Internasional

288.000 Warga 'Kabur' ke Luar Negeri dalam Setahun Terakhir

sef, CNBC Indonesia
Selasa, 21/07/2026 16:50 WIB
Foto: Ilustrasi (REUTERS/Stringer)

Jakarta, CNBC Indonesia - Lebih dari 288.000 warga Jerman dilaporkan telah pindah ke luar negeri dalam kurun waktu setahun terakhir. Hal ini dikonfirmasi dari survei terbaru Kantor Statistik Federal Jerman (Destatis) akhir pekan kemarin.

Ditunjukkan bagaimana mereka yang pergi adalah pekerja profesional berketerampilan tinggi. Bahkan, sebagian besar tidak berharap untuk segera kembali.


Mengutip Euronews, Selasa (21/7/2026), sebenarnya ini tren sejak tahun 2020. Disebutkan jumlah pencarian untuk tawaran pekerjaan internasional telah meningkat lebih dari dua kali lipat.

"Rencana untuk pindah ke luar negeri sangat umum di kalangan mereka yang berpenghasilan tinggi," muat laman itu.

Lebih dari satu dari dua responden dengan pendapatan bersih rumah tangga minimal 6.000 euro (sekitar Rp114.600.000) mengatakan bahwa dalam 12 bulan terakhir, mereka telah melamar pekerjaan di luar negeri atau menjajaki pasar tenaga kerja internasional. Sementara dua pertiga responden mengatakan mereka umumnya mempertimbangkan untuk mengambil pekerjaan di luar negeri sedangkan sekitar 30% mengaku telah aktif mencari posisi atau mengirimkan lamaran.

"Dari mereka yang tertarik untuk pergi ke luar negeri, 77% ingin tinggal di luar Jerman selama beberapa tahun atau bahkan secara permanen," tambah laporan itu lagi.

Lebih rinci, menurut perusahaan pencarian lowongan kerja (Indeed), banyak calon emigran mayoritas pekerjaan kantoran di bidang pemasaran. Pekerjaan di bidang teknologi, perhotelan, dan logistik juga sangat diminati.

Survei juga meneliti apa yang mendorong orang untuk pergi. Dalam kasus di Jerman, karyawan menyebutkan prospek pendapatan yang lebih tinggi dan kualitas hidup yang lebih baik, sekitar 51% dalam setiap kasus.

Sekitar 42% juga berharap iklim yang lebih menyenangkan atau beban pajak dan iuran sosial yang lebih rendah di luar negeri. Sebaliknya, prospek karier dan promosi yang lebih baik menjadi faktor penentu bagi sebagian kecil responden, hanya 24%.

Ekonom pasar tenaga kerja di Indeed, Virginia Sodergeld melihat mobilitas internasional sebagai hal yang positif secara prinsip, karena pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh di luar negeri dapat memberikan dorongan untuk inovasi dan pengembangan peluang bisnis baru. Namun hal tersebut juga harus diwaspadai.

"Jika dua pertiga karyawan mempertimbangkan untuk pindah, itu juga harus dipahami sebagai tanda ketidakpuasan terhadap kondisi di Jerman sebagai tempat tinggal dan bekerja," tambahnya.

Di sisi lain, kepindahan warga ke luar negeri dari Jerman diyakini lebih karena beban pajak dan iuran sosial yang terlalu tinggi. Dari tiap 100 euro biaya tenaga kerja yang dikeluarkan pemberi upah untuk rata-rata karyawan lajang, pekerja di mampu Jerman hanya menyimpan sekitar setengahnya (50,70 euro bersih).

Sisanya digunakan untuk pajak penghasilan dan iuran jaminan sosial yang dibayarkan oleh karyawan dan majikan. Hal ini tercermin dalam hasil survei yang sama, di mana 70% responden percaya bahwa beban pajak di Jerman terlalu tinggi dibandingkan dengan pendapatan dan bahwa komitmen pribadi di tempat kerja tidak memberikan imbalan yang cukup.

Masih merujuk lama yang sama, banyak warga Jerman memutuskan mencari pekerjaan Amerika Serikat (AS), dengan 14,4%. Paman Sam masih tujuan terpopuler meski angkanya turun drastis dari tahun sebelumnya, yang mencapai 34%.

Inggris dan Swiss, menjadi pilihan kedua, dengan masing-masing menyumbang 13,6%. Australia menjadi pilihan ketiga dengan 10%.


(sef/sef) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Minta Pajak JHT 0%, Said Iqbal Ungkap Jawaban Purbaya