Bahlil Beri Sinyal Harga BBM Non Subsidi Bisa Turun Bulan Depan
Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan adanya potensi penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi pada Agustus 2026.
Hal ini dikarenakan adanya tren penurunan harga minyak mentah selama Juni 2026.
Bahlil pun menyebut dirinya sudah meminta kepada badan usaha penyalur BBM, baik Pertamina maupun swasta segera melakukan penyesuaian harga BBM non subsidi.
Sementara untuk harga BBM bersubsidi, dia pun menegaskan tidak akan ada perubahan harga. Hal ini tak lain karena pemerintah sudah mengamankan pasokan minyak mentah dan BBM hingga akhir tahun.
"Tadi setelah saya melakukan rapat paripurna kabinet yang dipimpin oleh Bapak Presiden, kami melanjutkan pertemuan dengan Bapak Presiden. Saya melapor tentang kondisi BBM kita terkini, dan alhamdulillah semuanya di atas rata-rata standar minimum," tutur Bahlil saat ditemui usai Sidang Kabinet di Istana, Jakarta, Senin (20/7/2026) malam.
"Yang kedua, saya juga melaporkan tentang kerja sama kita dengan beberapa negara terkait dengan crude, BBM, alhamdulillah kita juga clear sampai dengan insya Allah akhir tahun enggak ada masalah. Sudah barang tentu kita juga memastikan bahwa kenaikan terhadap BBM subsidi insya Allah enggak ada kenaikan sama sekali," tegasnya.
"Bahkan ada berpotensi untuk beberapa jenis BBM yang ketika harga dunia akan turun, kita sudah mulai meminta kepada pengusaha badan usaha swasta termasuk Pertamina untuk segera melakukan penyesuaian," tandasnya.
Jadi, apakah artinya harga BBM Pertamax akan turun bulan depan?
Bahlil pun menjawab, "Kita akan melihat, saya sudah menghitung dan saya akan melakukan rapat dengan badan usaha dari Pertamina maupun beberapa badan usaha lain. Ketika harga minyak dunia turun, kita akan menyesuaikan. Karena kita teman-teman tahu kan bahwa kadang-kadang harga ICP hari ini naik, besok turun. Enggak sampai 2 hari naik lagi."
"Jadi dalam kondisi seperti ini kita mencari formulasi yang bijak, yang tidak memberatkan rakyat pengguna khususnya yang non-subsidi, ini kan totalnya 20%. Ini saudara-saudara kita yang mampu. Tapi juga kita tidak memberatkan pelaku usaha di sektor perminyakan. Ya, gitu ya," imbuhnya.
Seperti diketahui, penyesuaian harga BBM non subsidi biasa dilakukan setiap tanggal 1 setiap bulannya. Adapun untuk harga BBM Pertamax telah naik menjadi Rp 16.250 per liter sejak 10 Juni 2026. Kenaikan harga BBM Pertamax ini merupakan kenaikan perdana sejak harga minyak mentah dunia melejit akibat Perang Israel, Amerika Serikat dan Iran pada 28 Februari 2026 lalu.
Harga minyak mentah dunia Brent sempat melejit menjadi US$ 118 per barel pada 31 Maret 2026 lalu, lalu sempat turun dan naik lagi menjadi US$ 118 per barel pada 29 April 2026.
Namun sejak Juni 2026 tren harga minyak mentah mengalami penurunan di bawah US 100 per barel, ke level US$ 70-an per barel. Bahkan, pada awal Juli 2026, harga minyak Brent berada pada level US$ 68,55 per barel pada 6 Juli 2026 lalu.
Harga BBM biasanya ditentukan berdasarkan beberapa faktor, seperti harga minyak, Mean of Platts Singapore (MOPS) dan kurs rata-rata selama dua bulan sebelum periode bulan berjalan. Bila untuk penentuan harga BBM per 1 Agustus 2026, artinya harga BBM mengacu pada rata-rata ketiga faktor tersebut selama Juni-Juli 2026.
