Internasional

Media Hong Kong Sorot Hubungan RI-China, Sebut Tantangan Ini

sef, CNBC Indonesia
Kamis, 30/07/2026 11:30 WIB
Foto: (REUTERS/CARLOS GARCIA RAWLINS)

Jakarta, CNBC Indonesia - Media Hong Kong China, South China Morning Post (SCMP), menyoroti hubungan Indonesia dan China. Dalam artikel berjudul "Can China and Indonesia's strong financial ties withstand 'resource nationalism?" dikatakan bagaimana kedua negara menikmati kerja sama ekonomi namun kebijakan RI soal pengelolaan sumber daya alam mulai menimbulkan tantangan bagi investor China.

Laman itu menyebut bagaimana hubungan ekonomi Jakarta-Beijing memasuki fase baru, ketika Indonesia berupaya mendapatkan nilai tambah lebih besar dari kekayaan mineralnya. Dikatakan Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto disebut tengah mendorong kebijakan hilirisasi agar Indonesia tidak hanya mengekspor bahan mentah, tetapi juga menghasilkan produk bernilai tambah tinggi.

Menurut SCMP, kedekatan ekonomi RI dan China menghadapi tantangan akibat kebijakan Indonesia yang semakin ketat dalam mengelola sumber daya alam. SCMP menyebut kebijakan ini sebagai bentuk meningkatnya "resource nationalism" atau nasionalisme sumber daya, yaitu upaya pemerintah memastikan keuntungan terbesar dari kekayaan alam dinikmati oleh ekonomi domestik.


Pemerintah Indonesia membatasi produksi nikel nasional 2026 menjadi sekitar 260 juta-270 juta ton, turun sekitar 30% dibandingkan tahun sebelumnya. Kebijakan tersebut berdampak pada sejumlah investor asing.

Operasi tambang nikel Weda Bay Nickel, salah satu tambang nikel terbesar dunia yang melibatkan Tsingshan, Eramet, dan Antam, sempat menghentikan produksi karena kuota produksi telah habis. Tsingshan sendiri adalah perusahaan China yang berpusat di Wenzhou, Zhejiang.

Meski begitu, tulisnya lagi, analis menilai langkah Indonesia bertujuan menjaga harga nikel serta meningkatkan penerimaan negara. Namun, kebijakan tersebut membuat sebagian investor China lebih berhati-hati.

"China tetap menjadi modal penting bagi pembangunan ekonomi Indonesia, dan pemerintah Indonesia juga memahami kenyataan tersebut," kata Hu Jie dari Shanghai Advanced Institute of Finance dimuat SCMP.

Meski demikian, media itu menyebut China tetap menjadi mitra dagang terbesar Indonesia selama 13 tahun berturut-turut dan termasuk tiga besar sumber investasi asing langsung dalam satu dekade terakhir. Pemerintah China juga menegaskan Indonesia tetap menjadi tujuan penting investasi di mana juru bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian mengatakan Jakarta telah berulang kali menyatakan kesiapan memperdalam kerja sama industri dan rantai pasok dengan Beijing.

Namun, menurut analis, masa depan hubungan ekonomi RI-China akan bergantung pada kemampuan perusahaan China beradaptasi dengan kebijakan Indonesia. Hubungan Indonesia-China pun diperkirakan akan terus berjalan erat, tetapi dengan dinamika baru di mana Beijing membawa modal dan teknologi sementara Jakarta semakin tegas ingin menguasai nilai tambah dari kekayaan alamnya sendiri.

"Perusahaan China harus berubah dari sekadar eksportir menjadi mitra pengembang bersama jika ingin sukses dalam jangka panjang," tulis Shanghai Academy of Social Sciences, tulis laman yang sama.


(sef/sef)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Indonesia Bergabung Menjadi Negara Pendiri Organisasi AI