MARKET DATA

Jaga Ketahanan Energi, RI Punya Segudang PR Besar

Teti Purwanti & Khoirul Anam,  CNBC Indonesia
31 July 2026 16:04
Executive Director, Institutional Banking Group Bank DBS Indonesia Ello Hanson, menyampaikan pemaparan dalam acara Coffee Morning dengan tema "Securing Indonesia Food Sovereignty through Value Chain and Financing Amid Global Disruption" di Parle Sena
Foto: Executive Director, Institutional Banking Group Bank DBS Indonesia Ello Hanson, menyampaikan pemaparan dalam acara Coffee Morning dengan tema "Securing Indonesia Food Sovereignty through Value Chain and Financing Amid Global Disruption" di Parle Senayan, Jakarta, Selasa (28/4/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kondisi geopolitik telah mengubah peta arus perdagangan global. Konflik, sanksi, dan kekhawatiran akan keamanan dapat dengan cepat memengaruhi akses ke energi, mineral kritis, peralatan, serta pasokan industri utama.

Kondisi tersebut membuat rantai pasok menjadi semakin terfragmentasi. Bahkan banyak pihak mengejar diversifikasi pemasok hingga sistem cadangan untuk menjaga ketahanan.

Berbagai gejolak yang terjadi di sektor energi tersebut tentunya juga turut berpengaruh pada dunia usaha, khususnya para pelaku industri.

Presiden Direktur Bank DBS Indonesia, Lim Chu Chong bahkan menyebut permintaan listrik diproyeksi bakal meningkat enam kali lipat, dari sekitar 300 terawatt menjadi lebih dari 1.800 terawatt pada 2060.

Menurut dia, untuk memenuhi permintaan di masa mendatang, dibutuhkan investasi skala besar. Termasuk 47.700 kilometer infrastruktur transmisi baru, kapasitas penyimpanan energi sebesar 10 gigawatt, dan investasi sektor ketenagalistrikan bernilai sekitar US$ 169 miliar.

"Meski memiliki potensi energi terbarukan, 81% energi Indonesia masih bergantung pada bahan bakar fosil. Ini menyoroti betapa sulitnya menyeimbangkan antara pertumbuhan, keterjangkauan, keandalan, dan dekarbonisasi," ungkap dia dalam CNBC Indonesia Coffee Morning "Managing Cost to Supply: Challenging Era for Energy, Resources, and Infrastructure Companies", Kamis (23/7/2026).

Tantangan Perusahaan Energi

Saat ini perusahaan energi di Indonesia dihadapkan pada tiga tantangan utama, yakni ketahanan pasokan, kesiapan investasi, dan pembangunan infrastruktur.

Menurut Chu Chong, perusahaan-perusahaan yang berhasil menghadapi tekanan saat ini bukan selalu yang memiliki biaya terendah, melainkan yang mampu membangun ketahanan operasional, energi, dan investasi sejak dini.

Ia menilai terdapat "resilience gap" yang semakin lebar antara perusahaan yang proaktif membangun ketahanan dengan perusahaan yang masih bersifat reaktif terhadap perubahan pasar.

Dia juga menjelaskan bahwa kondisi geopolitik tengah mengubah peta arus perdagangan global. Konflik, sanksi, dan kekhawatiran akan keamanan dapat dengan cepat memengaruhi akses ke energi, mineral kritis, peralatan, serta pasokan industri utama.

Tantangan lainnya yakni permodalan yang terjadi karena volatilitas komoditas mengubah perencanaan dan keputusan investasi.

"Harga energi, bahan baku, biaya pengiriman, hingga pergerakan nilai tukar mata uang dapat berubah sangat cepat, bahkan lebih cepat dari siklus penganggaran tradisional. Hal ini menciptakan ketidakpastian di seluruh operasional dan proyek modal," tutur Chu Chong.

Tak hanya itu, agenda transisi energi juga turut mengubah struktur pembiayaan sektor pertambangan. Ini terjadi karena agenda tersebut melahirkan peraturan baru, kebijakan karbon, teknologi, hingga dinamika ekonomi bahan bakar.

Sementara mengenai infrastruktur, ungkap Chu Chong, rantai pasok menjadi semakin terfragmentasi. Beberapa perusahaan saat ini mengejar diversifikasi pemasok hingga sistem cadangan untuk menjaga ketahanan.

"Tantangannya sekarang adalah memobilisasi modal dan mengamankan pasokan untuk mengubah peluang tersebut menjadi pertumbuhan yang berkelanjutan," tegas Chu Chong.

Penguatan Rantai Pasok Energi

Dari sisi regulator, Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno membeberkan bahwa rantai suplai bahan bakar minyak (BBM) saat ini masih dibayangi kendala. Hal ini mengingat konflik geopolitik yang masih memanas.

Apalagi sekarang, produksi BBM Indonesia masih bergantung pada pasokan luar negeri. Eddy memetakan beberapa kerentanan sektor energi Indonesia di tengah ketidakpastian situasi di Timur Tengah. Dia menyebutkan gangguan pada jalur distribusi global berdampak juga pada ketersediaan stok BBM untuk kebutuhan masyarakat dan industri nasional.

