Dunia Dihantam Neraka Bolong, Sekjen PBB Beri Ramalan Mengerikan
Jakarta, CNBC Indonesia - Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperingatkan bahwa fenomena El Nino yang menguat dengan sangat cepat akan mendominasi pola cuaca global. Kondisi ini diperkirakan memicu cuaca ekstrem di berbagai belahan dunia.
Dalam pembaruan terbarunya yang dirilis Jumat, badan cuaca Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan bahwa fenomena iklim periodik tersebut meningkatkan risiko gelombang panas, kekeringan, dan banjir di seluruh dunia. Peringatan ini muncul ketika sejumlah negara di Afrika dan Eropa sedang menghadapi kebakaran hutan besar, sementara musim monsun menimbulkan kekacauan di berbagai wilayah Asia Selatan.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan El Nino tidak lagi menjadi ancaman yang akan datang, tetapi sudah berlangsung dan memperburuk kondisi global.
"El Nino bukan hanya berada di depan pintu kita, tetapi sudah berada di dalam rumah dan menaikkan suhu," kata Guterres, dikutip dari Al Jazeera, Sabtu (1/8/2026).
Ia menegaskan bahwa kondisi saat ini baru permulaan.
"Ini baru pemanasan. El Nino semakin menguat, menambah bahan bakar bagi planet yang sudah terbakar," ujarnya.
WMO memperkirakan suhu permukaan laut di wilayah Pasifik tengah akan melonjak lebih dari 2,9 derajat Celsius di atas normal. Pemanasan yang tidak biasa ini diperkirakan mengganggu sistem cuaca global dan mendorong lonjakan suhu di berbagai kawasan.
Guterres mendesak seluruh negara untuk mempercepat aksi iklim karena dampak El Nino kini bertemu dengan perubahan iklim yang disebabkan oleh aktivitas manusia. Ia secara khusus menyebut ekspansi penggunaan bahan bakar fosil sebagai faktor utama yang memperparah krisis iklim. Karena itu, Guterres menyerukan penghentian segera proyek-proyek baru batu bara, minyak, dan gas.
WMO memproyeksikan suhu di atas normal akan terjadi di hampir seluruh wilayah daratan dunia. Sinyal panas paling ekstrem diperkirakan melanda Afrika, Eropa Selatan, anak benua India, Asia Timur, dan Amerika Selatan.
Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo mengatakan bahwa meskipun El Nino terus dipantau secara ketat, peringatan dini harus diikuti dengan tindakan nyata dari pemerintah dan lembaga kemanusiaan untuk melindungi masyarakat yang rentan.
"Prakiraan itu sendiri tidak mencegah bahaya, manusialah yang melakukannya," kata Saulo.
"Keputusan yang kita ambil hari ini akan menentukan dampak yang kita alami besok," tambahnya.
Para ilmuwan memperingatkan bahwa El Nino tahun ini berpotensi mencapai intensitas rekor ketika mencapai puncaknya pada paruh kedua tahun ini. Namun, mereka menekankan bahwa proyeksi model komputer masih mengandung ketidakpastian.
(wur/wur)