Di RI Ada 13 Lokasi Megathrust, Kepala BMKG Kasih Peringatan Keras
Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali mengingatkan masyarakat agar tidak lengah terhadap ancaman gempa bumi besar yang berpotensi terjadi di Indonesia. Peringatan ini muncul di tengah tren peningkatan aktivitas kegempaan dalam beberapa tahun terakhir serta keberadaan sejumlah zona megathrust yang hingga kini masih menyimpan akumulasi energi.
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat aktivitas tektonik tertinggi di dunia. Selain berada di pertemuan tiga lempeng utama dunia, Indonesia juga memiliki banyak sumber gempa aktif yang berpotensi memicu gempa besar dan tsunami.
Mengutip paparan BMKG, Indonesia berada di pertemuan tiga lempeng utama dunia, yakni Indo-Australia, Pasifik, dan Eurasia. Kondisi tersebut membuat wilayah Indonesia memiliki belasan segmen megathrust serta ratusan sesar aktif yang menjadi sumber gempa bumi.
"Kejadian gempa bumi di Indonesia mengalami lonjakan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir ini menunjukkan adanya peningkatan aktivitas kegempaan yang perlu kita waspadai," tegas Dwikorita.
Menurut Dwikorita, data BMKG menunjukkan rata-rata kejadian gempa pada periode 1990-2008 sekitar 2.254 kejadian per tahun. Angka itu meningkat menjadi sekitar 5.389 kejadian pada periode 2009-2017. Memasuki 2018 dan 2019 jumlahnya melonjak hingga lebih dari 11.000 kejadian setiap tahun.
Bahkan pada 2024, BMKG mencatat sebanyak 29.869 kejadian gempa, sementara jumlah sensor pemantauan relatif tidak jauh berbeda dibandingkan tahun sebelumnya.
"Aktivitas kegempaan yang termonitor BMKG mengalami lompatan. Berdasarkan data aktivitas data gempa jangka panjang, ada pola kejadian gempa di Indonesia terus meningkat setiap tahun," katanya.
Dwikorita menegaskan lonjakan jumlah gempa tersebut bukan semata-mata karena bertambahnya alat pemantau.
"Mulai tahun 2020 alatnya bertambah jadi sekitar 300-an lebih, ternyata kejadian gempa malah menurun. Ini mematahkan dugaan peningkatan itu karena jumlah alatnya bertambah. Jadi mungkin tektoniknya saat itu menurun," kata dia.
"Kemudian semakin ditambah sampai tahun 2023, juga nggak naik-naik kejadiannya, meski masih di atas 11.000. Artinya bukan karena alatnya ditambah lalu jumlah gempanya meningkat, nggak," tukasnya.
Sementara itu, Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono menjelaskan Indonesia memang berada dalam kondisi tektonik yang sangat kompleks sehingga memiliki banyak sumber gempa.
"Indonesia berada di pertemuan 3 lempeng utama dunia. Yaitu Indo Australia, Pasifik, dan Eurasia. Dampaknya, Indonesia memiliki 13 segmen megathrust, yaitu sumber gempa yang mampu memicu gempa besar," katanya.
"Tak hanya itu. Terdapat 295 segmen sesar aktif yang sudah teridentifikasi. Namun, masih banyak lagi yang belum teridentifikasi. Kondisi itu menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara rawan gempa," ujar Daryono.
Ia menambahkan Indonesia mendapat tekanan dari berbagai arah sehingga aktivitas kegempaannya sangat tinggi.
"Dari Selatan ditekan Australia, ditekan Lempeng Laut Pasifik, Laut Filipina, dan juga aspek tektonik escape dari Indo China yang menekan Indonesia. Karena India itu menekan ke Utara, maka Indo China itu menekan kita. Jadi Indonesia itu terkepung dari berbagai arah, sehingga sumber gempanya banyak," papar Daryono.
Mengacu pada Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2017, terdapat 13 segmen megathrust yang mengancam wilayah Indonesia. Segmen tersebut meliputi Mentawai-Pagai dengan potensi gempa magnitudo 8,9, Enggano (M8,4), Selat Sunda (M8,7), Jawa Barat-Jawa Tengah (M8,7), Jawa Timur (M8,7), Sumba (M8,5), Aceh-Andaman (M9,2), Nias-Simeulue (M8,7), Batu (M7,8), Mentawai-Siberut (M8,9), Sulawesi Utara (M8,5), Filipina (M8,2), serta Papua (M8,7).
Daryono menegaskan kekhawatiran terhadap potensi gempa besar bukan tanpa alasan. Menurutnya, kondisi yang terjadi di Jepang juga menjadi pengingat bahwa zona megathrust yang lama tidak melepaskan energi tetap harus diwaspadai.
"Rilis gempa di kedua segmen megathrust ini boleh dikata 'tinggal menunggu waktu'. Karena kedua wilayah tersebut sudah ratusan tahun belum terjadi gempa besar," kata Daryono.
Meski demikian, ia memastikan gempa besar yang terjadi di Megathrust Nankai, Jepang, tidak akan memicu perubahan sistem lempeng tektonik di Indonesia karena jaraknya sangat jauh.
"Jika kekhawatiran akan terjadinya gempa yang disampaikan para ahli Jepang tersebut menjadi kenyataan, tentu saja akan terjadi gempa dahsyat yang tidak saja berdampak merusak, tetapi juga akan memicu tsunami," ujar Daryono.
"Pertanyaannya, jika gempa dahsyat itu terjadi apakah ada efeknya terhadap lempeng-lempeng tektonik yang ada di Indonesia? Jawabnya, jika terjadi gempa besar di Megathrust Nankai, dipastikan deformasi batuan skala besar yang terjadi tidak akan berdampak terhadap sistem lempeng tektonik di wilayah Indonesia. Karena jaraknya yang sangat jauh, dan biasanya dinamika tektonik yang terjadi hanya berskala lokal hingga regional pada sistem Tunjaman Nankai," paparnya.
BMKG sendiri terus memperkuat upaya mitigasi dengan menambah jaringan sensor seismograf, menyusun pemodelan guncangan gempa dan tsunami di berbagai wilayah, serta meningkatkan sistem peringatan dini dan edukasi kepada masyarakat.
"Kami dalam rangka persiapan melakukan skenario model guncangan gempa megathrust Selat Sunda. Ini kami sampaikan ke Pemerintah Daerah dan pihak terkait, agar bersiap. Juga kami lengkapi skenario ini dengan skenario model tsunami dengan ketinggian di atas 3 meter, bisa 10 meter lebih, belasan meter, bahkan 20 meter di Selat Sunda," beber Dwikorita.
"Sehingga, kami harus terus mewaspadai zona seismic gap yang ada di Selatan Banten dan Selat Sunda, sudah ada sejak tahun 1757 dan di Wilayah Mentawai-Siberut itu sudah sejak 1797. Sudah lebih 227 tahun. Sudah seharusnya kami bersiap untuk itu," ungkapnya.
(fsd/fsd) Add
source on Google