Ada Temuan Gas Jumbo, Pemerintah Prioritaskan Manfaat untuk Warga Aceh
Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah melakukan sosialisasi terkait rencana pengelolaan Wilayah Kerja (WK) South Andaman di perairan Aceh. Hal ini dilakukan guna memberikan pemahaman kepada masyarakat Aceh mengenai rencana pengembangan proyek gas jumbo tersebut.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman menegaskan bahwa fokus pemerintah saat ini adalah memperluas sosialisasi sebelum menuju ke tahapan berikutnya.
"Kita intinya sosialisasikan dulu secara lebih jauh apa yang akan dilakukan untuk memprioritaskan Aceh. Udah itu aja," kata Laode di Jakarta, Selasa (21/7/2026).
Menurut dia, sosialisasi sangat penting dilakukan karena selama ini muncul kekhawatiran di masyarakat Aceh mengenai sejauh mana masyarakat Aceh akan memperoleh manfaat dari pengelolaan gas raksasa tersebut.
"Jadi Gas Andaman ini kan sempat dianggap "Wah ini Aceh gimana nih kebagian atau tidak?" Nah ini kita mau mensosialisasikan, sore ini saya akan ketemu dengan Universitas, Rektor Universitas Malikussaleh. Kita mau membuat langkah-langkah sosialisasi yang baik agar masyarakat Aceh juga paham keberadaan ini untuk salah satunya prioritasnya untuk masyarakat Aceh," kata Laode.
Sementara itu, merespons terkait harapan masyarakat Aceh yang menginginkan gas dari South Andaman diolah di darat (onshore), Laode menyebut pihaknya akan mencari solusi yang menguntungkan semua pihak.
"Makanya kita pertemukan. Kita kan POD sudah ada seperti ini. Nah nanti kita jelaskan win-win solution-nya seperti apa. Seperti itu," tambahnya.
Sebelumnya, Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau Mualem telah melakukan pertemuan dengan Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Iklim Hashim Djojohadikusumo di Jakarta.
Menurut Mualem, pertemuan tersebut membahas berbagai isu strategis yang berkaitan dengan pembangunan serta masa depan Provinsi Aceh. Hal tersebut disampaikan oleh Mualem melalui unggahan di akun Instagram pribadinya.
"Bersilaturahmi dengan Hashim Djojohadikusumo, Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Iklim, di Jakarta. Dalam pertemuan ini, kami membahas berbagai hal strategis terkait pembangunan dan masa depan Aceh," ujar Mualem dikutip Senin (20/7/2026).
Blok Andaman
Perlu diketahui, Blok Andaman merupakan blok migas yang dikelola oleh perusahaan asal Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, yakni Mubadala Energy. Blok Andaman ini diperkirakan akan memproduksi gas sebesar 312 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) dan kondensat 7.500 barel per hari (bph).
Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menargetkan proyek gas di Blok Andaman mulai beroperasi penuh (onstream) pada tahun 2028. Target tersebut diproyeksikan lebih cepat dibandingkan dengan pengembangan Lapangan Abadi Blok Masela, Maluku.
Berdasarkan data paparan SKK Migas di DPR pada Mei 2026 lalu, berdasarkan Rencana Pengembangan atau Plan of Development (POD) Blok Andaman yang telah disusun, nilai investasi proyek tersebut diperkirakan mencapai US$ 1,95 miliar. Nilai tersebut juga memperhitungkan annual cost escalation sebesar 2,3% serta komponen pajak.
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto juga sempat menjelaskan bahwa pihaknya terus mengikuti tahapan Final Investment Decision (FID) agar konstruksi fasilitas produksi dapat segera dieksekusi dalam waktu dekat.
"Alhamdulilah, PJBG/GSA Antara K3S Mubadala dan PLN untuk gas Andaman 160 MMSCFD baru saja selesai diteken guna keperluan FID yang Insya Allah dalam waktu dekat ini FID selesai, rencana onstream 2028 lebih cepat dari Masela," ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (7/7/2026).
Nantinya, pasokan gas sebesar 160 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) tersebut akan dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan pembangkit listrik milik PT PLN (Persero). Sementara itu, sisa gas sebesar 140 MMSCFD dari Lapangan Tangkulo yang memiliki cadangan 1 Trillion Cubic Feet (TCF) saat ini masih dalam tahap pencarian calon pembeli serta pematangan konsep pengelolaan.
"Adapun pengembangan selanjutnya dari lapangan Selayar dan lapangan terdekat lainnya dengan total cadangan gas yg telah ditemukan sebesar 10 TCF," kata Djoko.
Pembangunan fasilitas di Blok Andaman dirancang menggunakan skema hibrida yang menggabungkan infrastruktur lepas pantai (offshore) dan daratan (onshore). Proses pemisahan kandungan gas, kondensat, serta unsur pengotor dilakukan menggunakan kapal FPSO di laut sebelum gas bersih dikirim ke darat melalui pipa bawah laut sepanjang 80 kilometer (km).
"Gas dari sumur-sumur offshore di Andaman tidak dapat langsung dibawa ke darat krn mengandung Co2 yang cukup tinggi dan juga H2S, yg sangat korosif, bisa membuat pipa cepat berkarat bocor dan rapuh sehingga co2 dan h2s nya harus dipisahkan terlebih dahulu," paparnya.
Sedangkan, fasilitas produksi di darat atau Onshore Receiving Facility (ORF) rencananya akan dibangun di kawasan KEK Arun, Lhokseumawe, dan telah mendapatkan izin persetujuan dari Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN). Blok Andaman saat ini dioperasikan oleh Mubadala Energy dengan kepemilikan hak partisipasi sebesar 80% dan Harbour Oil 20% menggunakan skema kontrak gross split.
"Mohon Doa dan dukungan Bapak Ibu, Insya Allah ke depan berjalan lancar aman dan selamat sesuai target waktu onstream 2028," tutupnya.
Sebagaimana diketahui, Mubadala Energy belum lama ini mengumumkan temuan sumber gas jumbo dari sumur eksplorasi laut dalam Tangkulo-1, yang dibor di Blok South Andaman berlokasi sekitar 65-kilometer lepas pantai bagian utara Pulau Sumatera, Indonesia.
Penemuan ini menandai sumur laut dalam kedua yang dioperasikan oleh Mubadala Energy. Sumur Tangkulo-1 dibor hingga kedalaman 3.400 meter di kedalaman laut 1.200 meter, hanya beberapa bulan setelah penemuan besar di sumur Layaran-1, yang masih berada di Blok South Andaman.
Dengan memanfaatkan desain terbaru Drill Stem Test (DST), sumur Tangkulo-1 sukses mengalirkan gas sebesar 47 juta standar kaki kubik per hari (mmscfd) berkualitas dan 1,300 barel kondensat.
Walaupun hasil pengujian terbatas karena fasilitas yang tersedia, namun kapasitas sumur diperkirakan mencapai 80-100 MMSCFD dan lebih dari 2,000 barel kondensat.
(ven/wia) Add
source on Google