MARKET DATA

Pengembang Ungkap Susah Jualan Rumah Subsidi, Ada Apa?

Elga Nurmutia,  CNBC Indonesia
20 July 2026 18:05
Awal Desember 2017, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mencatat capaian Program Satu Juta Rumah sebanyak 765.120 unit rumah, didominasi oleh pembangunan rumah bagi  masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) sebesar 70 persen, atau se
Foto: Muhammad Luthfi Rahman

Jakarta, CNBC Indonesia - Asosiasi Pengembang dan Pemasar Rumah Nasional (ASPRUMNAS) mengaku tengah dihadapkan tantangan yang semakin berat untuk merealisasikan program rumah subsidi. Daya beli masyarakat yang tengah melemah berdampak pada aktivitas penjualan rumah subsidi yang makin susah. Padahal angka kekurangan atau backlog perumahan di Indonesia masih tinggi.

Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat ASPRUMNAS, Muhammad Syawali menuturkan, ada beberapa tantangan dalam menuntaskan program rumah subsidi. Di antaranya adalah kondisi ekonomi yang menantang, suku bunga tinggi, nasabah terkendala catatan Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), hingga seleksi KPR semakin ketat.

"Ya, itu ada betulnya. Kemudian banyak faktor penyebab kesulitan ya penjualan rumah FLPP, masih banyak yang terdampak SLIK. Kemudian, sektor ekonomi memang yang agak berat juga, seleksi perbankan yang lebih ketat. Karena memang itu menjaga pencairan NPL (non performing loan) yang lebih rendah," ujar dia di sela acara HUT ke-13 dan Rapat Kerja Nasional ASPRUMNAS di Auditorium Bidakara, Jakarta, Senin (20/7/2026).

Syawali menyebutkan, segelintir masyarakat juga belum sadar akan pentingnya memiliki rumah sendiri. Oleh sebab itu, mereka masih konsumtif untuk membeli produk yang bukan kebutuhan utama.

"Itu adalah kualitas pihak nasabah atau masyarakat yang memang satu, belum sadar akan memiliki rumah. Kemudian, masih belum mempertahankan SLIK OJK-nya. Masih mau konsumtif produk lain karena mereka mungkin merokok, beli mobil, motor," ujar dia.

Awal Desember 2017, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mencatat capaian Program Satu Juta Rumah sebanyak 765.120 unit rumah, didominasi oleh pembangunan rumah bagi  masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) sebesar 70 persen, atau sebanyak 619.868 unit, sementara rumah non-MBR yang terbangun sebesar 30 persen, sebanyak 145.252 unit.Program Satu Juta Rumah yang dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo, sekitar 20 persen merupakan rumah yang dibangun oleh Kementerian PUPR berupa rusunawa, rumah khusus, rumah swadaya maupun bantuan stimulan prasarana dan utilitas (PSU), 30 persen lainnya dibangun oleh pengembang perumahan subsidi yang mendapatkan fasilitas KPR FLPP, subsisdi selisih bunga dan bantuan uang muka. Selebihnya dipenuhi melalui pembangunan rumah non subsidi oleh pengembang.Ketua Umum Asosiasi Pengembang Perumahan dan Pemukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Junaidi Abdillah mengungkapkan, rumah tapak masih digemari kelas menengah ke bawah.Kontribusi serapan properti oleh masyarakat menengah ke bawah terhadap total penjualan properti mencapai 70%.Serapan sebesar 200.000 unit ini, akan terus meningkat pada tahun 2018 menjadi 250.000 unit.Awal Desember 2017, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mencatat capaian Program Satu Juta Rumah sebanyak 765.120 unit rumah, didominasi oleh pembangunan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) sebesar 70 persen, atau sebanyak 619.868 unit, sementara rumah non-MBR yang terbangun sebesar 30 persen, sebanyak 145.252 unit.Program Satu Juta Rumah yang dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo, sekitar 20 persen merupakan rumah yang dibangun oleh Kementerian PUPR berupa rusunawa, rumah khusus, rumah swadaya maupun bantuan stimulan prasarana dan utilitas (PSU), 30 persen lainnya dibangun oleh pengembang perumahan subsidi yang mendapatkan fasilitas KPR FLPP, subsisdi selisih bunga dan bantuan uang muka. Selebihnya dipenuhi melalui pembangunan rumah non subsidi oleh pengembang.Ketua Umum Asosiasi Pengembang Perumahan dan Pemukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Junaidi Abdillah mengungkapkan, rumah tapak masih digemari kelas menengah ke bawah.Kontribusi serapan properti oleh masyarakat menengah ke bawah terhadap total penjualan properti mencapai 70%.Serapan sebesar 200.000 unit ini, akan terus meningkat pada tahun 2018 menjadi 250.000 unit. Foto: Muhammad Luthfi Rahman

Di samping itu, Syawali mengatakan, pengembang properti tengah menghadapi lonjakan harga bahan baku bangunan. Meskipun harga material bangunan terus meningkat, rumah subsidi tetap dijual dengan harga normal alias tidak mengalami penyesuaian.

Padahal, lanjut dia, pengembang harus menanggung biaya yang cukup mahal untuk membangun satu unit rumah subsidi. Terlebih, pengembang juga harus tetap mempertahankan kualitas bangunan sesuai standar yang telah ditentukan.

"Karena kan kita juga dituntut untuk memberikan kualitas bangunan yang bagus, berkualitas, lingkungan yang asri ada pohon-pohonan, ada tanaman rumput penghijauan, drainase yang bagus, kemudian penerangan listrik, air dan semuanya itu kan kaitan dengan biaya yang harus dikeluarkan, pengerasan jalan, itu fasilitas sosial, fasilitas umum kan harus ada. Berat sih sebenarnya," jelas dia.

Walau demikian, Syawali menegaskan, pihaknya akan terus berupaya membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan tempat tinggal yang layak dan terjangkau. Tak ketinggalan, ASPRUMNAS memberikan edukasi kepada masyarakat agar tidak konsumtif, sehingga mereka bisa konsentrasi untuk menabung membeli rumah.

(wur) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Warga RI Mohon Simak, Ini Untung Rugi Tenor KPR Rumah Subsidi 40 Tahun


Most Popular
Features