Internasional

Trump Keluarkan Perintah Darurat, 17 Negara Bagian AS Terancam

sef, CNBC Indonesia
Senin, 27/07/2026 17:40 WIB
Foto: Amerika Serikat (IMAGN IMAGES via Reuters Connect/Bob DeChiara)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengeluarkan perintah darurat untuk mencegah pemadaman listrik bergilir (blackout). Ini akibat gelombang panas ekstrem yang melanda sebagian wilayah negara tersebut.

Departemen Energi AS pada Minggu memerintahkan operator jaringan listrik Southwest Power Pool (SPP) untuk mengoperasikan sumber pembangkit listrik cadangan yang selama ini tidak digunakan demi menjaga keandalan pasokan listrik. Perintah tersebut berlaku untuk wilayah yang mencakup sebagian dari 17 negara bagian dengan total sekitar 20 juta penduduk, membentang dari North Dakota hingga Louisiana.


Keputusan itu diambil setelah SPP memperingatkan bahwa kondisi darurat diperkirakan akan terus berlangsung pada jam-jam beban listrik tertinggi. Operator jaringan menilai sistem kelistrikan menghadapi tekanan akibat potensi gangguan pembangkit, menurunnya produksi listrik dari pembangkit tenaga angin, serta berkurangnya pasokan listrik dari jaringan tetangga.

Selain mengaktifkan pembangkit cadangan, Departemen Energi juga memberikan kewenangan kepada SPP untuk mengoperasikan seluruh sumber daya listrik darurat sebagai langkah terakhir sebelum menetapkan Energy Emergency Alert Level 3, yaitu status yang umumnya menjadi tahapan terakhir sebelum operator menerapkan pemadaman listrik bergilir. Departemen Energi menyatakan perintah darurat tersebut diterbitkan atas permintaan SPP.

"Pemerintahan Trump memanfaatkan pasokan pembangkit listrik cadangan yang melimpah untuk menjaga pasokan listrik tetap terjangkau, andal, dan aman bagi keluarga pekerja serta dunia usaha Amerika," ujar Menteri Energi AS Chris Wright dalam keterangannya, dikutip dari Reuters, Senin (27/7/2026).

Risiko Pemadaman Bergilir Meningkat

Ancaman pemadaman listrik bergilir meningkat dalam sepekan terakhir. Pada Jumat lalu, jaringan listrik SPP kehilangan pasokan listrik impor secara mendadak.

Kondisi itu membuat cadangan daya berada pada level yang sangat tipis di tengah meningkatnya risiko gangguan pembangkit dan menurunnya produksi energi terbarukan. Wilayah yang terdampak meliputi sebagian Arizona, Colorado, Montana, Nebraska, South Dakota, Wyoming, dan Utah.

SPP berhasil menghindari pemadaman dengan meminta masyarakat secara sukarela mengurangi konsumsi listrik untuk menjaga cadangan energi. Namun, operator memperkirakan permintaan listrik di wilayah barat akan mencapai puncaknya pada Minggu malam seiring suhu udara yang diperkirakan menembus 32 derajat Celsius.

Dalam kondisi normal, SPP merupakan pengekspor listrik bersih berkat kapasitas besar pembangkit listrik tenaga angin. Namun, gelombang panas yang meluas membuat wilayah tetangga juga mengalami lonjakan konsumsi listrik sehingga tidak mampu memasok tambahan energi ke jaringan SPP.

SPP menyatakan wilayah baratnya akan tetap berada dalam status Conservative Operations Advisory hingga 1 Agustus. Status tersebut diterapkan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gangguan keandalan sistem kelistrikan.

"Kawasan barat kami kemungkinan akan terus menghadapi peringatan operasional dan kondisi darurat energi, terutama pada periode ketika permintaan listrik pelanggan mencapai puncaknya," kata SPP.


(sef/sef) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Dirut PLN Menghadap Prabowo, Lapor Kondisi Listrik di Jawa Mulai Pulih