Internasional

AS "Sekarat", Perang Iran Kosongkan Gudang Senjata Pentagon

luc, CNBC Indonesia
Rabu, 05/08/2026 06:09 WIB
Foto: REUTERS/Kim Hong-Ji

Jakarta, CNBC Indonesia - Persediaan rudal jarak jauh berpresisi tinggi milik Amerika Serikat (AS) dilaporkan terkuras drastis setelah lima bulan perang melawan Iran. Tiga sumber yang mengetahui data internal tersebut mengatakan Angkatan Darat AS telah menggunakan sebagian besar stok global rudal andalannya, memunculkan kekhawatiran mengenai kesiapan militer Washington menghadapi konflik lain di masa depan.

Menurut sumber-sumber Reuters, dilansir Selasa (4/8/2026), senjata yang paling banyak digunakan adalah rudal permukaan-ke-permukaan Army Tactical Missile Systems (ATACMS) dan Precision Strike Missiles (PrSM). Dua dari tiga sumber bahkan menyebut AS telah menggunakan "hampir seluruh" persediaan kedua jenis rudal tersebut.

Tingkat penurunan stok ATACMS dan PrSM ini sebelumnya belum pernah dilaporkan secara luas.


ATACMS dan PrSM merupakan bagian penting dari arsenal militer AS. Rudal-rudal tersebut memungkinkan serangan presisi dari jarak aman tanpa harus mengirim pesawat tempur atau pembom berawak ke wilayah musuh.

ATACMS yang dipasok AS juga memainkan peran penting dalam perang Ukraina karena memungkinkan pasukan Ukraina menyerang sasaran di dalam wilayah Rusia. Sementara itu, PrSM merupakan generasi baru yang lebih canggih dan dirancang untuk menggantikan ATACMS yang memiliki jangkauan lebih pendek.

Penggunaan besar-besaran rudal presisi jarak jauh selama perang Iran membuat Presiden Donald Trump berpotensi harus lebih mengandalkan operasi pengeboman menggunakan pesawat berawak yang dinilai lebih berisiko jika memutuskan melanjutkan serangan berskala besar terhadap Iran.

Meski demikian, para sumber menolak mengungkap berapa jumlah ATACMS maupun PrSM yang masih tersisa di gudang senjata AS.

Adapun Trump meluncurkan perang terhadap Iran bersama Israel pada Februari lalu. Saat itu ia memprediksi konflik tersebut akan berlangsung singkat.

Namun, seiring perang yang terus berlanjut, ketiga sumber yang mengetahui persoalan tersebut mengaku khawatir menurunnya persediaan rudal dapat membatasi kemampuan AS dalam memberikan efek pencegahan terhadap musuh potensial, termasuk Rusia dan China.

Sumber keempat yang juga mengetahui situasi itu mengatakan bahwa meskipun penggunaan senjata presisi sangat tinggi, AS masih memiliki kemampuan untuk mengisi kembali persediaannya.

Menurut sumber tersebut, Komando Pusat AS (CENTCOM) yang mengawasi operasi militer AS di Timur Tengah masih dapat mengisi ulang persediaan dengan mengambil stok dari pangkalan-pangkalan militer AS di berbagai wilayah dunia.

Menanggapi pertanyaan mengenai data persediaan rudal tersebut, Gedung Putih merilis pernyataan dari Trump. Trump menegaskan bahwa AS masih memiliki jumlah amunisi yang jauh lebih besar dibanding negara mana pun di dunia.

"Kami memiliki jauh lebih banyak amunisi dibanding siapapun di dunia, dan jauh lebih banyak daripada yang kami butuhkan," kata Trump.

Ia juga mengatakan industri pertahanan AS saat ini sedang memproduksi amunisi dalam jumlah terbesar sepanjang sejarah.

"Perusahaan-perusahaan pertahanan kami saat ini memproduksi lebih banyak amunisi daripada sebelumnya, sambil memperluas fasilitas dan peralatan mereka pada tingkat yang memecahkan rekor," ujarnya.

Para analis umumnya sepakat bahwa produksi sejumlah jenis amunisi, termasuk peluru artileri dan berbagai jenis rudal, memang berada pada tingkat tertinggi dalam sejarah. Namun mereka mengingatkan bahwa pasokan tersebut bisa saja tidak cukup apabila AS harus menghadapi perang berkepanjangan.

