11 Update Perang Timur Tengah: China-Rusia Bantu Iran Lawan AS
Jakarta, CNBC Indonesia - Eskalasi konflik militer antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dilaporkan kian membara dan meluas ke berbagai sektor strategis dalam 10 hari terakhir. Pasukan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran dilaporkan melancarkan gelombang serangan udara terbaru yang menargetkan fasilitas infrastruktur digital milik perusahaan teknologi global.
Mengutip laporan CNN International dan CNBC International, rabu (22/07/2026), pertempuran sengit yang dipicu oleh batalnya kesepakatan gencatan senjata ini kian mengancam stabilitas kawasan Teluk. Aksi saling gempur menggunakan rudal balistik dan drone tempur kini tidak hanya menyasar pangkalan militer dan kapal komersial, tetapi juga merembet pada ancaman penghancuran fasilitas nuklir bawah tanah serta kehancuran jalur pasokan energi dunia.
Berikut sejumlah perkembangan terbarunya:
Infrastruktur Amazon di Bahrain Dirudal
Pasukan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengeklaim telah meluncurkan gelombang serangan rudal jelajah yang menyasar pusat data perusahaan teknologi raksasa asal Amerika Serikat, Amazon, yang berlokasi di Bahrain. Berdasarkan pernyataan resmi yang disiarkan oleh media pemerintah Iran, Fars News Agency, serangan mendadak tersebut berhasil menghancurkan fasilitas infrastruktur data pusat milik Amazon di negara Teluk tersebut.
Aksi penyerangan terhadap fasilitas komersial digital ini menandai babak baru dalam eskalasi konflik yang kian tidak terkendali di kawasan Timur Tengah. Sektor teknologi secara masif terus terseret ke dalam garis depan pertempuran seiring berlanjutnya operasi militer antara pihak Washington dan Teheran.
"Menyerang infrastruktur data pusat perusahaan Amerika Amazon di Bahrain dengan beberapa rudal jelajah dan menghancurkannya," demikian pernyataan resmi IRGC yang disiarkan oleh Fars News Agency.
Sebelumnya pada bulan Maret lalu, berbagai layanan digital dan aplikasi di Uni Emirat Arab sempat mengalami kelumpuhan total menyusul serangan drone yang menghantam pusat data Amazon Web Services (AWS) di kawasan tersebut. Memasuki bulan April, IRGC bahkan secara terbuka melontarkan ancaman akan membidik jajaran raksasa teknologi AS lainnya yang memiliki operasional bisnis di Timur Tengah, termasuk Nvidia, Apple, Microsoft, dan Google.
Pihak CNBC International sendiri belum dapat memverifikasi secara independen terkait klaim tingkat kerusakan fasilitas tersebut dan telah mengajukan konfirmasi resmi kepada Pusat Komunikasi Nasional Bahrain serta manajemen Amazon. Kendati demikian, peristiwa ini semakin mempertegas bahaya nyata yang mengintai aset-aset ekonomi dan digital milik Barat di wilayah perbatasan Teluk.
Lalu Lintas Selat Hormuz Merosot Tajam
Aktivitas pelayaran komersial di sepanjang jalur perairan vital Selat Hormuz dilaporkan mengalami penurunan yang sangat drastis sejak pecahnya kembali pertempuran terbuka antara AS dan Iran. Berdasarkan analisis tim pakar Lloyd's, sebagian besar kapal tanker minyak yang nekat melintas kini terpaksa mematikan sistem transponder penerima sinyal mereka guna menghindari pelacakan radar dan serangan rudal.
Data intelijen perdagangan dari firma Kpler mencatat kondisi yang sangat memprihatinkan sepanjang akhir pekan lalu. Jumlah kapal yang terdeteksi melintasi Selat Hormuz dilaporkan hanya menyentuh angka 30 kapal. Angka pergerakan ini merosot tajam jika dibandingkan dengan periode sebelum serangan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari lalu, di mana perairan tersebut rutin dilintasi lebih dari 100 kapal setiap harinya.
