CLOSE AD
MARKET DATA

RI Kembangkan Bahan Bakar Hidrogen, Berapa Harganya?

Firda Dwi Muliawati,  CNBC Indonesia
22 July 2026 13:25
Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang berhasil memproduksi hidrogen hijau (green hydrogen) berbasis panas bumi. Green hydrogen plant (GHP) pada pembangkit EBT ini akan memasok hidrogen hijau untuk Hydrogen Refueling Station (HRS) Se
Foto: Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang berhasil memproduksi hidrogen hijau (green hydrogen) berbasis panas bumi. Green hydrogen plant (GHP) pada pembangkit EBT ini akan memasok hidrogen hijau untuk Hydrogen Refueling Station (HRS) Senayan. (CNBC Indonesia/Verda Nano)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan bahwa biaya produksi bahan bakar hidrogen di Indonesia saat ini masih lebih tinggi dibandingkan jenis energi lainnya. Bahkan, harganya tercatat masih berada di atas nilai keekonomian biodiesel 50% (B50) yang saat ini menjadi salah satu andalan pemerintah dalam memangkas impor BBM.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjelaskan perbandingan harga tersebut sebagai tantangan utama dalam pengembangan ekosistem energi baru terbarukan. Bahlil membandingkan nilai keekonomian hidrogen dengan biaya produksi biodiesel 50% (B50) non-subsidi yang saat ini berada di kisaran Rp 18.600 per liter.

Berdasarkan hasil diskusi dengan tim riset, ia menyebut biaya energi yang dihasilkan dari hidrogen saat ini masih berada di atas harga bahan bakar nabati tersebut. Pihaknya akan terus berupaya mencari teknologi yang lebih efisien agar harga hidrogen di dalam negeri bisa lebih kompetitif bagi industri dan transportasi.

"Problemnya adalah hidrogen ini memang biayanya masih mahal dibandingkan dengan produk energi lain," ujar Bahlil dalam acara Global Hydrogen Ecosystem Summit and Exhibition (GHES) 2026 di Jakarta, dikutip Rabu (22/7/2026).

Menurutnya, meskipun hidrogen memiliki keunggulan sebagai energi bersih, biaya energinya masih belum mampu menekan angka di bawah harga B50.

"Berapa biaya selisih antara B50 non-PSO, non-PSO itu biaya industri itu kan kurang lebih sekitar Rp 18.600 (per liter). Kalau diumpamain dengan hidrogen ini berapa energinya ternyata masih di atas daripada harga B50. Hidrogen masih agak lebih mahal," paparnya.

Tingginya harga hidrogen saat ini dipandang sebagai konsekuensi dari teknologi yang masih dalam tahap pengembangan awal di tanah air. Namun, pihaknya meyakini dinamika geopolitik global yang membuat pasokan minyak mentah sulit didapat akan mendorong hidrogen menjadi pilihan yang lebih masuk akal dalam beberapa tahun ke depan.

"Tetapi keyakinan saya dengan perang terus terjadi dengan geopolitik yang tidak menentu dan tidak lagi gampang untuk kita mendapatkan minyak di blok-blok yang baru maka tidak akan lama lagi harga hidrogen akan jauh lebih kompetitif dengan sumber-sumber BBM minyak lainnya," tandasnya.

(pgr/pgr) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article RI Mau Garap Hidrogen, Bahlil Akui Harganya Masih Mahal


Most Popular
Features