Lockheed Martin, produsen ATACMS, PrSM, dan sistem pertahanan rudal THAAD, belum memberikan tanggapan atas pertanyaan mengenai pernyataan Trump maupun kondisi pasokan senjata tersebut.

Raytheon, pembuat rudal Tomahawk dan pencegat Patriot, yang merupakan dua senjata penting milik AS, juga belum memberikan komentar.

Sementara itu, juru bicara utama Pentagon Sean Parnell menegaskan bahwa militer AS tetap memiliki seluruh kemampuan yang diperlukan untuk menjalankan operasi militer kapan pun diperintahkan presiden.

"Militer Amerika adalah yang paling kuat di dunia dan memiliki segala yang dibutuhkan untuk melaksanakan operasi pada waktu dan tempat yang dipilih Presiden. Kami telah menjalankan berbagai operasi yang sukses di berbagai komando tempur sambil memastikan militer AS tetap memiliki arsenal kemampuan yang besar untuk melindungi rakyat dan kepentingan kami," kata Parnell.

Meski demikian, data mengenai stok senjata tersebut disebut telah beredar di dalam pemerintahan federal selama sepekan terakhir.

Salah satu sumber mengatakan berkurangnya stok ATACMS dan PrSM mencerminkan keputusan pemerintahan Trump untuk menghindari metode serangan yang lebih berisiko terhadap sasaran di Iran.

Alih-alih menggunakan pesawat berawak untuk menjatuhkan bom secara langsung, Washington lebih memilih menggunakan rudal jarak jauh berpresisi tinggi.

Karena memungkinkan serangan dari jarak aman, para analis menilai rudal-rudal tersebut akan sangat berharga jika AS harus menghadapi negara dengan sistem pertahanan udara kuat seperti China.

Menurut laporan Center for Strategic and International Studies (CSIS) pada Maret lalu, rudal-rudal itu juga telah digunakan untuk menyerang target-target di dalam Iran.

Laporan tersebut menyebut stok PrSM memang sejak awal tidak terlalu besar karena merupakan senjata yang relatif baru. Namun militer AS telah memesan sejumlah besar rudal itu untuk pengiriman pada 2027.

Angkatan Darat AS juga telah menyatakan bahwa ATACMS akan dihentikan secara bertahap dan produksinya dialihkan ke PrSM.

Selain rudal serang, para pemimpin militer juga telah berulang kali memperingatkan Trump bahwa stok senjata pertahanan mulai menipis.

Dua sumber mengatakan persediaan pencegat Patriot yang digunakan untuk menghadapi rudal balistik mengalami penyusutan signifikan.

CSIS pekan sekitar 65% stok pencegat Patriot telah digunakan antara Februari hingga Juli.

Lembaga itu juga memperkirakan jumlah pencegat rudal balistik THAAD dalam persediaan AS turun setidaknya 38% dibandingkan awal perang.

Patriot dan THAAD merupakan sistem pertahanan yang berfungsi mendeteksi serta menghancurkan rudal yang datang dan termasuk di antara senjata pertahanan paling efektif yang dimiliki AS.

Dua sumber mengatakan angka dalam laporan CSIS sesuai dengan data internal pemerintah AS.

Selain itu, salah satu sumber menyebut AS juga telah menghabiskan sedikit kurang dari setengah stok global rudal jelajah Tomahawk sejak perang dimulai.

Pekan lalu, sejumlah media melaporkan bahwa Trump memutuskan untuk tidak melancarkan serangan besar tambahan ke Iran karena penasihat militernya memperingatkan kondisi stok senjata AS.

Namun seorang pejabat AS membantah laporan tersebut dan mengatakan keputusan Trump lebih dipengaruhi tekanan dari negara-negara Teluk.

Konflik Timur Tengah juga memicu perdebatan sengit mengenai kewenangan Trump menjalankan perang terhadap Iran tanpa persetujuan Kongres.

Hingga kini tidak ada permintaan deklarasi perang maupun otorisasi penggunaan kekuatan militer yang diajukan ke Kongres.

 


(luc/luc)
Saksikan video di bawah ini:

Video: AS Batasi Ponsel Pasukan di Timur Tengah