Harga Minyak Mentah ICP Turun
Kementerian ESDM menetapkan harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) pada Juni 2026 sebesar US$ 83,45 per barel. Angka ini mengalami penurunan dari ICP bulan sebelumnya yang dipatok sebesar US$ 106,56 per barel.
Penurunan harga minyak mentah acuan di pasar internasional antara lain dipengaruhi oleh meredanya ketegangan di Timur Tengah yang sebelumnya sempat memicu gejolak di pasar minyak dunia.
Seiring pulihnya jalur distribusi dan berangsur stabilnya pasokan global, harga minyak mentah Indonesia turut mengalami penurunan.
Penetapan ICP Juni tercantum dalam Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 282.K/MG.03/MEM.M/2026 tentang Harga Minyak Mentah Indonesia Bulan Juni 2026.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Laode Sulaeman mengatakan perkembangan geopolitik di Timur Tengah menjadi faktor utama yang menekan harga ICP selama Juni 2026.
"Angka ini mengalami penurunan signifikan sebesar US$22,50 per barel dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di level US$106,56 per barel. Penurunan ini secara umum dipengaruhi oleh tensi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang cenderung mereda sepanjang bulan Juni," kata Laode dalam keterangan tertulis, Senin (20/7/2026).
Selain meredanya ketegangan di Timur Tengah, gencatan senjata dan kesepakatan pembukaan kembali Selat Hormuz secara bertahap turut memengaruhi pasar. Pembukaan jalur tersebut memperlancar pasokan minyak dunia dan menekan harga di pasar internasional.
Harga minyak turut dipengaruhi faktor fundamental pasar. International Energy Agency (IEA) memproyeksikan permintaan minyak dunia tumbuh 1,1 juta barel per hari (bph), sementara OPEC+ kembali meningkatkan produksi.
Rusia berencana meningkatkan pasokan minyak untuk memenuhi target OPEC+ 2026. Kenaikan pasokan dan perlambatan permintaan menekan harga minyak dunia.
Secara rinci, perkembangan rata-rata harga minyak mentah utama pada Juni 2026 dibandingkan Mei 2026 adalah sebagai berikut:
- ICP minyak mentah Indonesia turun US$23,11 per barel, dari US$106,56 menjadi US$83,45 per barel.
- Brent di ICE turun US$18,73 per barel, dari US$103,71 menjadi US$84,98 per barel.
- WTI di Nymex turun US$16,11 per barel, dari US$98,51 menjadi US$82,41 per barel.
- Dated Brent turun US$21,42 per barel, dari US$107,55 menjadi US$86,13 per barel.
- Basket OPEC turun US$23,52 per barel, dari US$114,55 menjadi US$91,03 per barel berdasarkan data hingga 28 Juni 2026.
Untuk Juli 2026, pemerintah memproyeksikan ICP berada pada kisaran US$67 hingga US$71 per barel. Realisasi harga akan bergantung pada perkembangan pasar dan situasi geopolitik global.
Risiko yang masih perlu diperhatikan antara lain kemungkinan eskalasi serangan baru yang dapat mengganggu produksi minyak. Di sisi lain, peningkatan pasokan dari Timur Tengah setelah pembukaan Selat Hormuz berpotensi kembali menekan harga.
"Pemerintah terus memantau perkembangan pasar minyak internasional secara berkala guna memastikan kestabilan harga dan ketahanan energi nasional tetap terjaga dengan baik. Kami memastikan formula ICP tetap transparan mencerminkan dinamika pasar internasional agar tetap akuntabel bagi keuangan negara dan kegiatan usaha hulu migas," ujar Laode.
Pemerintah akan menjadikan perkembangan pasokan, permintaan, serta kondisi geopolitik sebagai dasar pemantauan ICP pada periode berikutnya. Perubahan ketiga faktor tersebut akan menentukan arah harga minyak mentah Indonesia sepanjang Juli 2026.
(wia) Add
source on Google