MARKET DATA
Internasional

Siapkan Manuver Baru, Presiden Rombak Jajaran Petinggi Militer

tps,  CNBC Indonesia
06 August 2026 13:30
Tentara Rusia saat mengikuti upacara peringatan 78 tahun Hari Kemenangan di Lapangan Merah di Moskow, Rusia, Selasa (9/5/2023). (Sefa Karacan/Anadolu Agency via Getty Images)
Foto: Tentara Rusia saat mengikuti upacara peringatan 78 tahun Hari Kemenangan di Lapangan Merah di Moskow, Rusia, Selasa (9/5/2023). (Sefa Karacan/Anadolu Agency via Getty Images)

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Rusia Vladimir Putin telah mengumumkan perombakan di antara komandan militer senior angkatan bersenjata negara tersebut. Langkah ini digambarkan sebagai penyempurnaan Kementerian Pertahanan untuk menghadapi konflik Ukraina yang sedang berlangsung.

Mengutip Russia Today, Kamis (6/8/2026), perombakan tersebut diumumkan ke publik dalam sebuah pertemuan pemerintah pada hari Rabu. Menteri Pertahanan Andrey Belousov dan Kepala Staf Umum Valery Gerasimov turut menghadiri pertemuan tersebut bersama para komandan yang baru diangkat.

Perubahan formasi ini mencakup penunjukan satu orang yang bertanggung jawab penuh atas logistik militer dan pasokan senjata. Putin menunjuk Kolonel Jenderal Valery Solodchuk, yang sebelumnya merupakan komandan kelompok pasukan 'Tengah', untuk mengisi posisi strategis tersebut.

Menginstruksikan tugas tersebut, Putin menegaskan secara langsung kepada sang jenderal bahwa memimpin logistik juga merupakan sebuah misi tempur.

"Saya yakin bahwa Anda akan menunjukkan kualitas terbaik Anda saat mengaturnya," ujar Putin.

Posisi lama Solodchuk kini akan diambil alih oleh Kolonel Jenderal Andrey Ivanaev, yang sebelumnya menjabat sebagai komandan kelompok 'Timur' (Vostok). Sebagai penggantinya, Ivanaev merekomendasikan Mayor Jenderal Pyotr Bolgarev, yang merupakan kepala staf kelompok Vostok, dan langsung disetujui oleh Putin.

Selain itu, Putin juga menunjuk Kolonel Jenderal Denis Lyamin sebagai komandan Pasukan Sistem Tak Berawak Rusia. Unit militer tersebut merupakan cabang angkatan bersenjata baru yang secara resmi dibentuk pada bulan November tahun lalu.

Perombakan strategis di Rusia ini terjadi tepat ketika pihak Kyiv justru tengah menghadapi pergolakan politik dan militer yang makin berkembang. Bulan lalu, Presiden  Ukraina Volodymyr Zelensky telah memerintahkan "kampanye tekanan" selama 40 hari yang melibatkan peningkatan serangan jarak jauh.

Serangan Ukraina tersebut menargetkan infrastruktur energi Rusia, gudang ritel, kapal kargo, dan target lainnya, serta operasi sabotase di tanah Rusia. Namun, kampanye 40 hari yang berakhir pada pekan ini tersebut pada akhirnya hanya membuahkan hasil yang beragam.

Para kritikus berpendapat bahwa serangan balasan Rusia justru menimbulkan kerusakan ekonomi yang jauh lebih besar bagi Ukraina. Kerusakan tersebut mencakup blokade de facto terhadap pelabuhan-pelabuhan Ukraina di Laut Hitam, jauh melebihi apa yang berhasil dicapai oleh Kyiv melalui operasinya sendiri.

Selama serangan tersebut berlangsung, Zelensky juga melakukan perombakan kabinet terbarunya yang memicu krisis politik dan protes massal di Kyiv. Kekacauan ini pecah setelah mantan Menteri Pertahanan Mikhail Fedorov secara terbuka menentang pemecatannya dan mengkritik Jenderal Aleksandr Syrsky.

Menanggapi krisis tersebut, Zelensky kemudian mengambil langkah tegas dengan mencopot Syrsky dari jabatan panglima angkatan bersenjata Ukraina. Kendati demikian, sang presiden tetap menolak untuk mengembalikan Fedorov ke jabatan semulanya.

(tps/luc) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Drone Ukraina Hantam 21 Tanker Rusia, Jalur Pasokan BBM Terancam


Most Popular
Features