MARKET DATA
INTERNASIONAL

Trump Jilat Ludah Sendiri, Saudi Boleh Perkaya Nuklir Tapi Iran Tidak

sef,  CNBC Indonesia
20 July 2026 12:00
U.S. President Donald Trump greets Saudi Crown Prince and Prime Minister Mohammed bin Salman, during a dinner at the White House in Washington, D.C., U.S., November 18, 2025. REUTERS/Tom Brenner
Foto: REUTERS/Tom Brenner

Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) dilaporkan siap memberikan lampu hijau kepada Arab Saudi untuk mengembangkan program nuklir sipil yang mencakup hak memperkaya uranium. Kesepakatan tersebut disebut tinggal menunggu tanda tangan Presiden Donald Trump.

Mengutip laporan CNN International yang mengacu pada dokumen rancangan perjanjian dan sejumlah sumber yang mengetahui proses negosiasi, Minggu (20/7/2026), kesepakatan itu akan menjadi perubahan besar dalam kebijakan nuklir Washington di Timur Tengah. Dalam rancangan perjanjian tersebut, Arab Saudi disebut tidak diwajibkan menerapkan Protokol Tambahan dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA), yakni standar pengawasan yang memberikan akses inspeksi lebih luas terhadap fasilitas nuklir suatu negara.

Jika disahkan, Riyadh akan memperoleh akses terhadap teknologi pengayaan uranium yang selama puluhan tahun menjadi sumber perselisihan antara Iran dan negara-negara Barat. Perlu diketahui, selama ini, AS dan Israel menuduh program pengayaan uranium Iran berpotensi digunakan untuk mengembangkan senjata nuklir, tuduhan yang menjadi salah satu alasan dilancarkannya serangan terhadap fasilitas nuklir Iran awal tahun ini.

Di sisi lain, Iran berulang kali menegaskan bahwa program nuklirnya hanya ditujukan untuk kepentingan damai. Sebagai anggota Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT), Teheran menilai mereka memiliki hak untuk memperkaya uranium bagi kebutuhan energi sipil.

Arab Saudi juga menyampaikan argumen serupa. Riyadh mengatakan pengembangan industri nuklir dibutuhkan untuk memanfaatkan cadangan uranium domestik, mendiversifikasi sumber energi, mengurangi konsumsi minyak dalam negeri sehingga lebih banyak minyak mentah dapat diekspor, serta memasok listrik bagi proyek industri dan fasilitas desalinasi air.

Ubah Kebijakan Lama AS

Apabila disahkan, kesepakatan tersebut akan menandai perubahan dari kebijakan lama AS yang dikenal sebagai "gold standard" dalam kerja sama nuklir sipil.

Pada 2009, Uni Emirat Arab (UEA) sepakat secara permanen melepaskan hak memperkaya uranium dan memproses ulang plutonium sebagai syarat memperoleh kerja sama nuklir dengan Washington. Model tersebut selama bertahun-tahun dijadikan acuan utama dalam kerja sama nuklir AS di kawasan Timur Tengah.

Namun, menurut CNN International, kesepakatan dengan Arab Saudi tidak lagi mengikuti standar tersebut. Sejumlah pakar pengendalian senjata memperingatkan bahwa langkah tersebut berpotensi melemahkan standar nonproliferasi yang selama ini diterapkan AS, di mana mereka juga khawatir negara-negara lain di Timur Tengah akan menuntut hak serupa.

Menurut para ahli, kemampuan memperkaya uranium memang dapat digunakan untuk menghasilkan bahan bakar pembangkit listrik tenaga nuklir. Namun, teknologi sentrifugal yang sama juga dapat menghasilkan uranium dengan tingkat kemurnian tinggi yang dapat digunakan sebagai bahan baku senjata nuklir apabila proses pengayaan terus ditingkatkan.

Jika benar ditandatangani, kebijakan baru Washington diperkirakan akan memicu perdebatan baru mengenai keseimbangan keamanan dan perlombaan teknologi nuklir di kawasan Timur Tengah yang selama ini telah diwarnai ketegangan antara Iran, Israel, dan negara-negara Teluk.

(sef/sef) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Breaking News: Iran Setuju Hentikan Program Pengayaan Nuklir Tapi...


Most Popular
Features