Iran Menggila Usai Khamenei Dimakamkan, Langsung Bom Target Militer AS
Jakarta, CNBC Indonesia - Iran mengklaim langsung melancarkan serangan terhadap sejumlah target militer Amerika Serikat (AS) di kawasan Teluk hanya beberapa jam setelah prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Aksi tersebut menandai kembali memanasnya konflik setelah gencatan senjata yang sempat bertahan selama tiga pekan runtuh.
Militer Iran menyebut serangan itu sebagai balasan atas operasi militer AS di wilayahnya. Dalam pernyataannya, Teheran mengklaim telah menyerang sistem pertahanan udara Patriot AS di Kuwait, lokasi peringatan dini di Qatar, depot bahan bakar Angkatan Darat AS di Bahrain, hingga pangkalan militer Azraq di Yordania.
Garda Revolusi Iran memperingatkan Washington agar tidak kembali melakukan intervensi militer. "Intervensi AS lebih lanjut akan memicu tanggapan yang menghancurkan," demikian pernyataan Garda Revolusi Iran, seperti dikutip Reuters, Jumat (10/7/2026).
Sementara itu, prosesi pemakaman Khamenei berlangsung di Mashhad dan dihadiri lautan massa yang memenuhi kompleks makam. Sejumlah pelayat membawa spanduk bernada anti-Amerika, termasuk bertuliskan "Kami Akan Membunuh Trump". Khamenei dilaporkan tewas dalam serangan udara pada hari pertama perang, 28 Februari, dalam operasi gabungan AS dan Israel yang memicu konflik berkepanjangan.
Di sisi lain, seorang pejabat AS mengatakan Washington tidak melancarkan serangan baru dalam beberapa jam terakhir. Meski demikian, sebelumnya Komando Pusat AS (CENTCOM) mengumumkan telah menggempur sekitar 90 target militer Iran, termasuk sistem pertahanan udara, fasilitas pengawasan pantai, serta lokasi penyimpanan rudal dan drone.
Presiden AS Donald Trump mengatakan operasi tersebut merupakan respons atas serangan Iran terhadap kapal-kapal di kawasan.
"Ini sebagai pembalasan atas pemboman kapal kemarin oleh Iran. Jika terjadi lagi, akan jauh lebih buruk!" tulis Trump di Truth Social, seperti dikutip Reuters, Jumat (10/7/2026).
Di saat yang sama, media Iran melaporkan serangkaian ledakan di sejumlah wilayah selatan negara itu, termasuk Bushehr yang menjadi lokasi pembangkit listrik tenaga nuklir buatan Rusia. Seorang pejabat setempat mengatakan sebuah proyektil AS menghantam area perimeter fasilitas tersebut, meski tidak disebutkan adanya kerusakan pada instalasi utama.
Iran kemudian mengklaim telah menembakkan 10 rudal balistik ke pangkalan Azraq di Yordania yang digunakan pasukan AS serta pusat kendali militer Amerika di Timur Tengah. Kuwait menyatakan berhasil menghadapi satu rudal jelajah, tiga rudal balistik, dan 10 drone yang memasuki wilayah udaranya. Satu orang dilaporkan terluka akibat pecahan proyektil, sementara Yordania mengatakan delapan rudal berhasil dicegat tanpa menimbulkan korban maupun kerusakan.
Di tengah meningkatnya ketegangan, Garda Revolusi Iran menyatakan lalu lintas kapal di Selat Hormuz mulai pulih hingga sekitar 50% dibandingkan sebelum perang. Namun, Teheran menegaskan hanya kapal yang mengikuti rute yang ditetapkan Iran yang diizinkan melintas. Negosiator utama Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menegaskan, "Selat Hormuz hanya akan dibuka kembali berdasarkan kesepakatan Iran, bukan melalui ancaman AS."
Qatar, Turki, dan Oman pun kembali menyerukan penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi guna mencegah eskalasi yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.
(tfa/tfa) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]