China Tiba-Tiba "Hukum" AS Sebelum Pertemuan Trump-Xi Jinping, Kenapa?
Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah China secara resmi mengumumkan serangkaian tindakan tegas terhadap Amerika Serikat (AS) dan perusahaan-perusahaannya pada hari Rabu. Langkah balas dendam ini diambil sebagai bentuk pembalasan atas tindakan terbaru Washington yang menargetkan berbagai entitas China.
Mengutip CNNÂ International, Kamis (6/8/2026), sanksi balasan ini muncul beberapa minggu menjelang pertemuan puncak antara pemimpin China, Xi Jinping, dan Presiden AS, Donald Trump. Kedua negara dengan ekonomi terbesar di dunia ini tengah berjuang keras mempertahankan stabilitas strategis yang konstruktif di tengah persaingan teknologi yang makin memanas.
Kementerian Perdagangan China mengumumkan bahwa mereka menjatuhkan sanksi kepada beberapa entitas Amerika, termasuk sebuah perusahaan bioteknologi dan analitik sumber daya. Beijing juga secara ketat membatasi ekspor drone beserta komponen dan teknologi terkaitnya yang ditujukan ke AS.
Kementerian tersebut memaparkan bahwa enam perusahaan AS dimasukkan ke dalam daftar penanggulangan China. Hal ini merupakan balasan atas langkah AS pekan lalu yang melarang impor dari 43 perusahaan China atas tuduhan pelanggaran hak asasi manusia terhadap kelompok minoritas Uighur.
Satu perusahaan AS lainnya juga masuk ke dalam daftar sanksi tersebut akibat larangan dari Komisi Komunikasi Federal AS (FCC) bulan lalu. FCC diketahui telah melarang impor robot humanoid dan robot berkaki empat baru yang sebagian besar buatan China, serta berbagai konverter daya.
Akibat sanksi terbaru ini, seluruh entitas dan individu di dalam negeri China dilarang keras melakukan bisnis atau bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan AS yang terdaftar. FCC sendiri pada bulan Desember lalu juga telah melarang impor dan penjualan model drone baru serta peralatan penting buatan pabrikan asing dengan alasan keamanan nasional.
Menanggapi tekanan tersebut, China sebagai produsen drone terbesar di dunia langsung memperketat kontrol ekspor produknya selama beberapa tahun terakhir. Selain itu, Beijing pada hari Rabu juga meluncurkan investigasi keamanan nasional terhadap peralatan kantor impor yang menggunakan perangkat lunak sistem asing.
China bahkan ikut menangguhkan kolaborasi inspeksi pelacakan pabrik tertentu dengan pihak AS. Juru bicara Kementerian Perdagangan China menegaskan bahwa Beijing tidak punya pilihan selain mengambil tindakan penanggulangan yang diperlukan untuk merespons AS.
"China mendesak Amerika Serikat untuk segera mencabut langkah-langkah terkait, menghentikan tindakan kelirunya, dan bekerja sama untuk memelihara hubungan China-AS yang konstruktif dan stabil," ungkapnya.
"Jika Amerika Serikat bersikeras memperkenalkan langkah-langkah pembatasan baru terhadap China, China akan mengambil tindakan penanggulangan lebih lanjut," tegasnya.
Pemerintahan Donald sebelumnya juga telah memberikan sanksi kepada operator pengiriman China yang dituduh menangani bahan bakar Iran. Donald juga menambahkan institusi baru, termasuk dua universitas sipil terkemuka di China, ke dalam daftar hitam Pentagon.
China juga termasuk di antara puluhan negara yang bulan lalu dikenai tarif sebesar 10 persen atau 12,5 persen oleh Washington atas dugaan kegagalan mengekang ekspor dari hasil kerja paksa. Para pejabat AS baru-baru ini bahkan ikut mengancam akan memberikan sanksi tambahan kepada perusahaan-perusahaan kecerdasan buatan (AI) asal China.
Eskalasi ketegangan ini ironisnya terjadi bersamaan dengan tanda-tanda persiapan pertemuan puncak antara Xi dan Donald yang dijadwalkan pada bulan depan. Para pejabat ekonomi tinggi dari AS dan China diketahui baru saja mengadakan pembicaraan perdagangan melalui tautan video pada pekan lalu.
Sebelumnya pada awal Juli, wakil menteri luar negeri China juga telah mengunjungi AS secara langsung. Kunjungan tersebut secara luas dipandang sebagai perjalanan perencanaan penting menjelang kunjungan Xi ke negara tersebut.
(tps) [Gambas:Video CNBC]