Siap-Siap! BBM RI Campur Etanol 10% E10 Jalan 2027

Emir Yanwardhana, CNBC Indonesia
Selasa, 21/07/2026 07:20 WIB
Foto: (Kiri-Kanan) Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN, Wihaji, Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia dan Menteri PKP, Maruarar Sirait saat menyampaikan keterangan kepada media di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (7/7/2026). (CNBC Indonesia/Emir Yanwardhana)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan rencana penerapan Bahan Bakar Minyak (BBM) bensin dengan campuran bioetanol sebesar 10% - 20% (E10-E20) di Indonesia. Bahlil menjelaskan hal ini akan diterapkan secara bertahap.

Kelak, penerapan BBM E10 akan diterapkan pada tahun 2027 mendatang, hingga kemudian dilanjutkan E20.

"E10 mungkin 2027, dan langsung ke E20 ya. Jadi goal-nya itu mungkin setelah perencanaannya selesai. jadi kita bertahap dulu, kita melakukan copy paste dari strategi yang dilakukan oleh B10, B20, B30, sampai sekarang B50," tutur Bahlil di Istana Negara, Senin (21/7/2026)


Bahlil menjelaskan kajian mandatory E20 itu sudah dilakukan sejak tahun 2025, dan hampir rampung. Dalam perencanaan baru akan diterapkan nanti pada tahun 2028 - 2029 mendatang.

"Kenapa? karena baru begitu etanol kita terapkan mandatory, maka kita bisa melakukan efisiensi atau penghematan terhadap impor BBM jadi untuk bensin. Tapi kita tidak kepingin begitu ktia terapkan E20 tapi etanolnya kita impor," kata Bahlil.

Untuk itu, menurut Ketua Umum Partai Golkar ini, pemerintah masih mau menyiapkan industri bioetanol terlebih dahulu. Rencananya penyiapan industri ini berlangsung 1 - 2 tahun mendatang dari bahan baku singkong, tebu, jagung, dan beberapa komoditas lainnya.

"Kita tidak ingin begitu kita terapkan E20 tapi etanolnya kita impor. Maka sekarang kita mempersiapkan industrinya terlebih dahulu," katanya.

Sebelumnya dalam, Panen Raya Serentak bersama TNI di Malang, Jawa Timur, Jumat (17/7/2026), Presiden Prabowo Subanto mau mempercepat pengembangan industri bioetanol. Untuk merealisasikan itu, pemerintah membutuhkan pembangunan puluhan pabrik bioetanol baru.

"Butuh pabrik, tadi pabriknya yang kita miliki baru 1 pabrik, tadi saya putuskan kita bangun minimal 30 pabrik. Kalau perlu sampai 50 pabrik," ucapnya.

Prabowo lantas membandingkan perkembangan penggunaan bioetanol di sejumlah negara. Menurutnya, India telah menerapkan E20, sementara Brasil bahkan telah menggunakan E100 atau bahan bakar berbasis etanol murni.


(pgr/pgr) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Purbaya Umumkan Panda Bond Pertama RI Terbit 23 Juli 2026