Muncul Fenomena Baru Gen Z Ramai-Ramai Pilih Nikah di KUA, Ada Apa?

Muhammad Sabki & Martyasari Rizky, CNBC Indonesia
Selasa, 21/07/2026 08:45 WIB
Foto: (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah biaya hidup yang makin tinggi dan gaya hidup anak muda yang kian praktis, muncul fenomena baru di tengah generasi Z, yakni ramai-ramai memilih menikah di Kantor Urusan Agama (KUA). Jika dulu pernikahan identik dengan gedung, pelaminan, ratusan tamu, dan pesta yang disiapkan berbulan-bulan, kini sebagian pasangan muda justru merasa cukup dengan akad sederhana di balai nikah, lalu makan bersama keluarga inti.

Fenomena ini tak datang tanpa sebab. Ada yang melihatnya sebagai cara menekan biaya, ada yang menganggapnya sebagai pilihan hidup yang lebih simpel, ada pula yang menilai ini sebagai perubahan cara pandang anak muda terhadap pernikahan itu sendiri. Di sisi lain, tren ini ikut menggoyang pola bisnis industri wedding, dari wedding organizer (WO), dekorasi, catering, sampai penyedia jasa pendukung lain yang selama ini hidup dari pesta skala besar.

Penghulu di KUA Setiabudi Abdul Hamid termasuk yang melihat perubahan itu langsung dari lapangan. Ia mengatakan, belakangan semakin banyak pasangan yang memilih menikah di KUA. Fenomena itu tak hanya terjadi di satu wilayah, tetapi juga terlihat di sejumlah KUA lain di Jakarta.


"Iya betul, akhir-akhir ini banyak yang menikah di KUA. Yang termasuk banyak tuh di KUA Tebet, yang saya sering lihat karena memang juga lumayan bagus sih balai nikahnya," ujar Hamid kepada CNBC Indonesia.

Di KUA Setiabudi sendiri, ia mengakui tren itu juga mulai terasa meski wilayah tersebut selama ini lebih banyak diisi pasangan yang menikah di gedung. Menurut dia, pasangan yang datang beragam, mulai dari Gen Z, milenial, hingga mereka yang menikah lagi. Namun pasangan Gen Z mendominasi. 

"Kalau Kecamatan Setiabudi ini kebanyakan untuk pernikahan di gedung ya. Tetapi itu memang orang-orang yang kalangan menengah ke atas gitu. Tapi sekarang banyak Gen Z yang ini menikah di sini juga sih," katanya.

"Ada juga yang milenial. Kemudian mungkin juga yang menikah lagi, yang sudah pernah bercerai menikah lagi kebanyakan di KUA sih. Jarang untuk mereka menggelar pesta gitu," lanjut Hamid.

Menurut dia, tren itu mulai semakin terlihat setelah pandemi Covid-19, atau tepatnya sekitar tahun 2023 lalu.

Bagi Hamid, salah satu penjelasan paling sederhana adalah karakter Gen Z yang cenderung menyukai hal-hal praktis. Generasi ini tumbuh di era serba instan, ketika memesan makanan, berkomunikasi, hingga mengurus banyak hal bisa dilakukan dengan cepat. Pola hidup seperti itu, menurut dia, terbawa sampai ke cara mereka memandang pernikahan.

"Satu, mungkin Gen Z ini lebih suka simpel, hal-hal yang simpel. Karena memang hidupnya ini sekarang dia simpel. Seperti kalau dulu itu kan serba susah, misalnya mau nelpon kita harus pergi ke wartel ya. Terus misalnya kita mau chattingan itu kita SMS yang dulu penuh dengan kesabaran gitu kan, yang agak susah. Kalau sekarang Gen Z itu karena memang dilatih dari kehidupan yang serba simpel gitu, mau nge-chat, mau teleponan dan lain sebagainya gampang. Order makanan pun gampang, sehingga hal-hal itu yang memicu 'Ah pernikahan mending lebih baik simpel' gitu kan, karena kan intinya ijab kabul saja," tuturnya.