"Kapal-kapal melintasi selat dengan transponder mereka dimatikan," tulis laporan tim analis Lloyd's mengenai taktik navigasi darurat di perairan Selat Hormuz.
Penurunan drastis lalu lintas kapal ini berbanding terbalik dengan klaim politik yang disampaikan oleh pihak pemerintah AS. Pemerintahan Donald Trump berulang kali menegaskan ke publik bahwa Selat Hormuz tetap beroperasi terbuka dan klaim bahwa jutaan barel minyak masih terus disalurkan ke pasar dunia di bawah pengawalan ketat armada militer AS.
Kondisi riil di lapangan menunjukkan bahwa ketakutan para pemilik kapal dan penyedia jasa asuransi maritim jauh lebih dominan dibanding jaminan keamanan militer. Ancaman nyata dari serangan rudal balistik serta kecelakaan laut berulang membuat Selat Hormuz kini menjadi salah satu kawasan paling berisiko tinggi bagi navigasi kapal komersial internasional.
Harga Minyak Dunia Melonjak Mendidih
Lumpuhnya aktivitas navigasi di Selat Hormuz memicu guncangan hebat pada stabilitas pasar energi global secara instan. Mengingat kawasan celah tersebut merupakan chokepoint energi paling krusial di dunia yang menyalurkan sekitar 20,3 juta barel minyak mentah per hari-atau setara 25% dari total perdagangan minyak jalur laut global-gangguan arus kapal langsung berimbas pada lonjakan harga.
Pasar merespons negatif eskalasi militer tersebut dengan mengerek harga minyak mentah acuan internasional, Brent, hingga melesat menembus level psikologis US$ 90 (Rp 1,62 juta) per barel pada perdagangan 20 Juli. Angka tersebut menjadi rekor tertinggi bagi Brent dalam kurun waktu lebih dari satu bulan terakhir, sementara harga minyak mentah berjangka AS (WTI) turut melonjak ke posisi resminya yang tertinggi pada hari yang sama.
"Dengan penyangga persediaan yang sangat tergerus, gangguan berlanjut hingga Agustus dapat memaksa produksi Teluk turun dan mengirim harga minyak mentah kembali ke tiga digit," tegas Pendiri sekaligus Direktur Riset Pasar Energy Aspects, Amrita Sen.
Kenaikan harga ini semakin dipicu oleh fakta bahwa hampir 90% dari total arus pasokan minyak mentah yang melintasi Selat Hormuz dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan mendesak pasar Asia, di mana China dan India bertindak sebagai pengimpor utama. Tersendatnya pengiriman energi ke kawasan Asia diprediksi bakal memicu efek domino terhadap laju inflasi global.
Pendiri sekaligus Direktur Riset Pasar Energy Aspects, Amrita Sen, memperingatkan bahwa cadangan minyak mentah dunia saat ini berada dalam kondisi yang sangat tergerus tipis. Jika gangguan lalu lintas kapal di kawasan Teluk terus berlanjut hingga Agustus mendatang, para produsen minyak di kawasan Teluk terpaksa memangkas tingkat produksi mereka, yang berpotensi mendorong balik harga minyak mentah dunia ke level tiga digit atau di atas US$ 100 per barel.
Houthi Tutup Akses Laut Merah
Langkah agresif kelompok milisi Houthi di Yaman yang mengumumkan embargo maritim secara sepihak terhadap Arab Saudi semakin memperburuk krisis pasokan energi dunia. Deklarasi blokade laut yang dinyatakan berlaku efektif secara instan tersebut mengancam akan mematikan rute pelarian utama bagi distribusi minyak mentah Timur Tengah.
Sejak ditutupnya jalur pelayaran Selat Hormuz akibat serangan Iran terhadap kapal-kapal tanker, pemerintah Arab Saudi mengalihkan jutaan barel minyak per hari melalui jalur pipa darat menuju terminal ekspor utama di Laut Merah. Pengalihan rute ekspor ini selama beberapa bulan terakhir menjadi katup penyelamat (relief valve) yang sangat krusial bagi ketersediaan minyak di pasar internasional.
