MARKET DATA

Ahli Ungkap Harga Keekonomian BBM Pertamax, Bukan Rp16.250 per Liter

Firda Dwi Muliawati,  CNBC Indonesia
12 June 2026 11:45
Sejumlah kendaraan mengisi Bahan Bakar Minyak (BBM) Pertamax di salah satu SPBU Pertamina di Jakarta, Rabu (10/6/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: Sejumlah kendaraan mengisi Bahan Bakar Minyak (BBM) Pertamax di salah satu SPBU Pertamina di Jakarta, Rabu (10/6/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - ReforMiner Institute menyoroti adanya selisih yang signifikan antara harga jual bahan bakar minyak (BBM) non subsidi jenis Pertamax saat ini dengan nilai keekonomian yang sebenarnya.

Kenaikan harga Pertamax di SPBU menjadi Rp16.250 per liter menurutnya belum mencerminkan beban biaya perolehan impor yang melonjak akibat pelemahan rupiah dan kenaikan harga minyak mentah dunia.

Founder ReforMiner Institute Pri Agung Rakhmanto menjelaskan bahwa deviasi harga minyak saat ini juga sudah jauh melampaui asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Ia menyebut pergerakan kurs rupiah yang menembus level Rp18.000 menjadi salah satu faktor penekan utama biaya pengadaan BBM di dalam negeri.

Maka harga keekonomian produk RON 92 tersebut idealnya berada di kisaran Rp 19.000 hingga Rp 21.000 per liter.

"Harga keekonomian kalau tidak disubsidi itu kan sebetulnya dengan posisi harga minyak seperti saat ini dan kurs rupiah itu kan mungkin sekarang ada di kisaran Rp 19.000 sampai Rp 21.000 (per liter) tuh. Jadi yang dijual Pertamina untuk RON 92 ini masih di bawah harga keekonomian," katanya kepada CNBC Indonesia, dikutip Jumat (12/6/2026).

"Terutama karena memang sejak perang itu ya sejak April itu harga minyaknya udah 40% di atas asumsi APBN. Jadi udah deviasinya harga minyaknya 40% lebih dari asumsi yang ditetapkan di APBN. Di situ kan pasti ada selisih yang harus ditanggung oleh pemerintah dan Pertamina," tambahnya.

Pertamina buka suara

Senada dengan itu, PT Pertamina Patra Niaga mengungkapkan bahwa harga keekonomian atau harga asli bahan bakar minyak (BBM) non subsidi jenis Pertamax (RON 92) saat ini sudah menembus level Rp 20.000 hingga Rp 21.000 per liter. Meskipun harga jual di SPBU resmi naik menjadi Rp 16.250 per liter per kemarin, Rabu (10/6/2026), nilai tersebut tercatat masih berada jauh di bawah harga pasar yang sebenarnya.

VP Commercial & Shipping Business Development Pertamina Patra Niaga Sigit Setiawan membeberkan adanya selisih yang lebar antara harga jual domestik dengan biaya perolehan impor akibat lonjakan harga minyak dunia.

Dia menegaskan bahwa perusahaan telah berupaya menahan harga jual dalam waktu yang cukup lama guna menjaga daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian geopolitik global.

"Pertamax RON 92 kebetulan di market itu karena kondisi geopolitik kemarin itu naik, RON 92 itu kalau di market itu udah harganya Rp20.000-an, Rp21.000. Dan kita masih tahan, masih berupaya menahan di Rp12.300," ujarnya dalam acara Sarasehan Energi DEN, di Kampus IPB Bogor, dikutip Jumat (12/6/2026).

Sigit menjelaskan bahwa penentuan harga BBM non-subsidi secara regulasi sejatinya mengikuti pergerakan harga pasar internasional. Pertamina memerlukan kemampuan finansial yang stabil agar dapat membeli kembali bahan baku BBM di pasar global dalam menjamin kecukupan volume stok untuk kebutuhan nasional.

Pihaknya menilai penyesuaian harga menjadi Rp 16.250 per liter merupakan langkah terukur setelah berkoordinasi dengan pemerintah. Perusahaan tidak ingin ketersediaan produk energi di masyarakat terus menurun akibat perusahaan menanggung kerugian yang terlalu besar pada produk BBM yang terjual.

Adapun, jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Thailand, harga bensin dengan spesifikasi serupa bahkan sudah menyentuh angka Rp 23.000 per liter. Pertamina menekankan bahwa kenaikan harga tersebut menjadi pesan bagi konsumen mengenai kondisi pasar energi dunia yang sedang mengalami tekanan hebat.

"Teman-teman bisa melihat di market internasional di tetangga sebelah negara lain itu RON 91, 92 itu di Rp 20.000, Rp 21.000. Jadi kita ingin memberikan message bahwa ini memang perlu naik kepada konsumen karena kondisinya memang harus kami pastikan terkait dengan ketersediaan suplai di pasar," tandasnya.

Berikut daftar harga BBM di SPBU Pertamina, berlaku mulai 10 Juni 2026:

Solar Subsidi Rp 6.800 per liter, tetap.

Pertalite Rp 10.000 per liter, tetap.

Pertamax (RON 92) Rp 16.250 per liter, naik dari sebelumnya Rp 12.300 per liter.

Pertamax Green 95 Rp 17.000 per liter, naik dari sebelumnya Rp 12.900 per liter.

Pertamax Turbo Rp 20.750 per liter, tetap.

Dexlite Rp 23.000 per liter, tetap.

Pertamina DEX Rp 24.800 liter, tetap.

(pgr/pgr) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Harga BBM Pertamax Cs Naik, Bahlil & Dirut Pertamina Buka Suara


Most Popular
Features