FOTO Internasional

Potret Sekolah Pengungsi di Ujung Tanduk, Intimidasi Memuncak

Reuters, CNBC Indonesia
Senin, 27/07/2026 21:50 WIB

Ujaran kebencian di Malaysia memaksa sedikitnya 9 sekolah Rohingya tutup. Banyak anak pengungsi kehilangan akses pendidikan karena takut intimidasi.

1/5 Para siswa di sebuah sekolah untuk pengungsi berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran di tengah lonjakan ujaran kebencian daring yang menargetkan komunitas Rohingya, di Kuala Lumpur, Malaysia, 13 Juli 2026. (REUTERS/Hasnoor Hussain)

Para siswa mengikuti kegiatan belajar di sebuah sekolah pengungsi Rohingya di Kuala Lumpur, Malaysia, di tengah meningkatnya ujaran kebencian dan misinformasi yang menyasar komunitas mereka. Gelombang sentimen negatif tersebut memaksa sedikitnya sembilan sekolah pengungsi menghentikan operasionalnya di berbagai wilayah, sehingga banyak anak Rohingya kehilangan akses pendidikan karena khawatir menjadi sasaran intimidasi dan kekerasan. (REUTERS/Hasnoor Hussain)

2/5 Para siswa di sebuah sekolah untuk pengungsi berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran di tengah lonjakan ujaran kebencian daring yang menargetkan komunitas Rohingya, di Kuala Lumpur, Malaysia, 13 Juli 2026. (REUTERS/Hasnoor Hussain)

Mengutip Reuters, Senin (27/7/2026), salah satu korban adalah Nur (12), seorang pengungsi Muslim Rohingya yang berhenti bersekolah sejak Juni setelah diancam dua pria saat berjalan menuju kelas. Kelompok hak asasi manusia dan para pendidik menyebut Nur hanyalah satu dari banyak anak Rohingya yang mengalami pelecehan dan ancaman hingga sekolah-sekolah pengungsi memutuskan menghentikan kegiatan belajar. (REUTERS/Hasnoor Hussain)

3/5 Para siswa di sebuah sekolah untuk pengungsi berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran di tengah lonjakan ujaran kebencian daring yang menargetkan komunitas Rohingya, di Kuala Lumpur, Malaysia, 13 Juli 2026. (REUTERS/Hasnoor Hussain)

Aktivis komunitas Rohingya, Sharifah Shakirah, mengatakan anak-anak kini hidup dalam ketakutan akibat meningkatnya intimidasi. "Anak-anak sangat ketakutan hingga mereka takut keluar rumah," ujarnya. Menurutnya, dampak dari ancaman tersebut tidak akan hilang dalam waktu singkat dan berpotensi mengganggu masa depan pendidikan para pengungsi. (REUTERS/Hasnoor Hussain)

4/5 Para siswa di sebuah sekolah untuk pengungsi berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran di tengah lonjakan ujaran kebencian daring yang menargetkan komunitas Rohingya, di Kuala Lumpur, Malaysia, 13 Juli 2026. (REUTERS/Hasnoor Hussain)

Pemeriksaan Reuters menunjukkan sedikitnya sembilan sekolah Rohingya di seluruh Malaysia telah ditutup setelah kampanye ujaran kebencian dan misinformasi di media sosial memicu pengawasan lebih ketat terhadap komunitas Rohingya. Kondisi ini juga memunculkan kekhawatiran mengenai lemahnya pengawasan terhadap penyebaran konten di platform digital. (REUTERS/Hasnoor Hussain)

5/5 Para siswa di sebuah sekolah untuk pengungsi berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran di tengah lonjakan ujaran kebencian daring yang menargetkan komunitas Rohingya, di Kuala Lumpur, Malaysia, 13 Juli 2026. (REUTERS/Hasnoor Hussain)

Malaysia tidak mengakui Rohingya sebagai pengungsi resmi dan menganggap mereka imigran ilegal, meski sekitar 120.000 terdaftar di Badan Pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNHCR). Sentimen publik memburuk sejak pandemi Covid-19 akibat berbagai tuduhan terhadap Rohingya. Pekan lalu, Wakil Menteri Luar Negeri Lukanisman Awang Sauni menyebut masyarakat mulai merasa terbebani. (REUTERS/Hasnoor Hussain)

Add as a preferred
source on Google