"Menyatakan embargo maritim terhadap musuh kriminal Arab Saudi, berdasarkan persamaan 'mata ganti mata', yang berlaku segera," demikian bunyi deklarasi resmi angkatan bersenjata Houthi.
Namun, ancaman berulang dari kelompok Houthi untuk menutup total Selat Bab el-Mandeb berpotensi mengunci seluruh pasokan minyak ekspor milik Arab Saudi tersebut. Celah sempit Bab el-Mandeb merupakan titik tumpu utama bagi lalu lintas kapal komersial maupun pengangkutan minyak dari perairan Laut Merah menuju pasar global.
Jika Houthi benar-benar merealisasikan ancaman penutupan penuh Selat Bab el-Mandeb, jutaan barel pasokan minyak cadangan Saudi dipastikan terperangkap dan tidak dapat didistribusikan. Kondisi tersebut akan memperparah kelangkaan energi global yang sebelumnya telah terganggu akibat aksi penembakan tanker oleh militer Iran di Selat Hormuz.
Kilang Asia Alihkan Rute Pengiriman Minyak via Suez
Ancaman embargo maritim yang dilontarkan oleh kelompok Houthi di Yaman terhadap Arab Saudi memaksa para pengelola kilang minyak di kawasan Asia untuk mengambil keputusan taktis yang sangat drastis. Perusahaan-perusahaan kilang Asia kini mulai mengalihkan rute kapal tanker yang membawa minyak mentah dari pelabuhan Laut Merah milik Saudi untuk melintasi Terusan Suez dan mengelilingi Benua Afrika.
Pengalihan rute secara masif ini merupakan bentuk adaptasi paksa atas terganggunya arus pasokan minyak global akibat Perang AS-Israel melawan Iran. Risiko keamanan di perairan semakin nyata setelah dua kapal tanker yang membawa minyak mentah Saudi menuju pasar Asia mendadak memutuskan berbalik arah di Laut Merah pada hari Selasa usai menerima ancaman bahaya dari Houthi
"Perubahan perilaku oleh kapal tanker memberi tahu kita bahwa mereka menganggap ancaman tersebut secara serius," kata Direktur Riset Komoditas di Kpler, Matt Smith.
Para analis industri memperingatkan bahwa keputusan mengalihkan rute kapal dari Pelabuhan Yanbu menuju arah barat menembus Terusan Suez lalu memutar Tanjung Harapan di Afrika akan membengkakkan operasional secara luar biasa. Jalur memutar ini membutuhkan waktu tempuh ekstra hingga empat minggu lamanya serta melipatgandakan pengeluaran untuk bahan bakar kapal dan tarif freight.
Data pergerakan kapal dari LSEG menunjukkan kapal tanker Rodos berbendera Liberia yang memuat minyak mentah di Yanbu untuk tujuan India telah mengubah haluan ke arah barat menuju Terusan Suez. Sementara itu, kilang asal Korea Selatan Hyundai Oilbank dilaporkan tengah berburu kapal tanker raksasa (VLCC) untuk mengangkut minyak via rute pipa SUMED Mesir dan Terusan Suez guna menghindari ancaman penutupan total Selat Bab el-Mandeb di selatan Laut Merah.
Kemampuan Balas Dendam Iran
Meski telah digempur secara berturut-turut oleh gelombang serangan udara dari Komando Pusat AS (Centcom) selama sepuluh malam terakhir, militer Iran terbukti masih memiliki kapasitas pertahanan dan daya gempur balasan yang sangat mematikan. Teheran dinilai tetap memegang kendali penuh untuk menimpakan kerusakan fatal terhadap aset militer maupun ekonomi milik AS dan para sekutunya.
