Mobil Bensin Segera Tamat? Tanda Barunya Muncul di Thailand
Jakarta, CNBC Indonesia - Masa kejayaan mobil berbahan bakar bensin dan diesel tampaknya semakin mendekati akhir. Thailand, yang selama ini dikenal sebagai pusat industri otomotif terbesar di Asia Tenggara, tengah menyiapkan langkah besar untuk mempercepat transisi ke kendaraan listrik (electric vehicle/EV).
Pemerintah Thailand sedang mengkaji paket bantuan senilai 24 miliar baht atau sekitar US$714 juta (Rp11,6 triliun, kurs Rp16.300/US$) untuk mengganti hingga 80.000 kendaraan tua berbahan bakar minyak menjadi kendaraan listrik. Awalnya, program tersebut hanya menyasar kendaraan angkutan umum dan komersial seperti taksi, ojek motor, tuk-tuk, bus, hingga truk, namun kini diperluas ke seluruh kategori kendaraan listrik, termasuk mobil pribadi.
"Kami sedang mempertimbangkan apakah bantuan ini perlu diperluas ke semua kategori kendaraan, bukan hanya kendaraan transportasi umum," ujar Wakil Menteri Perhubungan Thailand Siripong Angkasakulkiat, dikutip dari Reuters, Jumat (24/7/2026).
Bentuk dukungan yang disiapkan pemerintah beragam, mulai dari subsidi pembelian, pinjaman berbunga rendah hingga insentif pajak bagi kendaraan yang memenuhi syarat penggantian berdasarkan usia. Langkah ini menjadi bagian dari strategi transisi energi sekaligus upaya menyelamatkan industri otomotif Thailand yang tengah mengalami tekanan.
Sebagai basis produksi otomotif terbesar di Asia Tenggara, Thailand menghadapi penurunan tajam penjualan kendaraan domestik. Pada 2024, penjualan mobil anjlok ke level terendah dalam 15 tahun akibat tingginya utang rumah tangga dan ketatnya penyaluran kredit, terutama untuk segmen pikap yang menjadi tulang punggung industri otomotif negara tersebut.
Data Federasi Industri Thailand menunjukkan penjualan mobil domestik sepanjang 2025 mencapai 621.166 unit, termasuk 120.301 mobil listrik penumpang. Selain itu, sekitar 1,7 juta sepeda motor juga terjual sepanjang tahun lalu.
Selama beberapa tahun terakhir, pemerintah Thailand gencar memberikan berbagai insentif untuk menarik investasi kendaraan listrik. Kebijakan tersebut berhasil menggaet investasi lebih dari US$4 miliar (sekitar Rp65,2 triliun), termasuk dari produsen otomotif asal China seperti BYD dan Great Wall Motor.
Namun, kebijakan insentif kendaraan listrik yang berlaku saat ini akan berakhir pada 2027. Pelaku industri pun mendesak pemerintah segera mengeluarkan skema baru agar momentum pertumbuhan kendaraan listrik tidak berhenti.
Juru bicara Klub Industri Otomotif Federasi Industri Thailand, Surapong Paisitpattanapong, mengatakan insentif baru sebaiknya difokuskan pada kendaraan listrik yang diproduksi di dalam negeri dengan kandungan komponen lokal yang tinggi. Menurutnya, semakin besar produksi kendaraan listrik lokal, semakin besar pula manfaat ekonomi yang diperoleh Thailand melalui penciptaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat, serta tambahan penerimaan pajak.
Selain itu, pemerintah juga mempertimbangkan bantuan khusus bagi pengemudi taksi yang harus mengganti armada berusia lebih dari 10 tahun mulai tahun depan. Melalui skema tersebut, cicilan kendaraan listrik diproyeksikan turun menjadi sekitar 500 baht per hari dari sebelumnya sekitar 700 baht per hari selama lima tahun.
Tak hanya mobil penumpang, pemerintah juga tengah menyusun insentif untuk kendaraan listrik jenis minibus, van, bus, tuk-tuk hingga kendaraan angkut berat. Bahkan Menteri Keuangan Thailand Ekniti Nitithanprapas mengungkapkan program tersebut juga akan mencakup penggantian mobil pikap menjadi kendaraan listrik maupun model yang mampu menggunakan biodiesel B20.
Jika terealisasi, langkah Thailand ini akan menjadi salah satu sinyal paling kuat bahwa era kendaraan berbahan bakar fosil di kawasan Asia Tenggara mulai bergeser menuju kendaraan listrik. Negara yang selama puluhan tahun dikenal sebagai "Detroit of Asia" kini justru mempercepat transformasi menuju industri otomotif berbasis energi bersih.
source on Google [Gambas:Video CNBC]