Selain faktor praktis, pertimbangan ekonomi juga dinilai ikut mendorong tren ini. Hamid mengatakan, banyak pasangan muda kini lebih berhitung. Uang yang tadinya bisa habis untuk pesta besar, kini lebih dipilih untuk kebutuhan setelah menikah.

"Yang kedua, mungkin dari ekonomi juga ya. Kan ekonomi kayaknya memang agak sulit sekarang, jadi agak banyak memilih untuk di KUA saja nikahnya, untuk menghemat ekonomi gitu. Mungkin uangnya untuk ke depannya setelah menikah, betul mereka lebih memilih prospek uangnya digunakan untuk setelah nikah gitu loh, seperti mungkin ya honeymoon-nya, atau membangun bisnis yang baru, atau membeli rumah, atau juga membeli properti yang lain," kata dia.

Hal yang sama juga dirasakan Kepala KUA Tebet Nasrulloh. Nasrulloh bahkan mengungkapkan makin banyak pasangan muda Gen Z yang menikah di KUA khususnya di tahun ini.

"Khusus untuk KUA Tebet biasanya dari persentase 20% nikah di KUA, 80% nikah di luar KUA. Nah di tahun 2026 ini naik 40% nikah di KUA, 60% nikah di Luar, mayoritas iya yang nikah dari kalangan Gen Z meski ada beberapa di luar itu," beber dia.

Menurut Nasrulloh ada faktor utama yang membuat masyarakat kini lebih memilih menikah di KUA dibandingkan di gedung atau rumah.

"Kalau itu saya kurang tahu, tapi 1-2 pengantin bilang kita lebih duit ditabung masa depan ketimbang dihambur di acara pesta," ujarnya.

Cerita itu terasa dekat dengan pengalaman Seruni Cantika, salah satu Gen Z yang memutuskan menikah di KUA. Bagi dia, keputusan itu bukan semata soal memangkas biaya, tetapi juga soal memilih prioritas.

"Alasan utamanya simple, dan mungkin banyak ya yang sudah berpikiran sama kayak saya: mending uangnya dipakai untuk kehidupan setelah pernikahan. Karena pernikahan itu bukan suatu akhir, tapi awal dari perjalanan," ujar Seruni.

Ia bercerita, keputusan menikah di KUA berangkat dari pengalaman melihat orang terdekat memaksakan pesta mewah sampai berujung utang. Dari situ, ia justru semakin yakin tak ingin menjadikan pernikahan sebagai beban keuangan.

"Mulanya saya berpikiran untuk menikah di KUA saja itu karena saya melihat sepupu saya yang bela-belain gelar pesta mewah tapi orang tuanya harus terlilit utang. Amit-amit saya, pas tahu itu saya langsung komitmen, nggak deh bikin pesta kalau cuma bikin pusing sama utang. In this economy ya," katanya.

Meski tabungan sebenarnya cukup, Seruni mengaku tak tertarik dengan keribetan persiapan resepsi. Ia memilih akad sederhana, menyewa fotografer untuk dokumentasi, memakai jasa makeup artist, lalu makan bersama keluarga inti di restoran.

"Lagipula, meski tabungan sudah aman ya, maksudnya kita sudah ada pegangan dan itungan untuk gelar pesta, saya dengar dari teman-teman saya sebelumnya itu, pusing juga mereka ngurusin tetek-bengek persiapan pestanya. Buat saya yang memang nggak mau ribet, udahlah mending KUA saja," ucap dia.

"Untungnya pasangan saya juga sependapat. Akhirnya saya pilih sewa fotografer yang mau diajak ke KUA, terus saya sudah makeup rapih ya, jadi selesai akad di balai nikah, saya langsung foto-foto dengan fotografer yang disewa itu. Bagaimanapun kita tetap butuh dokumentasi," lanjut Seruni.

Untuk perayaan keluarga, ia hanya memesan makan untuk 30 orang di restoran keluarga. "Tetap ada, tapi saya cuma order 30 pax di salah satu restoran keluarga. Benar-benar keluarga inti saja," katanya.