Serangan beruntun yang diluncurkan Iran terhadap armada kapal komersial terus membangkitkan kecemasan mendalam bagi komunitas maritim internasional. Korban terbaru dilaporkan menimpa sebuah kapal tanker yang dioperasikan oleh perusahaan pelayaran asal Yunani, Dynacom. Kapal tersebut dilaporkan mengalami kebakaran hebat setelah dihantam oleh proyektil tidak dikenal saat tengah berlayar di kawasan Selat Hormuz.
"Setiap kali Iran membunuh seorang Prajurit Amerika, mereka akan membayar pembunuhan itu berkali-kali lipat!" tegas Presiden AS Donald Trump merespons tewasnya prajurit militer Washington.
Di sisi lain, kemampuan artileri rudal dan drone tempur Iran terbukti belum sepenuhnya berhasil dilumpuhkan oleh jet-jet tempur AS. Rentetan serangan udara Iran ke berbagai fasilitas pangkalan militer yang menampung tentara AS di Timur Tengah dilaporkan kembali menewaskan tiga personel militer Amerika Serikat baru-baru ini.
Laporan jatuhnya korban jiwa di pihak militer Washington memicu amarah Presiden AS Donald Trump yang secara terbuka bersumpah bahwa Teheran akan membayar mahal atas kematian para prajuritnya. Trump menegaskan bahwa Selat Hormuz akan dijaga penuh dan tetap terbuka bagi seluruh aktivitas pelayaran dunia, kecuali bagi kapal-kapal yang mengibarkan bendera Iran.
Tidak Ada Opsi Diplomatik yang Mudah
Di tengah gemuruh pertempuran udara dan laut, upaya diplomasi untuk meredakan tensi tinggi terus diupayakan oleh para mediator regional. Negara seperti Qatar dan Pakistan dilaporkan telah menyodorkan proposal draf gencatan senjata selama 10 hari kepada pihak Washington dan Teheran, di saat pemerintah AS juga mulai bersiap menghadapi potensi skenario terburuk jika negosiasi tersebut gagal total.
Kondisi geopolitik di lapangan kian memanas seiring munculnya laporan intelijen yang menyebutkan bahwa pihak militer Israel tengah bersiap untuk memperluas jangkauan perang. Tel Aviv diproyeksikan bakal meluncurkan kampanye militer berskala besar dan terkoordinasi secara penuh dalam hitungan hari mendatang guna menggempur posisi-posisi strategis Iran.
"Iran mempertahankan daya tawar Hormuz 'seperti sakelar yang bisa dinyalakan dan dimatikan', dan gangguan bersamaan di Hormuz serta Selat Bab el-Mandeb akan menjadi bencana bagi ekonomi global," kata Senior Fellow Geopolitik dari Observer Research Foundation, Clemens Chay.
Chay menilai situasi saat ini telah berkembang menjadi siklus eskalasi yang kian meluas meski sempat coba dibatasi. Menurut analisisnya, pihak Washington berada dalam posisi serba salah dan "tidak memiliki opsi yang bagus" untuk keluar dari lingkaran konflik ini secara damai.
AS kini dihadapkan pada tiga pilihan pelik: bertahan dalam perang atrisi yang diulur oleh Iran, mengambil keputusan eskalasi militer skala besar meski menai pembangkangan dari negara-negara Arab di kawasan, atau memberikan konsesi politik yang signifikan kepada Teheran.
"Iran masih memegang sakelar kendali Selat Hormuz yang bisa dinyalakan dan dimatikan sewaktu-waktu, yang jika digabungkan dengan gangguan di Selat Bab el-Mandeb bakal mendatangkan bencana ekonomi global."
Menhan AS Beri Sinyal Serang Situs Nuklir
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth memilih bersikap hati-hati dan mengelak saat didesak oleh para anggota parlemen di Capitol Hill mengenai kemampuan riil militer Amerika Serikat untuk menghancurkan fasilitas nuklir bawah tanah Iran di Pegunungan Pickaxe. Isu ini mencuat tajam seiring laporan intelijen yang mengindikasikan bahwa Iran telah memindahkan cadangan uranium terayakan dan mesin sentrifugal canggih ke dalam kompleks tersebut.
