Internasional

Laba Hyundai Nyungsep 21%, Penjualan Lesu

sef, CNBC Indonesia
Kamis, 23/07/2026 15:20 WIB
Foto: (REUTERS/Kim Hong-Ji/Foto Arsip)

Jakarta, CNBC Indonesia - Produsen otomotif asal Korea Selatan (Korsel), Hyundai Motor, membukukan penurunan laba operasional sebesar 21% pada kuartal II-2026. Kinerja tersebut berada di bawah ekspektasi analis setelah penjualan kendaraan melemah, produksi terganggu, dan biaya operasional meningkat.

Mengutip Reuters, Kamis (23/7/2026), Hyundai mencatat laba operasional sebesar 2,9 triliun won atau sekitar US$1,98 miliar (sekitar Rp35,6 triliun, kurs Rp18.000/US$) pada periode April-Juni 2026. Angka tersebut turun dari 3,6 triliun won pada periode yang sama tahun lalu. Hasil tersebut juga lebih rendah dibandingkan proyeksi analis yang dihimpun LSEG SmartEstimate sebesar 3,2 triliun won.


Di sisi lain, pendapatan Hyundai masih tumbuh 2% secara tahunan menjadi 49,2 triliun won, meski pertumbuhan tersebut belum mampu mengimbangi tekanan terhadap profitabilitas perusahaan. Hyundai menyebut pelemahan penjualan kendaraan, gangguan produksi, serta kenaikan berbagai biaya menjadi faktor utama yang menekan laba.

Pelemahan nilai tukar won Korea memang memberikan sedikit dukungan terhadap pendapatan, namun tidak cukup untuk mengimbangi berbagai tekanan tersebut. Meski demikian, saham Hyundai justru naik sekitar 2% dalam perdagangan setelah laporan keuangan dirilis.

Ke depan, Hyundai memperkirakan ketidakpastian ekonomi global masih akan berlanjut. Persaingan di industri otomotif juga diperkirakan semakin ketat.

Kinerja Hyundai mencerminkan tantangan yang sedang dihadapi industri otomotif global. Produsen mobil kini harus menghadapi kenaikan harga energi dan bahan baku, gangguan rantai pasok akibat kebijakan tarif Amerika Serikat, serta dampak konflik yang masih berlangsung di Timur Tengah.

Hyundai bersama afiliasinya, Kia Corp, saat ini merupakan grup otomotif terbesar ketiga di dunia berdasarkan penjualan, setelah Toyota dan Volkswagen Group. Penurunan laba Hyundai menjadi sinyal bahwa tekanan ekonomi global mulai berdampak pada produsen otomotif besar, meski permintaan kendaraan listrik dan kendaraan ramah lingkungan masih terus berkembang di sejumlah pasar.


(sef/sef) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Korut 'Mesra' Dengan China Saat AS, Korsel, & Jepang Satukan Barisan