Internasional

Fenomena Baru Korsel, Ramai Anak Muda Susah Cari Kerja-Ngungsi ke Sini

sef, CNBC Indonesia
Senin, 03/08/2026 16:35 WIB
Foto: Ilustrasi anak muda Korea Selatan (Korsel) (REUTERS/Kim Soo-hyeon)

Jakarta, CNBC Indonesia -Fenomena menarik terjadi di Asia Timur. Semakin banyak anak muda Korea Selatan (Korsel) memilih bekerja di Jepang, didorong sulitnya memperoleh pekerjaan di dalam negeri dan tingginya kebutuhan tenaga kerja di Negeri Sakura.

Laporan Reuters dikutip Senin (3/8/2026) menyebut tren tersebut semakin menguat dalam beberapa tahun terakhir. Jepang yang menghadapi krisis tenaga kerja akibat populasi menua mulai aktif merekrut lulusan baru asal Korea Selatan untuk mengisi berbagai posisi profesional.


Salah satu pihak yang melihat peluang ini adalah pengusaha Jepang, Moe Kasugai. Saat menjadi mahasiswa di Universitas Yonsei, Seoul, ia terkejut melihat banyak lulusan terbaik Korsel kesulitan memperoleh pekerjaan.

"Saya terkejut karena mereka sangat pintar tetapi sulit mendapatkan pekerjaan. Banyak yang bisa berbahasa Jepang, jadi saya berpikir mungkin mereka memiliki peluang lebih baik di Jepang," kata Kasugai.

Pada 2019, ia kemudian mendirikan startup KOREC yang mempertemukan pencari kerja Korea Selatan dengan perusahaan-perusahaan Jepang. Bulan lalu, perusahaan tersebut menggelar bursa kerja di Seoul yang dihadiri lebih dari 100 pencari kerja.

Sulit Cari Kerja dan Kurang Tenaga Kerja?

Sebenarnya, kondisi pasar tenaga kerja di kedua negara sangat berbeda. Di Korsel, perusahaan-perusahaan besar seperti Samsung kini lebih banyak merekrut pekerja berpengalaman dibanding lulusan baru.

Ini membuat kesempatan kerja bagi anak muda semakin terbatas. Data terbaru menunjukkan tingkat pengangguran usia muda di Korsel mencapai 7% pada Juni 2026.

Sebaliknya, Jepang justru mengalami kekurangan tenaga kerja akibat populasi yang menua. Banyak perusahaan membutuhkan lulusan baru untuk mengikuti program pelatihan kerja sebelum menjadi karyawan tetap.

Sebenarnya, tingkat pengangguran Jepang sendiri hanya sekitar 2,5%. Ini jauh lebih rendah dibanding Korsel.

Melihat peluang tersebut, sejumlah perusahaan perekrutan mulai membuka layanan khusus untuk menyalurkan talenta Korea ke Jepang. Tahun ini, Wanted Lab dari Korsel dan LAPRAS dari Jepang ikut memasuki pasar tersebut, menyusul perusahaan Jepang Mynavi yang lebih dulu beroperasi.

Datanya

Data Human Resources Development Service of Korea menunjukkan sebanyak 2.257 warga muda Korsel memperoleh pekerjaan di Jepang melalui program pemerintah sepanjang 2025. Jumlah itu melonjak 47% dibandingkan 2024 dan menjadikan Jepang sebagai tujuan utama bekerja di luar negeri sementara jumlah warga Korea yang memilih bekerja di Amerika Serikat (AS) justru turun 29%.

Mahasiswa Dongguk University, Kim Si-hyeon, mengatakan banyak pencari kerja Korea memang sudah lama tertarik tinggal di Jepang. Selain itu, perusahaan Jepang masih memberikan pelatihan kepada lulusan baru, sesuatu yang kini mulai jarang ditemukan di Korsel.

"Saya ingin bekerja di bidang teknologi informasi atau AI. Perusahaan Jepang masih mau merekrut lulusan baru dan melatih mereka," katanya.

Profesor Hankuk University of Foreign Studies, Lee Chang-min, mengatakan perusahaan Jepang sangat menyukai kandidat asal Korsel. Mereka dinilai memiliki kemampuan bahasa Jepang yang baik serta mudah beradaptasi secara budaya.

"Dari sisi bahasa dan budaya, kualitas kandidat Korea sangat tinggi. Tidak banyak pelamar asing yang mampu menggunakan bahasa Jepang pada level yang dibutuhkan untuk bekerja," ujarnya.

Tomoya Hattori, pimpinan perusahaan konsultan Jepang Energize, juga mengatakan dirinya lebih melihat kualitas kandidat dibanding kewarganegaraan. Kandidat bagus, tegasnya, lebih penting dari warga negara.

Tantangan Baru

Meski demikian, perusahaan Jepang juga menghadapi tantangan baru. Budaya kerja di Korsel yang lebih terbiasa berpindah pekerjaan demi kenaikan gaji dan jenjang karier berbeda dengan budaya kerja Jepang yang selama ini identik dengan loyalitas jangka panjang kepada satu perusahaan.

Pendiri KOREC, Moe Kasugai, mengakui kondisi tersebut menjadi tantangan bagi perusahaan Jepang. Namun menurutnya, generasi muda Jepang kini juga mulai lebih sering berpindah pekerjaan sehingga perusahaan diperkirakan akan semakin terbuka terhadap perubahan tersebut.

Di luar aspek ekonomi, Kasugai berharap semakin banyaknya warga Korea yang bekerja di Jepang juga dapat mempererat hubungan masyarakat kedua negara yang selama ini kerap diwarnai ketegangan. Keduanya punya sejarah cukup kelam terkait kolonial Jepang di Semenanjung Korea.


(sef/sef)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Geger Fresh Graduate Singapura Susah Cari Kerja