan Taiwan, kepada parlemen, seperti dikutip New York Times, Minggu (9/8/2026).
Huang mengatakan kondisi itu mulai berubah dalam dua tahun terakhir. Militer Taiwan kini memasukkan kemampuan drone dan penangkal drone ke dalam latihan Han Kuang, latihan militer tahunan yang berlangsung selama 10 hari, termasuk latihan pengintaian menggunakan drone serta simulasi untuk melumpuhkan drone lawan.
Dorongan tersebut tak lepas dari perang Rusia-Ukraina yang menunjukkan efektivitas drone dalam menghadapi kekuatan militer yang lebih besar.
"Drone sedang memasuki babak baru. Demi kelangsungan hidup dan pertahanan nasionalnya, Taiwan sangat membutuhkan drone-drone ini," ujar Max Lo, Ketua Asosiasi Industri Drone Nasional Taiwan.
Taiwan menargetkan produksi mencapai 100.000 drone per bulan pada 2030, dengan sekitar separuhnya untuk ekspor. Di sektor pertahanan, pemerintah ingin memiliki lebih dari 210.000 drone udara dan laut untuk digunakan dalam berbagai tahap konflik, termasuk mengawasi pergerakan pasukan China hingga menyerang kapal yang mengangkut pasukan dalam operasi amfibi.
Namun, perang drone bukan sekadar persoalan memperbanyak perangkat. Mick Ryan, pensiunan mayor jenderal Australia dan peneliti senior Lowy Institute, mengatakan Taiwan harus mengubah organisasi, pelatihan, serta doktrin militernya agar mampu mengoperasikan kawanan drone dan menyebarkan informasi medan perang dengan cepat.
"Taiwan telah menyadari bahwa drone akan memegang peranan penting di semua ranah dan tahapan" dalam potensi perang melawan China, katanya.
China sendiri tidak tinggal diam. Beijing juga mengembangkan pesawat dan kapal tanpa awak serta teknologi untuk mendeteksi dan menghancurkan drone lawan.
"Ingatlah, pihak China juga memantau segala tindakan yang dilakukan Ukraina," kata Ryan, mengingatkan bahwa setiap strategi Taiwan berpotensi segera diadaptasi oleh militer China.
Di sektor industri, Taiwan juga berusaha membangun rantai pasok drone domestik agar tidak bergantung pada pihak luar jika terjadi blokade. Pemerintah mengusulkan anggaran sekitar US$6,5 miliar atau Rp115,7 triliun selama lima tahun untuk pengadaan drone, sementara oposisi mengajukan proposal US$7,4 miliar atau sekitar Rp131,7 triliun selama enam tahun. Pada kuartal I-2026 saja, ekspor drone Taiwan mencapai US$115 juta atau sekitar Rp2,05 triliun, melampaui total ekspor sepanjang 2025.
(fsd/fsd)