CLOSE AD
MARKET DATA

Purbaya Jamin BBM Subsidi Tak Naik Saat Minyak US$100 Lagi, Pertamax?

Robertus Adrianto,  CNBC Indonesia
24 July 2026 20:50
Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa saat ditemui wartawan usai sidang kanal debottlenecking, Kamis (23/7/2026). (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata)
Foto: Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa saat ditemui wartawan usai sidang kanal debottlenecking, Kamis (23/7/2026). (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kembali meroketnya harga minyak mentah dunia hingga kembali bertengger di level kisaran US$ 100 per barel tak akan membuat pemerintah melakukan penyesuaian terhadap harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi, seperti Pertalite ataupun Solar.

Hal ini ditegaskan oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, saat sebelum mengadakan pertemuan dengan direksi Pertamina di Gedung Juanda I, Kementerian Keuangan.

"Kalau yang subsidi akan kita jaga terus," kata Purbaya.

Sementara itu, untuk BBM non subsidi, seperti Pertamax maupun Pertamax Trubo, Purbaya tegaskan sepenuhnya merupakan keputusan PT Pertamina, untuk menetapkan harga sesuai mekanisme pasar.

"Kalau BBM non subsidi kan bukan urusan saya, suka-suka Pertamina itu ya," tegas Purbaya.

Sebagaimana diketahui, harga minyak dunia bergerak melemah pada perdagangan Jumat (24/7/2026) pagi setelah reli tajam sehari sebelumnya. Meski terkoreksi tipis, harga masih bertahan di level tinggi dan berada di jalur kenaikan mingguan dua digit di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan global.

Menurut data Refinitiv hingga pukul 09.15 WIB, harga Brent berada di US$100,25 per barel, turun 0,44% dibandingkan penutupan sebelumnya di US$100,69 per barel. Sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di US$91,71 per barel, melemah 0,52% dari posisi sehari sebelumnya di US$92,19 per barel.

Pelemahan pagi ini terjadi setelah lonjakan harga yang membawa Brent kembali ditutup di atas US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak Mei. Secara mingguan, Brent masih naik sekitar 13,5%, sedangkan WTI menguat sekitar 10,9%.

Reli minyak dipicu meningkatnya risiko gangguan pasokan dari dua jalur pelayaran energi paling vital di dunia. Ketegangan memuncak setelah kelompok Houthi yang didukung Iran mengaku menyerang dua kapal tanker Saudi di Laut Merah.

Serangan tersebut memicu kekhawatiran bahwa jalur Bab el-Mandeb, pintu masuk dari Laut Merah menuju Samudra Hindia, berpotensi ikut terganggu. Jalur ini merupakan koridor pengiriman minyak terpenting kedua di dunia setelah Selat Hormuz.

(arj/arj) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Purbaya Pede Harga Pertamax Bakal Turun, Ini Alasannya!


Most Popular
Features