Pesawat Terbesar Dunia Jadi Mimpi Buruk, A380 Emirates Terjebak 17 Jam
Jakarta, CNBC Indonesia - Pesawat terbesar di dunia milik Emirates, Airbus A380, mengalami perjalanan yang berubah menjadi mimpi buruk. Ini setelah 373 penumpang terjebak selama berjam-jam di dalam kabin akibat rangkaian masalah teknis dan logistik di China.
Diberitakan Channel News Asia (CNA) yang mengutip South China Morning Post (SCMP), Rabu (29/7/2026), penerbangan Emirates EK302 dari Dubai menuju Shanghai pada 22 Juli 2026 awalnya berjalan normal. Namun, cuaca buruk disertai badai petir membuat pesawat tidak dapat mendarat di Bandara Internasional Shanghai Pudong.
Setelah tujuh jam mengudara, pesawat akhirnya dialihkan ke Bandara Internasional Hangzhou Xiaoshan. Kehadiran A380 di Hangzhou sempat menjadi tontonan langka karena bandara tersebut lebih sering melayani pesawat berbadan sempit.
Namun, situasi berubah kacau. Para penumpang harus bertahan di dalam pesawat selama berjam-jam karena proses imigrasi tidak segera dilakukan.
Emirates awalnya berharap pesawat bisa segera kembali ke Shanghai setelah cuaca membaik, sehingga prosedur kedatangan internasional di Hangzhou tidak perlu dimulai. Tetapi penantian berlangsung terlalu lama, bahkan hingga 17 jam.
Sebenarnya, aturan penerbangan membatasi durasi tugas awak pesawat dengan beberapa pilot hingga sekitar 14 jam. Karenanya, setelah lewat batas itu, pilot tidak diperbolehkan menerbangkan pesawat kembali demi alasan keselamatan.
Kondisi ini membuat Emirates harus mendatangkan kru pengganti dari Shanghai. Namun, hujan deras membuat perjalanan menuju Hangzhou berjalan lambat.
Masalah semakin memburuk ketika sistem pendingin udara A380 mulai kehilangan daya sekitar pukul 03.00 pagi. Suhu kabin meningkat dan sejumlah penumpang mulai panik.
Petugas keamanan serta ambulans bahkan dipanggil. Beberapa penumpang dilaporkan mengalami kondisi tidak nyaman.
Kru baru akhirnya tiba sekitar pukul 04.00 pagi dan berhasil menyalakan kembali mesin pesawat. Para penumpang sempat bersorak ketika prosedur keselamatan sebelum penerbangan dimulai.
Namun, harapan untuk segera terbang kembali pupus. Pemeriksaan lanjutan menemukan adanya masalah teknis lain pada pesawat raksasa tersebut.
Dua jam kemudian, hampir pukul 06.00 pagi, kapten pesawat mengumumkan bahwa penerbangan tidak dapat dilanjutkan dan seluruh penumpang harus turun dari pesawat.
Setelah 17 jam berada di dalam kabin, para penumpang akhirnya mendapat kamar hotel untuk beristirahat serta tiket bus dan kereta menuju Shanghai. Pesawat A380 tersebut baru kembali terbang ke Dubai pada 24 Juli, setelah tertahan selama dua hari di Hangzhou.
Picu Kritik
Insiden ini memicu kritik terhadap Emirates dan pengelola Bandara Hangzhou terkait komunikasi serta penanganan penumpang. Emirates kemudian menyampaikan permintaan maaf dan menyatakan akan menindaklanjuti keluhan para penumpang.
Maskapai asal Dubai itu menjelaskan bahwa keterlambatan panjang terjadi akibat kombinasi faktor. Mulai dari cuaca buruk, pergantian kru, hingga gangguan teknis pada pesawat.
Bagi Emirates, insiden ini menjadi pukulan reputasi karena Airbus A380 selama ini dikenal sebagai simbol kemewahan dan teknologi penerbangan modern. Namun kali ini, pesawat terbesar dunia justru terjebak dalam salah satu pengalaman penerbangan terburuk bagi para penumpangnya.
(sef/sef) Add
source on Google