Luas Panen Susut, Produksi Padi Berpotensi Turun Sampai September 2026
Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan, potensi luas panen padi pada tiga bulan ke depan (Juli-September 2026) akan turun 1,26% dibanding periode yang sama tahun lalu, yakni menjadi 3,15 juta hektare.
Susutnya potensi luas panen ini menyebabkan produksi padi tiga bulan ke depan diperkirakan BPS juga akan turun, yakni menjadi 16,25 juta ton GKG (turun 0,90%), sementara produksi beras diperkirakan 9,36 juta ton (turun 0,88%).
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan, ramalan berdasarkan sistem kerangka sampel area ini tentu dapat berubah bergantung kondisi pertanaman padi selama tiga bulan ke depan.
"Bergantung pada kondisi pertanaman padi sepanjang Juli-September 2026, seperti ketika ada serangah hama atau organisme pengganggu tanaman, banjir, kekeringan, ataupun waktu relisasi panen petani yang berubah," ujar Ateng saat konferensi pers di kantor pusat BPS, Jakarta, Senin (3/8/2026).
Potensi merosotnya luas panen dan produksi padi ini berkebalikan dari realisasi luas panen padi pada Juni 2026 yang justru mencapai 0,84 juta hektare, atau meningkat 6,93% dibanding Juni 2025 yang seluas 0,79 juta hektare.
Seiring peningkatan luas panen, produksi padi diperkirakan meningkat 7,02%, dari 4,01 juta ton GKG pada Juni 2025 menjadi 4,29 juta ton GKG pada Juni 2026. Begitu pula jumlah produksi beras yang tercatat mencapai 2,47 juta ton, naik 6,96% dibanding Juni tahun lalu.
Secara kumulatif, realisasi luas panen padi selama Januari-Juni 2026 mencapai 6,31 juta hektare, atau naik 0,81% dibanding periode yang sama tahun lalu. Pada semester I 2026 ini, produksi padi mencapai 33,58 juta ton GKG (naik 0,46%), sementara produksi beras mencapai 19,35 juta ton (naik 0,45%).
"Jadi untuk produksi beras dari Juli-September 2026 diperkirakan sebesar 9,36 juta ton atau turun sebanyak 0,08 juta ton," tutur Ateng.
(arj/arj)