"Kemudian yang terakhir adalah disrupsi energy, disrupsi supply chain yang kita rasakan hari ini. Akibat adanya dinamika geopolitik di Timur Tengah," katanya dalam kesempatan yang sama.

Menurutnya, saat ini Indonesia mengimpor sekitar 20% kebutuhan minyak mentah dari Timur Tengah, namun ketergantungan terbesar terletak pada produk BBM. Dia mencatat sebanyak 70% pasokan BBM nasional didatangkan dari Singapura dan Malaysia, sehingga kendala yang terjadi pada negara pemasok tersebut berimbas langsung pada ketersediaan stok dalam negeri.

"Artinya apa? Ketika Singapura dan Malaysia terkendala untuk membeli krudnya dari Timur Tengah, tentu kita juga terkendala untuk menerima supply dari BBM kita," imbuhnya.

Volume kebutuhan BBM di Tanah Air tergolong sangat tinggi dengan permintaan Pertalite mencapai 33-34 juta kiloliter (kl) per tahun. Sementara itu, kebutuhan Solar berada di kisaran 19 juta kl per tahun, meskipun volumenya mulai terbantu oleh implementasi campuran bahan bakar nabati.

"Hari ini Pertalite kita kurang lebih 33-34 juta kl. Kemudian juga solar kita kurang lebih kebutuhannya 19 juta kl dan itu besar sekali," tambahnya.

Menurutnya, ketimpangan antara kapasitas produksi dan konsumsi harian menjadi pemicu utama tekanan pada ketersediaan BBM dalam negeri. Indonesia saat ini hanya mampu memproduksi minyak sekitar 600 ribu barel per hari (bph), padahal kebutuhan total untuk menggerakkan mobilitas ekonomi mencapai 1,6 juta bph.

Menjaga Tata Kelola Migas

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas (ASPERMIGAS) Elan Biantoro mengatakan bahwa tata kelola yang menjadi kunci pengelolaan migas di Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah (PR) bersama.

"Oleh karena itu, regulasi menjadi fundamental dari tata kelola. Setelah itu, produk turunan dari regulasi tersebut bisa dikeluarkan dalam bentuk kebijakan-kebijakan atau policy. Policy inilah tadi yang juga disampaikan bahwa konsistensi terhadap policy menjadi penting, tidak berubah-ubah," ungkap Elan.

Menurutnya, hal tersebut jadi penting agar pengelolaan sumber daya alam, khususnya minyak dan gas, yang selama ini masih menjadi tulang punggung energy supply di Indonesia tidak naik dan turun.

Di sisi lain, Waketum Bidang Hubungan Antar-Lembaga Himpunan Kawasan Industri (HKI) Indonesia, Didik Prasetiyono juga berharap adanya tata kelola dan regulasi yang pasti. Pasalnya saat ada muncul ketidakpastian, hal itulah yang tidak bisa dihitung oleh pengusaha.

Padahal menurutnya, untuk menciptakan investasi yang baik butuh kepastian serta kolaborasi antar-lembaga.

"Kita sedang membangun ekosistem dan daya saing. Untuk mendukung daya saing Indonesia harus bisa kompetitif, seperti bunga yang harus agar kumbang-kumbang datangi ke sini," jelas Didik.

Sementara itu, Wakil Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Taufik Aditiyawarman menjelaskan bahwa kolaborasi menjadi kata kunci dalam menjaga ketahanan energi nasional. Sebagai perusahaan yang bertugas menyediakan energi, baik fosil maupun biofuel, hingga ke seluruh pelosok negeri, tantangan utama yang dihadapi berada pada aspek distribusi dan infrastruktur.

"Karena itu, ruang kolaborasi dengan berbagai pihak masih terbuka untuk mendukung penguatan infrastruktur dan distribusi energi nasional, sehingga ketersediaan energi, baik di Jawa maupun di luar Jawa, dapat terus terjaga," ujar Taufik.

Menurutnya, ketahanan energi tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan pasokan, tetapi juga efisiensi dan kemampuannya memberikan dampak berganda bagi perekonomian. Di tengah berbagai tantangan global, Pertamina Patra Niaga berkomitmen untuk terus menjaga pasokan energi dan memenuhi kebutuhan masyarakat.

Bank DBS Indonesia Dampingi Nasabah Menavigasi Perubahan dan Menangkap Peluang

Bank DBS Indonesia berkomitmen untuk menjadi mitra tepercaya bagi nasabah dalam menavigasi berbagai tantangan sekaligus menangkap peluang pertumbuhan. Komitmen ini diwujudkan melalui pemahaman yang mendalam terhadap karakter bisnis dan kebutuhan tiap nasabah, hingga membagikan insights yang relevan dari para pakar, salah satunya melalui diskusi pada CNBC Coffee Morning.

Dengan pendekatan ini, Bank DBS Indonesia ingin memastikan setiap nasabah memiliki akses terhadap perspektif terkini, koneksi strategis, dan solusi yang dibutuhkan untuk mengambil keputusan bisnis secara lebih percaya diri di tengah lanskap ekonomi yang terus berubah.

 

(rah/rah) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Pertamina Patra Niaga Hadirkan Beragam Inovasi di PINDEX 2026


Most Popular
Features