Diam-diam Iran Jual Minyak Senilai Rp322,59 T Selama Perang dengan AS

Verda Nano Setiawan , CNBC Indonesia
Minggu, 26/07/2026 18:52 WIB
Foto: Fasilitas Minyak di Pulau Kharg, Iran. (Tangkapan Layar Video Reuters/2026 PLANET LABS PBC / GOOGLE EARTH / WANA)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Perminyakan Iran Mohsen Paknejad mengatakan negaranya telah menjual minyak mentah senilai US$ 11,5 miliar selama perang dengan Amerika Serikat (AS).

Total minyak yang dijual itu belum termasuk tambahan US$ 6,5 miliar selama periode gencatan senjata, berdasarkan laporan Reuters.

Dengan begitu, selama periode konflik dengan AS, plus masa gencatan senjata berlangsung, setidaknya Iran masih mampu menjual minyak mentahnya hingga sebanyak US$ 18 miliar, atau setara Rp 322,59 triliun (kurs Rp17.922/US$).


"Menurut Paknejad, penjualan tersebut menghasilkan lebih dari 60% dari pendapatan minyak yang diproyeksikan dalam anggaran tahunan Iran," sebagaimana tertulis dalam laporan Reuters, dikutip Minggu (26/7/2026).

Penjualan minyak itu terjadi ketika risiko yang lebih rendah terhadap lalu lintas kapal tanker membantu meningkatkan ekspor dan memungkinkan penjualan sebagian dari sekitar 100 juta barel minyak mentah dan kondensat gas yang disimpan.

Pada Jumat (24/7/2026), Iran juga telah menandatangani perjanjian energi senilai US$ 4 miliar dengan perusahaan-perusahaan Rusia, menurut laporan Aljazeera.

Paknejad mengatakan kesepakatan itu bertujuan untuk mengembangkan tujuh ladang minyak Iran bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan Rusia.

Menteri Perminyakan Iran, Mohsen Paknejad. (Dok. president.ir) Foto: (Dok. president.ir)

Pada Kamis, Paknejad bertemu dengan Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak, orang kepercayaan Putin dalam hubungan dengan Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) .

Pertemuan tersebut berlangsung ketika beberapa anggota OPEC+, kelompok yang terdiri dari OPEC dan sekutunya yang dipimpin oleh Rusia, menyarankan agar kelompok tersebut meningkatkan produksi minyak pada bulan Juni untuk bulan kedua berturut-turut.

Usulan kenaikan tersebut menggarisbawahi memburuknya perselisihan antar anggota mengenai kepatuhan terhadap kuota produksi.

Hal ini juga menyusul seruan dari Presiden AS Donald Trump agar OPEC menurunkan harga minyak dan kembalinya ia ke kebijakan "tekanan maksimum" terhadap Iran, yang ekspor minyaknya ingin dikurangi Washington hingga nol.

Meski begitu, Iran dan Rusia pada Jumat lalu juga mengumumkan bahwa Moskow mungkin akan memasok 1,8 miliar meter kubik (bcm) gas alam ke Teheran tahun ini dengan harga yang belum disepakati.

Paknejad mengatakan kesepakatan itu belum difinalisasi tetapi negara-negara tersebut sedang berupaya untuk mencapai kesepakatan sesegera mungkin, dengan perusahaan Rusia Gazprom sebagai pelaksananya.


(arj/arj) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Harga Minyak Masuk Zona Gelap, Dunia Dibuat Bingung