CLOSE AD
MARKET DATA

Pimpinan MPR Sebut Ada Migrasi Pengguna Pertamax Cs, Ini Alasannya

Firda Dwi Muliawati,  CNBC Indonesia
23 July 2026 21:20
Wakil Ketua MPR RI & Anggota Komisi XII DPR RI, Eddy Soeparno menyampaikan pemaparan dalam acara Coffe Morning di Parle Senayan, Jakarta, Kamis (23/7/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI menyoroti fenomena migrasi konsumen bahan bakar minyak (BBM) non subsidi jenis Pertamax ke BBM bersubsidi jenis Pertalite. Pergeseran konsumen tersebut dinilai akibat disparitas harga jual yang sangat tinggi.

Mengingat, harga jual BBM non subsidi mengikuti harga pasar yang berlaku saat ini. Sedangkan untuk BBM subsidi masih dibantu oleh anggaran negara agar menjaga daya beli masyarakat.

Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno membeberkan bahwa pergeseran konsumsi tersebut mengakibatkan penyaluran di tingkat SPBU meningkat drastis. Ia melihat antrean kendaraan mulai muncul di berbagai wilayah sebagai dampak langsung dari lonjakan permintaan BBM subsidi tersebut.

"Hari ini kalau kita lihat terjadi migrasi besar-besaran dari Pertamax ke Pertalite karena disparitas harga yang signifikan. Oleh karena itu Pak Taufiq (Direktur Utama Pertamina Patra Niaga) dan teman-teman agak pontang-panting kerjanya, kerjanya luar biasa sekarang. Dan terjadi antrian di beberapa SPBU yang kita bisa saksikan," katanya dalam Coffee Morning CNBC Indonesia, Kamis (23/7/2026).

Dalam catatannya, lonjakan harga minyak mentah dunia jenis Brent yang kini menyentuh angka US$ 96 per barel menjadi faktor utama pemicu penyesuaian harga pada produk BBM non subsidi Pertamax series. Konflik geopolitik di Timur Tengah yang belum stabil diperkirakan bakal terus mendorong harga minyak dunia hingga menembus angka triple digit.

"Hari ini Brent harganya sudah 96 dolar lagi. Jadi kita sudah menuju triple digit untuk harga minyak mentah ke depannya. Memang kita tidak bisa tahan juga ketika harga minyak mentah melonjak tinggi sehingga mengakibatkan Pertamax kemudian terpaksa disesuaikan," imbuhnya.

Selisih harga antara BBM subsidi dan non subsidi saat ini dinilai sangat kontras, di mana Pertalite masih dipatok pemerintah sebesar Rp 10.000 per liter. Padahal, nilai keekonomian atau harga asli dari produk Pertalite tersebut sudah menyentuh angka Rp 16.100 per liter berdasarkan perhitungan pasar.

"Kita beli Pertalite Rp 10.000 di mana pun Rp 10.000. Berapa nilai keekonomiannya? Rp 16.100 (per liter). Jadi bisa dibayangkan," tandasnya.

(pgr/pgr) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Bukan Rp16.250/Liter, Ahli Beberkan Harga Asli BBM Pertamax


Most Popular
Features