Usai Solar dari Sawit B50, Kini Prabowo Mau Gencarkan Bensin dari Tebu

Verda Nano Setiawan, CNBC Indonesia
Senin, 20/07/2026 19:25 WIB
Foto: Presiden Prabowo Subianto pimpin Panen Raya Serentak di Seluruh Indonesia Bersama TNI, 17 Juli 2026. (YouTube/Sekretariat Presiden)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah bakal mempercepat pengembangan bahan bakar berbasis bioetanol sebagai langkah lanjutan, terutama setelah Indonesia berhasil menerapkan mandatori Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Solar dengan campuran biodiesel berbasis minyak sawit sebesar 50% (B50).

Presiden Prabowo Subianto menargetkan Indonesia dapat mengejar India dan Brasil dalam pemanfaatan etanol sebagai campuran bensin. Hal tersebut disampaikan Prabowo saat memimpin Panen Raya Serentak di Seluruh Indonesia bersama TNI di Malang, Jawa Timur, Jumat (17/7/2026).

Adapun, sumber bahan baku bioetanol ini bisa berasal dari tetes tebu (molase), sorgum, singkong, aren, jagung dan lainnya.


"Kita berhasil menjadi negara pertama di dunia yang menghasilkan B50. Sekarang kita hasilkan Solar dari kelapa sawit, jadi dari mulai Juli ini kita tidak impor Solar lagi dari luar negeri," kata Prabowo pada saat acara Panen Raya tersebut.

Setelah sukses dengan B50, Prabowo kini ingin mempercepat pengembangan bioetanol untuk bensin. Ia mengatakan Indonesia telah memiliki kemampuan menuju penerapan E10 atau bensin dengan campuran 10% etanol, bahkan berpotensi langsung menuju E20 atau campuran bioetanol pada bensin sebesar 20%. Artinya, setiap 1 liter bensin mengandung 20% bioetanol.

Prabowo kemudian membandingkan perkembangan penggunaan bioetanol di sejumlah negara. Menurutnya, India telah menerapkan E20, sementara Brasil bahkan telah menggunakan E100 atau bahan bakar berbasis etanol murni.

"India sudah E20, India sudah E20, Brasil sudah E100. Masa Indonesia gak bisa, Indonesia bisa kan? bisa ? bisa," katanya.

Sementara itu, CEO Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) John Anis menegaskan pihaknya siap mendukung target pemerintah mempercepat pengembangan bioetanol.

"Jadi mungkin Bapak bertanya kenapa Pertamina ada di sini Pak, tapi Bapak lihat bahwa kami ingin berkontribusi di bioenergi Pak. Jadi kami juga ingin terima kasih Pak yang B50, selamat, kami juga punya cita-cita dan semangat yang sama untuk E20 Pak," kata John saat mendampingi Prabowo.

Ia mengungkapkan saat ini Indonesia baru menerapkan E5 secara terbatas di sekitar 170 SPBU Pertamina yang berada di Jawa Timur dan Jakarta. Sementara di India implementasinya sudah mencapai E20.

"Jadi kita nggak mau kalah Pak, kita harus kejar mereka. Kita baru E5 Pak. Jadi ini E5 di 170 outlet kami di Jawa Timur dan di Jakarta," katanya.

John menjelaskan Pertamina juga tengah mengembangkan bioetanol dengan berbagai jenis bahan baku tidak hanya tebu, namun juga aren, singkong, jagung, hingga sorgum.

Menurut John, untuk memenuhi kebutuhan nasional, Indonesia membutuhkan sekitar 20 hingga 30 pabrik bioetanol baru dalam dua tahun ke depan. Adapun, pembangunan pabrik di berbagai daerah dinilai akan meningkatkan kesejahteraan petani.

"Jadi impor daripada uangnya ke luar Pak, kasih petani Pak," tegas John saat merespons pertanyaan Prabowo terkait dampak kebijakan tersebut terhadap pengurangan impor.

Untuk merealisasikan target tersebut, Pertamina menekankan pentingnya regulasi mandatori serta kepastian harga bahan baku. Hal itu diperlukan agar ekosistem bioetanol di Indonesia dapat segera berjalan.


(wia) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Hari Ini, RI Resmi Berlakukan Biodiesel B50 Secara Bertahap