Terungkap! Ini Biang Kerok Antrean Panjang-Panic Buying BBM di Sumatra

Firda Dwi Muliawati, CNBC Indonesia
Kamis, 16/07/2026 19:20 WIB
Foto: (Dok. PT Pertamina Patra Niaga)

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Pertamina Patra Niaga mengungkapkan penyebab utama terjadinya antrean panjang pembelian Bahan Bakar Minyak (BBM) di wilayah Sumatra. Kondisi tersebut dipicu oleh migrasi konsumen dari BBM non-subsidi ke BBM bersubsidi.

Wakil Direktur Utama Pertamina Patra Niaga Taufik Aditiyawarman mengakui adanya lonjakan permintaan yang tidak biasa di sejumlah titik di Sumatra hingga menyebabkan keterlambatan pasokan.

Dia menegaskan bahwa pihaknya tengah melakukan percepatan distribusi untuk merespons kenaikan volume penyerapan Pertalite dan Solar yang melebihi konsumsi normal harian.


"Kami menyadari juga bahwa pada beberapa waktu terakhir masih terjadi antrean dan pembelian secara berlebihan atau panic buying di beberapa wilayah di Sumatra secara umum yang juga dipengaruhi oleh kenaikan ataupun shifting dari konsumsi BBM (non subsidi) kepada BBM subsidi yaitu Pertalite dan Solar dan juga mungkin ada lagging dalam distribusi," katanya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi XII DPR RI, Jakarta, Kamis (16/7/2026).

Pihaknya mencatat, penyaluran Pertalite pada Juli telah menembus 104% dibandingkan konsumsi harian normal, sementara untuk jenis Solar Subsidi mencapai 105%. Peningkatan tersebut terjadi seiring dengan merosotnya penjualan Pertamax Series sebesar 18% akibat konsumen memilih untuk beralih ke jenis BBM yang lebih murah.

"Hal ini juga berdampak langsung ke produk gasoil di mana produk gasoil ini juga terjadi peningkatan secara komposisi hampir 1,5% secara volume terjadi peningkatan biosolar juga hampir 13,9% di periode Juli saja," kata Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga Eko Ricky Susanto, dalam kesempatan yang sama.

Sebagai tindak lanjut, Pertamina telah menambah armada tangki serta memperpanjang jam operasional SPBU dan depo di wilayah terdampak. Perusahaan berkomitmen menjaga ketersediaan produk dan kelancaran distribusi harian untuk meredam kekhawatiran masyarakat akan kelangkaan stok.

"Peningkatan penyaluran tersebut masih dapat dilayani dan terus monitor secara harian. Pengelolaan tersebut kami berkomitmen menjaga tiga hal utama yaitu ketersediaan produk, kelancaran distribusi dan ketepatan sasaran penyaluran," tutup Taufiq.

Di samping itu, Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) membeberkan saat ini penyaluran bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi khususnya jenis Solar Subsidi sudah tersalur hingga 50,85% dari kuota yang telah ditetapkan tahun ini. Konsumsi Solar Subsidi tercatat meningkat pasca kenaikan harga solar non subsidi pada Juni 2026 lalu.

Dalam catatan BPH Migas, realisasi penyaluran Solar Subsidi per 30 Juni 2026 mencapai 9,48 juta kilo liter (kl) dari kuota yang ditetapkan tahun ini 18,64 juta kl.

Selain Solar, konsumsi Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP) atau Pertalite per 30 Juni 2026 juga menunjukkan tren peningkatan. Tercatat, penyaluran Pertalite telah menyentuh angka 13,96 juta kl atau setara 47,68% dari total kuota APBN yang dipatok sebesar 29,27 juta kl.


(wia) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Kapal PG 1 Dengan 45,9 Ribu Metrik Ton LPG Asal AS Tiba di RI