"Neraka Bocor" Tak Main-Main, Sungai Menghilang-Warga Ketakutan
Jakarta, CNBC Indonesia - Perusahaan dan rumah tangga di Hungaria telah memangkas konsumsi listrik mereka secara drastis pada pekan ini. Langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya ini dilakukan setelah pemerintah mengimbau warga untuk mengurangi tekanan pada jaringan listrik di tengah kekeringan parah.
Mengutip Reuters, Kamis (6/8/2026), warga Budapest kini tengah bersiap menghadapi puncak gelombang panas pada hari Rabu dan Kamis dengan perkiraan suhu mencapai 40 hingga 42 derajat Celcius. Beberapa penduduk yang berdiri di atas gundukan pasir Sungai Donau yang mengering menyadari bahwa realitas perubahan iklim akhirnya telah tiba di depan mata.
Ketinggian air sungai yang menyusut tajam telah memaksa Hungaria untuk mematikan sebagian besar operasional satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir mereka. Fasilitas yang sangat bergantung pada perairan Sungai Donau sebagai pendingin tersebut kini menghadapi krisis energi yang mendesak kapasitas pasokannya hingga batas maksimal.
Pembangkit listrik yang menjadi tulang punggung jaringan nasional tersebut kemungkinan hanya akan beroperasi pada tingkat kapasitas sedikit di atas 10 persen selama berminggu-minggu. Kondisi kritis yang memaksa lonjakan impor energi ini akan sangat bergantung pada tingkat debit air sungai ke depannya.
Penduduk Budapest yang mengenakan topi jerami untuk menahan panas, Krisztina Nemeth, menyampaikan pandangannya sambil menatap Sungai Donau yang mengering. Ia menyebut beberapa orang bahkan telah membangun tumpukan batu di dasar sungai yang gersang untuk menandai momen kelam ini.
"Ini adalah hal yang menyedihkan dan menakutkan, serta peringatan yang sangat serius bagi masyarakat bahwa kita perlu berhati-hati dengan sumber daya kita. Ini adalah panggilan bangun yang sangat serius," ucap Krisztina.
Perdana Menteri (PM) Hungaria, Peter Magyar, secara berulang kali mengucapkan terima kasih kepada perusahaan dan rumah tangga yang telah sukarela mengurangi penggunaan daya. Penghematan tersebut mencapai 600 hingga 700 megawatt (MW) setiap harinya pada periode konsumsi puncak antara pukul 17.00 hingga 22.00 waktu setempat.
Melalui unggahan di laman Facebook pada hari Rabu, Magyar memperingatkan warganya bahwa hari-hari yang lebih kritis masih menanti di depan mata.
"Gelombang panas akan mencapai puncaknya hari ini dan besok, jadi pemotongan konsumsi daya secara sukarela akan sangat penting antara pukul 17.00 dan 22.00," tulis PM Magyar.
Seorang analis energi yang tidak disebutkan namanya menyatakan bahwa sebagian besar penghematan listrik tersebut berasal dari kalangan pengguna industri. Dengan total permintaan daya yang kini melebihi 7.000 MW, penghematan 600 MW itu diperkirakan setara dengan mematikan satu juta unit pendingin ruangan (AC).
PM Magyar memaparkan bahwa sebanyak 837 pengguna daya skala menengah dan besar telah melakukan pemotongan konsumsi secara sukarela. Selain itu, kereta api negara juga telah menangguhkan layanan angkutan barang pada periode sibuk yang menghemat sekitar 60 hingga 90 MW per hari.
Pihak berwenang menambahkan bahwa lampu hias pada beberapa bangunan ikonik terkenal di Budapest turut dimatikan untuk menekan beban listrik. Di sisi lain, Magyar juga memuji rumah tangga di Hungaria yang dianggapnya telah melakukan pekerjaan luar biasa dalam menekan konsumsi.
Warga Budapest lainnya yang tengah berdiri di tepi jembatan, Csongor Szabo, turut menjelaskan langkah penghematan keluarganya.
"Kami berusaha menggunakan AC sesedikit mungkin di rumah, dan kami benar-benar hanya menggunakan peralatan listrik yang penting. Saya pikir semua orang di Hungaria harus melakukan hal yang sama," jelas Csongor.
Fenomena penghematan sukarela ini sangat mengejutkan mengingat pemerintahan sebelumnya mensubsidi tagihan energi rumah tangga secara besar-besaran yang tidak kondusif untuk mengurangi konsumsi. Uni Eropa sebelumnya bahkan telah merekomendasikan agar Hungaria segera menghentikan skema subsidi tersebut.
Namun, pemerintahan baru Magyar yang mengambil alih kekuasaan pada bulan Mei menyatakan bahwa mereka akan tetap mempertahankan kebijakan subsidi tersebut. Sebagai gantinya, pemerintah berjanji akan menginvestasikan dana dari Uni Eropa untuk memperkuat jaringan listrik nasional.
Bulan lalu, Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) telah memperingatkan bahwa biaya ekonomi Hungaria yang terkait dengan banjir dan kekeringan berulang terus meningkat. Dalam laporan yang dirilis pada 27 Juli lalu, lembaga tersebut menyoroti skenario iklim yang mengarah pada peningkatan kerugian pertanian dan gangguan infrastruktur secara luas.
"Hungaria mungkin menjadi salah satu negara Eropa yang paling terkena dampak banjir sungai dan kekeringan parah di masa depan," tulis laporan OECD tersebut.
(tps/luc)