Investor dari Hong Kong Ramai-ramai Serbu RI, Ini Alasannya!

Emir Yanwardhana, CNBC Indonesia
Kamis, 16/07/2026 17:35 WIB
Foto: Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani saat menyampaikan pemaparan dalam Konferensi Pers Realisasi Investasi Kuartal II-2026, di Kantor Presiden, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (16/7/2026). (CNBC Indonesia/Emir Yanwardhana)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Roeslani membeberkan alasan peningkatan investasi pada semester I dan kuartal II 2026 ini. Menurutnya investor luar negeri memandang Indonesia lebih stabil dari sisi pertumbuhan ekonomi, politik dan sosial.

Rosan mengatakan bahwa pihaknya selalu berkomunikasi dengan para investor. Menurutnya investor selalu melihat risiko secara terukur serta yield atau keuntungan yang bisa dihasilkan.


"Nah mereka lihat ya di Indonesia ini relatif dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya gitu ya. Dibandingkan dengan Thailand, Malaysia, kita relatif kita ini stabil, kita stabil. Dari segi pertumbuhan ekonomi, stabil juga dari segi politik, dan sosialnya," kata Rosan, saat Konferensi Pers di Kantor Presiden, Kamis (16/7/2026).

Menurutnya investor asing lebih berkomitmen untuk berinvestasi jangka panjang, sehingga faktor stabilitas jadi kunci utama. Rosan menambahkan, mereka memiliki analisa bahwa Indonesia juga memiliki tingkat pengembalian atau return yang acceptable.

Selain itu, menurut Rosan, mereka melihat pemerintah Indonesia selalu mengeluarkan upaya untuk meningkatkan iklim investasi.

"Contohnya di bulan Oktober tahun lalu kita mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 28/2025 (tentang penyelenggaraan perizinan berusaha berbasisi risiko) yang memberikan certainty atau mereduksi uncertainty dari segi perizinan. Dan itu diapresiasi oleh para asosiasi di luar negeri dan dalam negeri," katanya.

Upaya memberikan kemudahan dalam perizinan berusaha ini akan terus dilakukan. Rosan menyebut beberapa hal seperti perjanjian Service Level Agreement (SLA) antar kementerian, hingga penggunaan blockchain hingga Artificial Intelegence (AI).

"Dan arahan dari bapak presiden juga untuk men-simplify semua aturan yang menyulitkan gitu," katanya.

Sebagaimana diketahui, realisasi investasi pada semester I - 2016 sebesar Rp1.010,6 triliun, atau naik 7,2% secara year on year (YoY), dengan porsi penanaman modal asing, dengan prosi Penanaman Modal Asing 50,2%.

Sedangkan realisasi investasi kuartal II - 2026 sebesar US$511,8 triliun atau naik 7,1% YoY, dengan prosi penanaman modal asing 50,4%.

Investor Terbesar dari Hongkong, Ini Alasannya

Para kuartal II - 2026, Hongkong menjadi penyumbang investasi penanaman modal asing yang terbesar US$5 miliar. Diikuti Singapura US$4,2 miliar, China US$1,7 miliar, Jepang US$ 0,9 miliar, Malaysia US$ 0,7 miliar.

"Kalau kita lihat memang kalau yang dari Hongkong ini memang sebetulnya asalnya kebanyakan dari China," katanya.

Sama seperti halnya Singapura belum tentu asal usul investor sama seperti yang tercatat. "Kita catat dari Malaysia karena masuknya dari Malaysia, belum tentu dari Malaysia," katanya.

Lebih lanjut, investor Hongkong ini paling banyak berinvestasi dibidang hilirisasi yang berhubungan dengan mineral.


(emy/mij) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Harmonisasi Fiskal & Moneter demi Menjaga Stabilitas dan Pertumbuhan