Raksasa NATO Siapkan Perang Baru, Ancang-Ancang Bom Negara Ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Pemimpin transisi Niger, Jenderal Abdourahamane Tchiani, mengklaim bahwa dinas intelijen Prancis tengah mempersiapkan serangan ketiga yang menyasar bandara utama di ibu kota Niamey. Pernyataan tersebut disampaikan setelah fasilitas strategis itu menjadi sasaran dua gelombang serangan sepanjang tahun ini.
Mengutip laporan Russia Today, Senin (27/07/2026), tuduhan itu dilontarkan Tchiani dalam wawancara di stasiun TV pemerintah RTN untuk memperingati tiga tahun kekuasaan pemerintahan transisi sejak menggulingkan Presiden Mohamed Bazoum yang didukung Paris. Pemerintah Prancis mengecam kudeta Juli 2023 tersebut, menolak mengakui otoritas baru, dan menuntut pemulihan jabatan Bazoum.
"Serangan pada 18 Juni lalu bukanlah yang terakhir karena kami sudah melacak mereka, mengingat tujuan mereka belum tercapai. Intelijen Prancis saat ini sedang bekerja untuk mencoba melancarkan serangan ketiga," ungkap Pemimpin Transisi Niger Jenderal Abdourahamane Tchiani.
Tchiani menuding intelijen Prancis mengumpulkan, melatih, memfasilitasi, hingga memperlengkapi para militan dari kelompok Jama'at Nusrat al-Islam wal-Muslimin (JNIM) yang terafiliasi Al-Qaeda di balik penyerbuan bulan lalu. Prancis beserta dua negara tetangga, Benin dan Pantai Gading, secara tegas membantah tuduhan keterlibatan tersebut.
Dalam serangan pada 18 Juni lalu, kelompok bersenjata menyerbu Bandara Internasional Diori Hamani di Niamey hingga menewaskan 13 orang, termasuk 11 personel keamanan dan dua warga sipil. Aparat berhasil melumpuhkan sedikitnya 22 pelaku di lokasi serta menangkap sekitar 20 tersangka, di mana kelompok JNIM kemudian mengklaim bertanggung jawab.
Fasilitas bandara tersebut memegang peran vital karena turut menampung pangkalan udara militer serta markas besar gabungan pasukan Niger, Burkina Faso, dan Mali. Pangkalan ini sebelumnya sempat diserang pada Januari lalu oleh kelompok ISIS, di mana 20 militan tewas dan 11 orang ditangkap oleh otoritas setempat.
"Operasi bulan lalu sejatinya dirancang untuk menyerang secara serentak tiga titik utama, yakni bandara internasional, istana kepresidenan, dan pusat pelatihan perwira militer di Tondibia di pinggiran Niamey," jelas Tchiani membeberkan target penyerangan tersebut.
"Prancis berupaya menggambarkan bahwa kehadiran militer mereka sangat penting bagi keamanan Niger. Mereka ingin mencitrakan bahwa kepergian pasukan asing merupakan pemicu utama timbulnya instabilitas permanen di negara ini," tegas Tchiani mengaitkan aksi ini dengan penarikan 4.000 prajurit asing dari pangkalan Niamey.
Niger beserta negara tetangganya, Mali dan Burkina Faso, telah berjuang melawan kekerasan kelompok garis keras selama lebih dari satu dekade. Ketiga bekas koloni Prancis ini akhirnya membentuk Aliansi Negara-Negara Sahel (Alliance of Sahel States/AES) pada tahun 2023 untuk memutus hubungan pertahanan dengan Paris akibat dugaan agresi dan kegagalan Prancis menumpas militan.
"Negara-negara aliansi mengecam keras agresi pengecut dan perfida yang didukung oleh negara-negara sponsor asing terhadap kedaulatan wilayah kami," bunyi pernyataan bersama para pemimpin AES.
(tps/luc) Add
source on Google