RI Kembangkan Hidrogen Tapi Harganya Masih Mahal, Ini Imbauan Bahlil

Verda Nano Setiawan, CNBC Indonesia
Rabu, 22/07/2026 11:00 WIB
Foto: Peresmian uji coba bus hidrogen, dalam acara Global Hydrogen Ecosystem Summit (GHES) 2026, di JCC, Jakarta. Selasa (21/7/2026). (CNBC Indonesia/Firda Dwi Muliawati)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengakui biaya produksi hidrogen saat ini masih lebih mahal, utamanya jika dibandingkan dengan sumber energi lainnya.

Oleh sebab itu, ia menilai pengembangan teknologi yang lebih efisien menjadi kunci agar hidrogen dapat bersaing dengan bahan bakar konvensional.

Menurut Bahlil, berdasarkan diskusinya dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), harga hidrogen masih berada di atas biaya penggunaan biodiesel B50 non-public service obligation (non-PSO).


"Non-PSO itu biaya industri itu kan kurang lebih sekitar Rp18.600. Kalau pakai bensin diesel itu bisa mencapai 1 liter itu 3,5 sampai 4 kilo. Kalau diumpamakan dengan hidrogen ini berapa energinya ternyata masih di atas daripada harga B50. Hidrogen masih agak lebih mahal," ujar Bahlil dalam acara Global Hydrogen Ecosystem Summit and Exhibition (GHES) 2026 di Jakarta, dikutip Rabu (22/7/2026).

Bahlil mengatakan kondisi tersebut menjadi tantangan bagi pemerintah, industri, dan lembaga riset untuk menghadirkan teknologi produksi hidrogen yang lebih efisien sehingga harganya semakin kompetitif.

"Nah Bapak Ibu semua ini adalah sebuah tantangan untuk kita semua dalam rangka bagaimana mendapatkan teknologi yang lebih efisien agar kompetitif," katanya.

Ia pun optimistis hidrogen akan menjadi semakin kompetitif di masa depan. Menurutnya, ketidakpastian geopolitik global dan semakin sulitnya menemukan cadangan minyak baru berpotensi mendorong kenaikan harga bahan bakar fosil, sehingga hidrogen akan memiliki daya saing yang lebih baik.

"Jadi menurut saya ini adalah sebuah langkah yang sangat penting. Memang tidak ada sesuatu yang gampang. Sesuatu yang baru itu pasti butuh tantangan tapi kalau ini sudah mampu kita menemukan teknologinya lebih efisien saya yakin ini akan jalan," katanya.


(pgr/pgr) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Nanik Deyang Mengundurkan Diri Dari Kepala BGN