Bahlil Sebut RI Proses Impor Minyak Rusia Tahap 2

Firda Dwi Muliawati, CNBC Indonesia
Rabu, 05/08/2026 15:35 WIB
Foto: (Tangkapan layar Instagram)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah memproses pengadaan tahap kedua impor minyak dari mentah dari Rusia sebagai bagian dari kontrak jangka panjang antara Indonesia dan Rusia.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia membeberkan bahwa impor minyak tahap satu dari Negeri Beruang Merah tersebut sudah sampai di Indonesia, dan kini tengah diproses untuk impor tahap kedua.

Dia pun menekankan kelanjutan impor tersebut merupakan upaya pemerintah dalam memperkuat cadangan minyak nasional.


"Tahap pertama kan sudah. Tahap kedua lagi berjalan. Nanti kita bikin kontrak jangka panjang kok ya," ungkap Bahlil saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (5/8/2026).

Bahlil menggarisbawahi bahwa pengadaan minyak mentah ini dilakukan langsung oleh negara melalui Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (Lemigas) dan bukan merupakan aksi korporasi dari PT Pertamina (Persero).

Dia menekankan, langkah tersebut diambil untuk memastikan kedaulatan energi Indonesia tetap terjaga tanpa adanya intervensi dari negara lain.

"Dan ingat ya, yang melakukan pengadaan itu bukan Pertamina ya, negara. Jadi negara nggak boleh diintervensi oleh negara lain ya. Ini negara. Yang melakukan impor adalah negara," tegas Bahlil.

Dengan skema impor yang dikelola negara, pemerintah memiliki keleluasaan penuh untuk mendistribusikan minyak tersebut demi kepentingan rakyat dan kemandirian bangsa.

"Setelah negara ambil, baru negara mau siapkan untuk kemana untuk kepentingan rakyat bangsa dan negara itu urusan negara lah. Dan negara kita ini kan menganut asas bebas aktif," lanjutnya.

Bahlil berharap ketahanan energi primer Indonesia semakin tangguh dalam menghadapi dinamika geopolitik global di masa mendatang.

"Kita tidak mendikte negara lain tapi negara lain juga tidak boleh mendikte kita. Independensi negara kita harus kita jaga sebagai bagian daripada pengabdian kita kepada Ibu Pertiwi," tandasnya.

Impor Minyak Melalui Lemigas

Kementerian ESDM menyiapkan peran yang lebih besar bagi Lemigas dalam tata kelola pengadaan energi nasional. Melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 26 Tahun 2026, Lemigas berpeluang menjadi salah satu Badan Layanan Umum (BLU) yang dapat melakukan pengadaan, termasuk impor minyak mentah dan BBM.

Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung sempat mengatakan bahwa pemerintah tidak akan membentuk BLU baru untuk menjalankan fungsi tersebut. Sebaliknya, pemerintah akan mengoptimalkan lembaga yang sudah ada di lingkungan Kementerian ESDM.

"Jadi kita akan mengoptimalkan penggunaan ini BLU yang ada di antaranya adalah Lemigas," ujar Yuliot di Kementerian ESDM, Jumat (29/5/2026).

Menurut Yuliot, pengaturan tersebut merupakan bagian dari implementasi Perpres Nomor 26 Tahun 2026 tentang Pengadaan Minyak Dalam Negeri yang baru diterbitkan pemerintah. Aturan itu memberikan ruang tidak hanya kepada badan usaha milik negara (BUMN), tetapi juga BLU di bidang energi untuk melakukan pengadaan minyak.

Meski begitu, ia menjelaskan pemerintah tetap mengutamakan pasokan energi dari dalam negeri. Perpres tersebut mengatur agar minyak mentah yang diproduksi kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) dapat diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan domestik, terutama saat pasokan global mengalami keterbatasan.

"Jadi dari Perpes itu pengadaan crude itu bisa berasal dari produksi dalam negeri, dari perusahaan K3S dalam negeri. Jadi karena ada keterbatasan suplai secara global, jadi kalau ada komitmen ekspor yang dari perusahaan K3S itu bisa dipasarkan dalam negeri. Dan harganya itu sesuai dengan harga ICP, jadi untuk tidak merugikan perusahaan KKKS sendiri," ungkap Yuliot.

Total Impor Minyak dari Rusia

Utusan Khusus Presiden bidang Energi dan Lingkungan Hashim Djojohadikusumo sebelumnya menyebutkan bahwa Indonesia mendapatkan 150 juta minyak mentah dari Rusia dengan harga khusus.‎ ‎

Hashim mengatakan pasokan minyak yang didapatkan dengan harga khusus itu adalah hasil kunjungan Presiden Prabowo Subianto menemui Presiden Vladimir Putin di Istana Kremlin, Moskwa, pada Senin (13/4/2026).

‎"Indonesia sekarang sudah ada komitmen dari pemerintah Rusia, 150 juta barel kita bisa simpan di Indonesia untuk menghadapi masalah-masalah gejolak ekonomi," ucap Hashim saat memberikan acara Economic Briefing 2026 di Menara Patra Jasa, Jakarta pada Kamis (23/4/2026).

‎Awalnya dalam pertemuan dengan Putin, jelas Hashim, awalnya Rusia menyetujui mengirim 100 juta barel dengan harga khusus. Akan tetapi, jumlah itu akan ditambah Rusia sebesar 50 juta barel untuk Indonesia dalam menghadapi gejolak dunia.

‎"Dia (Prabowo Subianto) ke Moskow ketemu Presiden Putin selama 3 jam dan dapat komitmen dari Presiden Putin 100 juta barel minyak itu akan segera dikirim ke Indonesia. 100 juta barel dengan harga khusus. Dan apabila Indonesia perlu lagi tambahan, sudah ditambah 50 juta," tutur Hashim.


(wia)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Jaga Cadangan Energi, Bahlil: RI Sudah Impor Minyak dari Rusia