Hegseth menegaskan bahwa sebagian besar rincian teknis mengenai kapasitas bom penghancur bunker milik AS masuk dalam kategori rahasia negara (classified). Kendati demikian, ia memberi sinyal kuat dengan menyatakan bahwa jika ada kekuatan militer di dunia yang sanggup menjangkau dan menghancurkan target yang terkubur paling dalam sekalipun, maka kekuatan itu tidak lain adalah militer Amerika Serikat.
"Banyak dari kemampuan kami dirahasiakan. Tetapi jika ada siapa pun di dunia yang bisa menjangkau apa pun ... itu adalah militer Amerika Serikat," ujar Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dalam kesaksiannya di Capitol Hill.
Situs Pegunungan Pickaxe yang berada di medan berbukit interior Iran diperkirakan oleh badan intelijen internasional tertanam jauh lebih dalam di bawah tanah dibandingkan fasilitas yang pernah dihantam AS dalam Operasi Midnight Hammer pada Juni 2025 lalu. Intelijen Israel meyakini tebing batu tersebut kini menyimpan hampir 1.000 pon uranium terayakan milik Iran.
Di sisi lain, sejumlah pakar non-proliferasi nuklir mendorong agar Presiden Trump segera mengambil langkah militer untuk melumpuhkan Pegunungan Pickaxe guna mencegah Iran menyelesaikan pembangunan situs tersebut. Namun, para ahli sains nuklir seperti James Acton dari Carnegie Endowment bersikap skeptis dan menilai serangan bom AS kemungkinan besar hanya sanggup meruntuhkan lorong pintu masuk pangkalan tanpa benar-benar menghancurkan fasilitas utama di dalamnya.
Iran Peringatkan AS Soal Serangan ke Situs Nuklir
Pemerintah militer Iran memberikan peringatan paling keras kepada Washington menyusul munculnya wacana penyerangan terhadap fasilitas-fasilitas vital milik Republik Islam tersebut. Melalui Markas Komando Pusat Khatam al-Anbiya, Iran secara tegas menyatakan bahwa setiap tindakan militer AS yang menyasar situs nuklir atau kawasan sensitif lainnya akan dipandang sebagai pemicu resminya perang skala penuh di seluruh kawasan.
Pernyataan keras dari komando gabungan angkatan bersenjata Iran tersebut dirilis menyusul statemen Presiden AS Donald Trump yang mengindikasikan bahwa militer Amerika Serikat akan meluncurkan serangan udara ke kawasan Pegunungan Pickaxe dalam waktu dekat. Lokasi tersebut merupakan kompleks bawah tanah terlindungi yang terletak satu mil di selatan fasilitas nuklir Natanz di Iran tengah.
"Amerika Serikat yang kriminal telah mengancam akan menyerang fasilitas nuklir Iran dan situs sensitif lainnya. Jika melangkah ke tahap seperti itu, kami akan menganggapnya sebagai perluasan perang di kawasan," tegas Markas Komando Pusat Khatam al-Anbiya.
Teheran sebelumnya telah mendaftarkan situs Pegunungan Pickaxe kepada Badan Energi Atom Internasional (IAEA) PBB pada tahun 2020 sebagai fasilitas masa depan untuk merakit sentrifugal pembuat bahan bakar nuklir. Langkah transparansi tersebut kini berubah menjadi titik panas pertikaian militer antara kedua negara.
Komando Khatam al-Anbiya menegaskan bahwa jika militer AS nekat melangkahi garis merah tersebut dan menggempur situs nuklir mereka, maka seluruh aset, pangkalan militer, serta kepentingan AS beserta negara-negara sekutunya di Timur Tengah dipastikan akan dijadikan target tembak utama dari serangan balasan dahsyat Angkatan Bersenjata Iran.
