Pengembang Ungkap Susah Jualan Rumah Subsidi, Ada Apa?
Jakarta, CNBC Indonesia - Asosiasi Pengembang dan Pemasar Rumah Nasional (ASPRUMNAS) mengaku tengah dihadapkan tantangan yang semakin berat untuk merealisasikan program rumah subsidi. Daya beli masyarakat yang tengah melemah berdampak pada aktivitas penjualan rumah subsidi yang makin susah. Padahal angka kekurangan atau backlog perumahan di Indonesia masih tinggi.
Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat ASPRUMNAS, Muhammad Syawali menuturkan, ada beberapa tantangan dalam menuntaskan program rumah subsidi. Di antaranya adalah kondisi ekonomi yang menantang, suku bunga tinggi, nasabah terkendala catatan Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), hingga seleksi KPR semakin ketat.
"Ya, itu ada betulnya. Kemudian banyak faktor penyebab kesulitan ya penjualan rumah FLPP, masih banyak yang terdampak SLIK. Kemudian, sektor ekonomi memang yang agak berat juga, seleksi perbankan yang lebih ketat. Karena memang itu menjaga pencairan NPL (non performing loan) yang lebih rendah," ujar dia di sela acara HUT ke-13 dan Rapat Kerja Nasional ASPRUMNAS di Auditorium Bidakara, Jakarta, Senin (20/7/2026).
Syawali menyebutkan, segelintir masyarakat juga belum sadar akan pentingnya memiliki rumah sendiri. Oleh sebab itu, mereka masih konsumtif untuk membeli produk yang bukan kebutuhan utama.
"Itu adalah kualitas pihak nasabah atau masyarakat yang memang satu, belum sadar akan memiliki rumah. Kemudian, masih belum mempertahankan SLIK OJK-nya. Masih mau konsumtif produk lain karena mereka mungkin merokok, beli mobil, motor," ujar dia.
Di samping itu, Syawali mengatakan, pengembang properti tengah menghadapi lonjakan harga bahan baku bangunan. Meskipun harga material bangunan terus meningkat, rumah subsidi tetap dijual dengan harga normal alias tidak mengalami penyesuaian.
Padahal, lanjut dia, pengembang harus menanggung biaya yang cukup mahal untuk membangun satu unit rumah subsidi. Terlebih, pengembang juga harus tetap mempertahankan kualitas bangunan sesuai standar yang telah ditentukan.
"Karena kan kita juga dituntut untuk memberikan kualitas bangunan yang bagus, berkualitas, lingkungan yang asri ada pohon-pohonan, ada tanaman rumput penghijauan, drainase yang bagus, kemudian penerangan listrik, air dan semuanya itu kan kaitan dengan biaya yang harus dikeluarkan, pengerasan jalan, itu fasilitas sosial, fasilitas umum kan harus ada. Berat sih sebenarnya," jelas dia.
Walau demikian, Syawali menegaskan, pihaknya akan terus berupaya membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan tempat tinggal yang layak dan terjangkau. Tak ketinggalan, ASPRUMNAS memberikan edukasi kepada masyarakat agar tidak konsumtif, sehingga mereka bisa konsentrasi untuk menabung membeli rumah.
(wur) Add
source on Google