Soal Tudingan MBG Banyak Ngabisin Anggaran Negara, Ini Kata Bos BGN
Jakarta, CNBC Indonesia - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono, membantah anggapan bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menghabiskan anggaran negara hingga mengorbankan program pembangunan lainnya. Menurutnya, berbagai program prioritas pemerintah tetap berjalan, mulai dari perbaikan sekolah, subsidi pupuk, hingga revitalisasi irigasi.
Sudaryono mengatakan, narasi yang menyebut anggaran negara habis untuk MBG tidak sesuai dengan fakta di lapangan. Ia pun mencontohkan di mana pemerintah tetap merenovasi puluhan ribu sekolah dan mengalokasikan anggaran untuk sektor lain.
"Ada semacam anggapan bahwa anggaran negara ini habis karena MBG. Pada kenyataannya, ada MBG, yang dulu pupuk tidak cukup, sekarang pupuknya cukup. Bahkan harganya didiskon 20%. Anda bisa cek di konten saya di sosial media dan beberapa media lain, sebelum saya jadi Kepala BGN," kata Sudaryono dalam konferensi pers di Kantor BGN, Jakarta, Rabu (29/7/2026).
Ia juga menyoroti peningkatan anggaran revitalisasi irigasi yang terus berlanjut meski pemerintah menjalankan program MBG.
"Dulu tidak ada namanya revitalisasi irigasi, ini ada revitalisasi irigasi karena saya dari Kementerian Pertanian ya. Irigasi direvitalisasi, tahun lalu Rp12 triliun, tahun ini Rp14 triliun, tahun depan ada lagi, dan terus-seterusnya. Sehingga irigasi beres," ujarnya.
Selain itu, Sudaryono mengungkapkan pemerintah juga tetap menjalankan program renovasi sekolah secara masif. Pada 2025, lebih dari 16 ribu sekolah telah diperbaiki dan tahun ini targetnya meningkat menjadi lebih dari 70 ribu sekolah, bahkan berpotensi mendekati 90 ribu sekolah.
"Terus terkait, ya saya tahu, kan saya seorang (dari) Grobogan.. ya, saya dihubungi banyak orang juga, begini ya, pemerintah ini tahun 2025 telah merenovasi 16 ribu lebih sekolah. Dan tahun ini yang mau direnovasi itu lebih dari 70 ribu, bahkan Pak Mendikdasmen pernah mengutarakan bisa jadi hampir 90 ribu sekolah. Yang itu langsung dari pemerintah pusat," tutur dia.
Pernyataan itu sekaligus merespons sorotan terhadap kondisi sebuah sekolah rusak di Grobogan yang berdekatan dengan dapur MBG. Menurut Sudaryono, membandingkan kondisi sekolah dengan bangunan dapur MBG tidak tepat karena keduanya berasal dari skema pembiayaan yang berbeda.
"Dulu nggak ada MBG, kan sekolah itu rusak bukan setelah ada MBG. Betul enggak? Kita objektif aja. Sekolah itu rusak, memang rusak sebelum ada program MBG. Ini sekarang oleh Presiden diperbaiki. Jadi sebetulnya cukup simpel, kalau ada sekolah rusak yang kamu temukan, itu cukup lapor. Ada portalnya di Dikdasmen, pasti diperbaiki. Ini kan masalahnya nggak fair ya. Sudah perbaiki 16.000, sekarang sudah perbaiki 70.000," ujarnya.
Sudaryono menilai narasi yang membandingkan sekolah rusak dengan dapur MBG justru menimbulkan kesan keliru di masyarakat.
"Begitu ada yang rusak, apalagi sebelahnya dapur MBG-nya mengkilat bersih, warnanya biru, bagus, terus dibanding-bandingkan. Ini sesuatu yang menurut saya adalah tidak fair. Tapi enggak apa-apa, itu bagian dari dinamika kita berdemokrasi, enggak ada masalah," kata Sudaryono.
Menurutnya, tugas BGN adalah memastikan dapur MBG memenuhi standar kebersihan, keamanan pangan, dan kualitas gizi agar berdampak pada kesehatan anak-anak.
"Yang jelas BGN, kita fokus pada tugas kita sebagai badan gizi, memastikan dapurnya bersih, higienis, aman, makanannya sesuai, bagus, bergizi, dan syukur-syukur harus enak, kemudian juga sesuai kandungan gizinya, dan disukai anak-anak, anak-anak habis makan, kemudian nanti impact dan juga outcome-nya anak-anak itu kemudian jadi bagus, terbebas dari stunting, kemudian pertumbuhan baik dan lain-lain. Untuk terkait sekolah yang rusak di Grobogan, saya kira bisa cek, sudah di-follow up," ujarnya.
Sudaryono pun mengajak masyarakat menyampaikan laporan apabila menemukan fasilitas pendidikan yang rusak tanpa perlu mengaitkannya dengan pembangunan dapur MBG.
"Saya ingin mengajak kita semua untuk tidak memperkeruh persoalan. Kalau Anda temukan sekolah rusak, ya sudah sekolah rusaknya difoto-foto, dilaporkan saja, dan tidak perlu kemudian dibandingkan dengan dapur MBG. Karena tidak nyambung, mohon maaf. Dapur MBG ini yang bangun adalah mitra, kemudian sudah ada skemanya. Sementara perbaikan sekolah ini dua hal yang berbeda. Jangan kemudian jadi seolah-olah ada dikontradiksikan. Itu, mohon maaf, itu tidak fair. Tapi tidak apa-apa," pungkas dia.
(wur) Add
source on Google