China dan Rusia Diduga Bantu Iran dalam Perang
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth membeberkan indikasi kuat keterlibatan pihak asing dalam mendukung operasi militer Iran selama perang melawan Amerika Serikat berlangsung. Dalam kesaksiannya di hadapan Komite Alokasi Anggaran Senat AS, Hegseth menyebut bahwa China dan Rusia bertindak pada "tingkat yang berbeda" dalam menyokong dan memfasilitasi berbagai aksi perlawanan Iran.
Pihak Pentagon enggan membeberkan rincian tingkat kedalaman bantuan dari Beijing dan Moskow tersebut dalam forum terbuka karena alasan kerahasiaan intelijen tinggi. Namun, laporan intelijen AS sebelumnya mengindikasikan bahwa China sempat bersiap untuk mengirimkan pasokan sistem pertahanan udara canggih terbaru untuk memperkuat benteng udara Teheran.
"Ada banyak cara untuk kita mencegah hal itu ... dan kedalaman serta sejauh mana hal itu terjadi harus tetap dirahasiakan. Namun ada cara-cara di mana kedua negara tersebut .... pada tingkat yang berbeda, memfasilitasi beberapa hal yang dilakukan Iran," beber Pete Hegseth di hadapan Komite Alokasi Anggaran Senat AS.
Sementara itu, Rusia diduga kuat memberikan bantuan teknis berupa transfer taktik pengoperasian drone tempur lanjutan yang dipelajari dari medan perang Ukraina. Taktik pertempuran nirawak tersebut diadaptasi oleh militer Iran untuk meningkatkan presisi serangan terhadap pangkalan militer AS dan aset negara-negara Teluk di Timur Tengah.
Saat dicecar pertanyaan senada oleh anggota Senat, Ketua Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine memilih menolak memberikan komentar rincian. Jenderal Caine menegaskan bahwa isu keterlibatan China dan Rusia dalam menyokong kekuatan militer Iran hanya dapat dibahas dalam ruang sidang tertutup khusus (classified setting).
Estimasi Biaya Perang Iran
Pemerintah Amerika Serikat dilaporkan telah menggelontorkan dana anggaran militer berskala raksasa demi membiayai operasi pertempuran melawan Iran. Menteri Pertahanan Pete Hegseth mengonfirmasi bahwa estimasi biaya yang telah dikeluarkan oleh pihak Washington hingga saat ini telah menembus angka fantastis, yakni mencapai US$ 37,5 miliar (Rp 675 triliun).
Pernyataan tersebut disampaikan Hegseth saat merespons pertanyaan sengit dari Senator Partai Demokrat Dick Durbin mengenai lonjakan beban anggaran negara pasca-batalnya kesepakatan gencatan senjata. Hegseth menjelaskan bahwa sebagian dari total dana US$ 37,5 miliar tersebut telah dialokasikan untuk mengover biaya logistik dan operasional pasukan di lapangan hingga akhir tahun fiskal berjalan.
"Beberapa dari US$ 37,5 miliar tersebut memperhitungkan pengeluaran, seperti makanan untuk para prajurit, hingga akhir tahun fiskal," terang Pete Hegseth menjawab pertanyaan anggaran perang di Senat.
Kendati demikian, sejumlah pengamat ekonomi dan pakar militer independen menilai bahwa angka resmi yang dirilis oleh pihak Pentagon tersebut masih jauh di bawah nilai kerugian riil di lapangan. Pembengkakan biaya dipastikan bakal melonjak drastis seiring dengan penggelaran armada kapal perang secara masif di perairan internasional.
Pengeluaran anggaran perang Amerika Serikat diproyeksikan akan terus membengkak tak terkendali jika eskalasi pertempuran meluas ke front baru. Kebutuhan pasokan amunisi mahal, penggantian sistem persenjataan yang rusak, hingga pengerahan ribuan personel tambahan ke kawasan Timur Tengah dipastikan akan membebani keuangan fiskal Washington secara signifikan.
(tps/tps) Add
source on Google