INTERNASIONAL

Kapal Feri Terbalik, Puluhan Orang Diduga Tewas-Kapten Positif Ganja

luc, CNBC Indonesia
Senin, 20/07/2026 13:30 WIB
Foto: Upaya penyelamatan terus berlanjut setelah MV Barima, sebuah feri yang mengangkut penumpang, terbalik di lepas pantai Guyana di Amerika Selatan, dalam gambar yang dirilis pada 19 Juli 2026 ini. (via REUTERS/Bishop Juan Edghill)

Jakarta, CNBC Indonesia - Tragedi besar terjadi di Guyana setelah sebuah kapal feri yang mengangkut 133 orang terbalik di lepas pantai negara tersebut pada Sabtu (18/7/2026) malam. Puluhan orang dikhawatirkan tewas, sementara otoritas mengungkap dugaan daftar penumpang yang tidak akurat serta penggunaan narkoba oleh awak kapal menjadi faktor yang memperparah situasi.

Hingga Minggu malam waktu setempat, operasi pencarian dan penyelamatan masih berlangsung. Namun, tidak ada lagi korban selamat yang ditemukan sejak Minggu sore, ketika otoritas Guyana mengumumkan telah menyelamatkan 67 orang, termasuk 15 anak-anak.

Menteri Pekerjaan Umum Guyana Juan Edghill mengatakan kapten kapal beserta sejumlah awak kini telah diamankan oleh kepolisian.


"Operasi pencarian dan penyelamatan masih berlangsung," kata Edghill dalam konferensi pers pada Minggu malam, dilansir Reuters.

"Kepada keluarga yang masih menunggu kabar orang-orang tercinta mereka, kami melakukan segala sesuatu yang secara manusiawi mungkin dilakukan untuk menemukan mereka," tambahnya.

Kapal feri MV Barima membawa 116 penumpang dan 17 awak saat berlayar dari ibu kota Georgetown menuju desa Port Kaituma. Menurut otoritas, kapal tersebut terbalik di perairan Samudra Atlantik Utara sekitar tujuh mil atau sekitar 11 kilometer dari garis pantai.

Menara pengawas lalu lintas udara menerima panggilan darurat dari kapal sekitar pukul 23.00 pada Sabtu malam, yang kemudian memicu operasi pencarian dan penyelamatan besar-besaran.

Namun, Edghill mengakui respons awal terkendala kondisi gelap gulita dan minimnya kapal yang dilengkapi pemindai, sehingga tim penyelamat hanya mengandalkan penglihatan dan suara untuk mencari korban.

Sejak itu, sejumlah perusahaan sektor minyak dan gas mengerahkan kapal yang memiliki peralatan pemindai untuk membantu operasi pencarian. Pemerintah juga mengaktifkan tim penyelam guna memasuki bangkai kapal untuk mencari korban.

Wilayah pencarian pun diperluas secara signifikan dari sekitar 400 kilometer persegi menjadi 1.040 kilometer persegi.

Pada Minggu sore, Edghill sempat menegaskan tidak ada indikasi kelalaian dari operator kapal. Namun beberapa jam kemudian, ia mengungkap perkembangan baru yang mengejutkan.

Kapten kapal serta sedikitnya satu awak lainnya dinyatakan positif mengonsumsi ganja setelah menjalani pemeriksaan. Temuan tersebut kini menjadi salah satu fokus penyelidikan aparat.

Masalah lain yang memperumit operasi penyelamatan adalah ditemukannya sejumlah korban selamat yang ternyata tidak tercantum dalam manifes penumpang.

Hal tersebut mengindikasikan adanya ketidakakuratan daftar penumpang kapal sehingga otoritas kesulitan memastikan berapa jumlah pasti orang yang masih hilang.

Akibatnya, tim penyelamat belum dapat memastikan secara pasti jumlah korban yang masih harus dicari.

Edghill mengatakan MV Barima telah menjalani perawatan pada 2024. Kapal tersebut juga dijadwalkan menjalani dry docking atau proses pengangkatan kapal dari air untuk pemeriksaan menyeluruh dan perbaikan pada akhir tahun ini.

Salah satu penumpang yang selamat, Leon Murray, menceritakan kepada media lokal Ignite News bahwa sekitar empat jam setelah kapal meninggalkan Georgetown, seseorang tiba-tiba berteriak bahwa kapal sedang tenggelam.

Setelah kapal terbalik, Murray berhasil berenang ke permukaan dan menggunakan jaket pelampung agar tetap mengapung. Ia terus hanyut sambil berteriak meminta pertolongan hingga akhirnya menemukan putranya bersama tiga orang lainnya yang berpegangan pada sebuah kotak terapung.

Murray dan putranya berhasil selamat. Namun istrinya, putrinya, serta empat cucunya hingga kini belum ditemukan.

"Enam dari mereka hilang," ujarnya.

Perdana Menteri Guyana Mark Phillips mengatakan kapal tersebut melaporkan membawa muatan kargo seberat 268 ton, masih di bawah kapasitas maksimal 284 ton.

Menurutnya, kapal juga memiliki izin mengangkut lebih dari 300 penumpang serta dilengkapi 250 jaket pelampung, enam rakit penyelamat tiup, dan dua rakit penyelamat kaku.

Meski demikian, pemerintah kini membuka penyelidikan terhadap dugaan pelanggaran yang melibatkan personel kepolisian, angkatan pertahanan, hingga otoritas administrasi maritim.

"Izinkan saya menegaskan dengan sangat jelas: apabila ditemukan adanya kelalaian, pelanggaran, atau tindak pidana, maka pihak yang bertanggung jawab akan menghadapi hukuman sesuai ketentuan hukum yang berlaku," tegas Phillips.

 


(luc/luc) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: "Melayani Dengan Sepenuh Hati", Komitmen BUMN Perkuat Layanan