Internasional

Survei Terbaru Bikin Kaget, Orang AS Tak Percaya Lagi Kapitalisme

tfa, CNBC Indonesia
Jumat, 24/07/2026 14:40 WIB
Foto: REUTERS/Ronen Zvulun

Jakarta, CNBC Indonesia - Kepercayaan masyarakat Amerika Serikat (AS) terhadap kapitalisme terus melemah, termasuk di kalangan pendukung Partai Republik. Temuan sejumlah survei terbaru menunjukkan semakin banyak warga menilai sistem ekonomi AS lebih menguntungkan kelompok kaya dibandingkan masyarakat umum, menjadi tantangan baru bagi strategi politik Presiden Donald Trump menjelang pemilu paruh waktu 2026.

Jajak pendapat Fox News menunjukkan citra kapitalisme turun tajam dalam beberapa tahun terakhir. Jika pada 2019 kapitalisme masih memperoleh penilaian positif bersih sebesar 30 poin (57% berbanding 27%), kini angkanya hanya tersisa empat poin, dengan 50% responden berpandangan positif dan 46% negatif. Survei yang sama juga menemukan 65% pemilih meyakini bahwa "sistem ini dicurangi untuk menguntungkan orang kaya."

Perubahan sikap paling mencolok justru terjadi di basis Partai Republik. Dukungan terhadap kapitalisme di kelompok ini turun dari 72% pada 2019 menjadi 61% saat ini. Sementara itu, persentase Republikan yang memiliki pandangan "sangat positif" terhadap kapitalisme merosot dari 54% menjadi 41%.


Sentimen bahwa sistem ekonomi berpihak kepada kalangan kaya juga semakin menguat di kubu konservatif. Jika pada 2018 hanya 30% pemilih Republik yang menganggap sistem ekonomi telah "dicurangi", kini angkanya meningkat menjadi 42%, menunjukkan meningkatnya kekecewaan terhadap kondisi ekonomi saat ini.

Tren tersebut diperkuat oleh sejumlah survei lain. Jajak pendapat Wall Street Journal-NORC pada Juni menemukan kurang dari separuh warga Amerika menilai kapitalisme bekerja dengan cukup baik, turun dari sekitar 60% satu dekade lalu. Sementara itu, survei Pew Research Center pada Januari menunjukkan 61% warga AS "sangat terganggu" karena merasa kelompok kaya tidak membayar pajak secara adil.

Survei Pew juga mencatat 60% responden menilai perusahaan-perusahaan besar tidak memberikan kontribusi pajak yang semestinya. Bahkan di kalangan pemilih yang cenderung mendukung Partai Republik, sebanyak 42% memiliki pandangan serupa.

Di sisi lain, citra perusahaan-perusahaan besar juga terus memburuk. Data Gallup menunjukkan persepsi publik terhadap bisnis besar berubah dari surplus positif 19 poin pada 2012 menjadi defisit 25 poin pada tahun lalu, mencerminkan meningkatnya ketidakpercayaan masyarakat terhadap korporasi besar.

Kondisi tersebut dinilai membuka ruang bagi politisi yang menawarkan perubahan besar terhadap sistem ekonomi, termasuk tokoh-tokoh berhaluan sosialis demokratik seperti Bernie Sanders maupun anggota Kongres Alexandria Ocasio-Cortez. Meski label sosialisme masih kurang populer di AS, keduanya tetap mampu meraih tingkat penerimaan publik yang relatif baik.

Komentator konservatif Meghan McCain bahkan menilai Partai Republik dapat menghadapi tantangan serius apabila Partai Demokrat mengusung kandidat yang mampu berbicara mengenai isu ekonomi seperti Wali Kota New York Zohran Mamdani.

"Nada dari apa yang dia katakan sangat brilian," tulis McCain di media sosial X. Menurutnya, meski ia menolak sosialisme, cara penyampaian pesan ekonomi seperti itu dapat menarik perhatian banyak pemilih.

Temuan-temuan tersebut mengindikasikan bahwa strategi Trump yang terus melabeli lawan politiknya sebagai "sosialis" atau "komunis" kemungkinan tidak lagi menjadi senjata politik yang seampuh sebelumnya. Isu ketidakadilan ekonomi dan menurunnya kepercayaan terhadap kapitalisme kini justru berpotensi menjadi perhatian utama pemilih Amerika.

 


(luc/luc) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Inflasi AS Meroket, Trump: Saya Suka Inflasi