Dengan konsep itu, biaya yang dikeluarkan pun jauh lebih ringan dibanding pesta pada umumnya. "Kayaknya waktu itu sekitar Rp6 juta atau Rp7 juta ya, soalnya rumah makan sundaan aja sih, yang per pax nya nggak sampai Rp200 ribu. Dan KUA nya gratis, paling saya bayar tukang rias, sewa baju dan fotografer saja. Hemat banget pokoknya," kata Seruni.

Bukan hanya Seruni, pasangan Gen Z lainnya Ade bersama Intan juga mengatakan hal yang sama. Pasangan Gen Z yang menikah di KUA Tanjung Priok ini mengungkapkan pilih nikah di KUA karena simpel dan tak menghamburkan banyak uang. Mereka berdua sepakat uang mahar pernikahan akan disimpan untuk kebutuhan di kemudian hari. 

Sepasang calon pengantin Azril 24 tahun dan Julia 23 tahun menjalani prosesi akad nikah di KUA Tebet, Jakarta, Jumat, (17/7/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) Foto: (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

"Kami sepakat nikah di KUA dan gelar syukuran kecil-kecilan dengan keluarga di rumah," ucap Ade.

"Makan ala kadarnya. Uang lebihnya disimpan buat kebutuhan masa depan. Masih mikir buat nanti kebutuhan anak, uang kontrakan dan lain-lain," timpal Intan.

Ade dan Intan menghilangkan kata gengsi dan omongan tetangga soal tak gelar pesta pada pernikahannya.

"Omongan tetangga biasanya muncul kayak kok gak ada undangan pernikahan, jangan-jangan apa nih. Ya cuekin aja," bebernya. 

Bukan hanya Seruni, Ade, dan Intan, banyak utas di sosial media Thread mengungkapkan kalangan Gen Z pilih nikah di KUA. Alasannya beragam mulai dari simpel hingga efisiensi biaya. Mereka memilih untuk tak menggelar pesta dan mulai menghilangkan gengsi.

Nikah di KUA Simpel Banget

Di sisi teknis, menikah di KUA memang relatif sederhana. Abdul Hamid menjelaskan, KUA menyediakan balai nikah, meja, dan kursi untuk akad. Jika pasangan ingin dekorasi tambahan, mereka dipersilahkan membawa sendiri.

"Kalau di KUA sebenarnya kita hanya menyediakan tempat. Biasanya mereka buat dekor lagi sendiri. Dia izin, kita mau dekor, silahkan kalau yang mau dekor gitu. Bawa dekornya sendiri. Jadi di KUA itu hanya menyediakan tempat saja sih sebenarnya," kata Hamid.

Yang paling menarik, menikah di KUA pada hari kerja dan jam kerja tidak dipungut biaya.

"Tidak ada (dipungut biaya). Kalau di hari dan jam kerja itu tidak ada biaya sebenarnya. Sewa tempat pun nggak ada gitu. Jadi full gratis," ujarnya.

Meski begitu, pasangan tetap harus mendaftar lebih dulu. "Oh kalau pendaftaran kan kita 10 hari kerja, jadi H-10 sebelum akad itu calon manten sudah berikan berkas. Ya kalau lewat dari itu menyiapkan surat lagi, dispensasi dari kelurahan atau surat pernyataan kenapa melangsungkan pernikahan di bawah 10 hari gitu," terang Hamid.

Hal yang sama juga diungkapkan Kepala KUA Tebet Nasrulloh. Nasrulloh bilang untuk menikah di KUA pun katanya cukup simpel. Sesuai regulasi, pasangan wajib melengkapi data seperti surat pengantar dari kelurahan hingga catatan kesehatan dari puskesmas.

"Dan surat rekomendasi nikah kalau memang berasal dari luar tempat nikah. KTP KK itu juga wajib," ucapnya.

Dia menambahkan, banyak dari pasangan yang menikah di hari Jumat.

"Untuk yang nikah di KUA biasanya di hari Jumat, mungkin pemahaman masyarakat biasanya Jumat hari bagus ya," katanya.


(wur/wur) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Penerimaan Negara dari Batu Bara Melambat