BI Rate Diramal Bisa Sampai 6,75%, Siap-Siap Bunga KPR Bakal Naik

Ferry Sandi, CNBC Indonesia
Rabu, 22/07/2026 14:45 WIB
Foto: (CNBC Indonesia/Ferry Sandi)

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF memproyeksikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) masih berpeluang naik hingga mencapai 6,75% pada akhir tahun. Kondisi tersebut diperkirakan akan berdampak pada kenaikan biaya dana (cost of fund), termasuk bunga kredit pemilikan rumah (KPR), sehingga menjadi tantangan bagi industri pembiayaan perumahan.

Chief Economist PT SMF Martin D. Siyaranamual mengatakan tekanan terhadap nilai tukar rupiah masih menjadi salah satu tantangan utama bagi perekonomian nasional. Di sisi lain, kebutuhan pembiayaan pemerintah tetap tinggi sehingga kebijakan moneter diperkirakan akan tetap ketat.

"Untuk mengurangi tekanan terhadap nilai tukar rupiah, Bank Indonesia harus mengambil posisi yang lebih agresif. Posisi yang agresif itu ditunjukkan dengan kenaikan BI Rate. Berdasarkan proyeksi kami, BI Rate pada akhir tahun bisa mencapai 6,75%. Skenario yang lebih moderat berada di kisaran 6,25%, tetapi kami melihat peluang mencapai 6,75% tetap ada," ujar Martin dalam konferensi pers SMF, Rabu (22/7/2026).


Prospek kenaikan suku bunga tersebut menjadi perhatian pelaku industri pembiayaan karena akan memengaruhi biaya penghimpunan dana. Kondisi itu dinilai akan berdampak langsung terhadap harga pembiayaan yang diterima masyarakat, termasuk kredit perumahan.

"Implikasinya adalah cost of fund naik. Rate KPR pasti lebih mahal. Permintaan rumah dan permintaan KPR juga akan tertekan. Ini menjadi tantangan bagi perjalanan bisnis PT SMF, tetapi kondisi tersebut memang sulit dihindari karena Bank Indonesia harus bersikap lebih agresif," katanya.

Tekanan tidak hanya datang dari kebijakan moneter, tetapi juga dari sisi fiskal. Menurutnya, pemerintah masih membutuhkan pendanaan yang besar di tengah tren penurunan cadangan devisa, sehingga penerbitan surat utang berpotensi meningkat dengan menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi.

"Kalau pemerintah ingin berutang lebih banyak, maka harus menawarkan imbal hasil yang lebih menarik. Akibatnya, yield surat utang negara mengalami kenaikan. SRBI juga naik. Implikasinya, seluruh lembaga pembiayaan akan menghadapi kenaikan cost of fund karena referensinya adalah surat utang negara," jelasnya.

Kondisi tersebut ikut dirasakan SMF sebagai lembaga pembiayaan sekunder perumahan yang rutin menghimpun dana melalui pasar obligasi. Kenaikan yield surat utang negara otomatis mendorong biaya penerbitan obligasi SMF ikut meningkat.

"SMF menerbitkan obligasi dengan mengacu pada yield surat utang negara. Jadi ketika yield surat utang negara naik, biaya pendanaan kami juga pasti ikut naik. Itu menjadi tantangan karena biaya dana menjadi lebih mahal," ujar Martin.

Meski menghadapi tekanan dari sisi pendanaan, sektor perumahan masih memiliki ruang untuk tumbuh. Menurutnya, strategi adaptasi menjadi kunci agar industri tetap mampu menjaga keberlanjutan bisnis di tengah kondisi ekonomi yang penuh tantangan.

"Yang terpenting bukan hanya melihat tantangannya, tetapi bagaimana mengambil posisi adaptif di tengah kondisi tersebut. Adaptif menjadi kunci untuk menjaga keberlangsungan bisnis di tengah tekanan yang masih akan berlangsung," ucap Martin.

Sementara itu, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 21-22 Juli 2026 memutuskan menahan BI-Rate di level 5,75%. Bersamaan dengan keputusan ini, BI menetapkan suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 4,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 6,50%.

Adapun, dengan keputusan menahan suku bunga acuan ini, Bank Indonesia (BI) mendorong kebijakan lain, yakni pemberian insentif guna mendorong arus modal asing ke pasar uang Indonesia dalam rangka tetap menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

"BI memperluas kebijakan insentif dan sejumlah kebijakan lain untuk meningkatkan aliran masuk portofolio asing dan memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah, mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas serta meningkatkan likuiditas," papar Gubernur BI Perry Warjiyo, dalam konferensi pers RDG Bulanan BI, Rabu (22/7/2026).


(dce) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

IHSG Bangkit, Tinggal Taklukkan 'Tembok Terakhir Menuju Fase Bullish