Perusahaan di RI Makin Terjepit Dapat Tekanan Bertubi-tubi
Jakarta, CNBC Indonesia - Pengamat ekonomi dalam Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia mengungkapkan dampak dari kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) atau BI Rate membuat sektor riil semakin tertekan Alasannya, BI rate membuat tingkat bunga kredit perbankan semakin tinggi.
Direktur Riset Bidang Makroekonomi, Kebijakan Fiskal & Moneter CORE Indonesia Akbar Susamto mengatakan sektor riil sebelumnya sudah sangat tertekan karena kondisi global yang dilanda ketidakpastian, ditambah industri-industri juga semakin sulit bersaing karena permintaan rendah.
"Sektor riil itu sebelumnya sudah menghadapi banyak tekanan, mulai dari kenaikan biaya produksi karena ketidakpastian kondisi global, permintaan lesu karena sudah tidak ada momen-momen hari besar setelah April 2026, ditambah BI menaikkan suku bunga, semakin tertekan itu sektor riil," kata Akbar dalam forum Core Midyear Economic Review, Rabu (29/7/2026).
Alasan kenaikan BI Rate turut menambah tekanan ke sektor riil, menurutnya, yakni karena kenaikan BI Rate dapat menaikkan tingkat bunga kredit perbankan. Sedangkan sektor riil erat kaitannya dengan kredit perbankan, sehingga dengan kredit perbankan yang semakin tinggi, maka banyak pelaku usaha yang mulai menahan ekspansi.
"Ketika BI Rate dinaikkan, maka biasanya tingkat suku bunga di perbankan juga akan naik. Kalau tingkat suku bunga di perbankan naik, maka berarti bagi sektor riil, biaya untuk mendapatkan pendanaan itu menjadi lebih mahal. Karena lebih mahal mungkin sebagian merasa enggak mampu lagi menjangkaunya. Karena itu maka mungkin menunda pembelian. Nah, itu menekan sektor riil tadi," terang Akbar.
"Pengusaha, tadinya mau investasi, beli mesin, beli alat, beli macam-macam, beli barang-barang modal atau apapun yang lain gitu, atau mau investasi awal sebagian, ketika tingkat suku bunga naik, mereka jadi menahan, karena terasa terlalu mahal gitu. Apa yang terjadi? Tertunda investasinya dan seterusnya, ya ekspansi ditunda," lanjut Akbar.
Meski demikian, Akbar mengatakan dampak kenaikan suku bunga tidak terjadi secara langsung karena perbankan masih harus menyesuaikan kontrak pembiayaan yang berjalan serta menjaga hubungan dengan nasabah. Namun, berdasarkan pengalaman sebelumnya, kenaikan suku bunga pada akhirnya tetap diikuti perlambatan pertumbuhan kredit.
Tekanan terhadap sektor riil, lanjutnya, juga berpotensi memperbesar tantangan di pasar tenaga kerja. Menurut Akbar, persoalan ketenagakerjaan telah muncul sebelum kenaikan BI Rate akibat transformasi digital, efisiensi perusahaan, serta tekanan pada sejumlah sektor usaha.
"Sektor riil semakin tertekan, dan ini akan memberikan tekanan juga pada tenaga kerja di Indonesia. Memang data tingkat pengangguran di Februari 2026 menurun, yakni ke 4,68%, tetapi itu tidak mencerminkan fakta bahwa banyak tenaga kerja yang beralih dari sektor formal ke sektor informal," jelas Akbar.
Akbar menilai keputusan BI menaikkan suku bunga merupakan pilihan yang sulit karena harus menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar rupiah dan keberlangsungan aktivitas sektor riil.
"Bank Indonesia dihadapi posisi sulit, satu sisi perlu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, tetapi di sisi lain kenaikan suku bunga memberi tekanan terhadap sektor riil. Dampak ke depan sangat bergantung pada efektivitas kebijakan tersebut," ujar Akbar.
(chd/mij)