Internasional

Anak Buah Trump Tembak Mati Imigran Lagi, 11 Orang Tewas

luc, CNBC Indonesia
Selasa, 14/07/2026 08:05 WIB
Foto: Seorang agen Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS mengangkat granat pengendali huru hara, menyusul insiden di mana mobil seorang warga sipil dihantam oleh agen Imigrasi dan Penegakan Bea Cukai AS (ICE), setelah seorang agen ICE menembak mati Renee Nicole Good, di Minneapolis, Minnesota, AS, 12 Januari 2026. (REUTERS/Tim Evans)

Jakarta, CNBC Indonesia - Gelombang kontroversi terhadap operasi penegakan imigrasi pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali mencuat setelah seorang petugas federal menembak mati seorang pria di negara bagian Maine. Insiden ini terjadi hanya beberapa hari setelah penembakan mematikan lain oleh petugas imigrasi di Texas, memicu protes publik serta tuntutan penyelidikan independen terhadap tindakan aparat.

Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (Department of Homeland Security/DHS) mengonfirmasi bahwa seorang petugas imigrasi federal menembak mati seorang pria di Kota Biddeford, Maine, pada Senin (13/7/2026) waktu setempat.

Dalam pernyataannya, DHS mengatakan petugas Immigration and Customs Enforcement (ICE) saat itu sedang melakukan pengawasan terhadap alamat terakhir seorang imigran yang disebut telah menerima perintah deportasi final.


DHS menyebut seorang "imigran ilegal" keluar dari rumah yang sedang diawasi menggunakan sebuah kendaraan. Aparat kemudian berusaha menghentikan kendaraan tersebut. Menurut DHS, kendaraan itu mencoba melarikan diri sehingga petugas memutuskan melepaskan tembakan.

"Kendaraan tersebut berusaha melarikan diri dari lokasi dan, karena khawatir terhadap keselamatan publik, seorang petugas melepaskan tembakan," demikian pernyataan DHS, dilansir The Guardian.

Namun, belakangan terungkap bahwa pria yang tewas bukanlah target utama operasi penegakan hukum tersebut.

Senator Maine Angus King mengatakan kepada CNN bahwa korban bukan sasaran operasi ICE, sekaligus mengoreksi pernyataannya sendiri yang sebelumnya disampaikan dalam konferensi pers. Kelompok pembela hak-hak imigran setempat menyebut korban merupakan pria berkebangsaan Kolombia berusia 26 tahun.

Insiden ini menjadi penembakan mematikan terbaru yang melibatkan aparat imigrasi federal di tengah kebijakan agresif pemerintahan Trump dalam menangkap dan mendeportasi imigran di seluruh Amerika Serikat.

DHS sebelumnya berulang kali menyatakan korban-korban penembakan oleh ICE menggunakan kendaraan mereka sebagai senjata. Namun dalam sejumlah kasus terdahulu, rekaman video kemudian memunculkan keraguan terhadap versi resmi pemerintah.

King juga mengatakan para petugas ICE yang terlibat dalam insiden di Maine tidak mengenakan kamera tubuh. Ia menambahkan bahwa Biro Investigasi Federal (FBI) akan memimpin penyelidikan atas insiden tersebut.

Sementara itu, kantor Jaksa Agung Maine menyatakan pihaknya juga "secara aktif menyelidiki" penembakan yang menewaskan korban.

Penembakan terjadi sekitar pukul 07.20 pagi waktu setempat. Seorang saksi yang diwawancarai Portland Press Herald mengatakan dirinya mendengar suara yang awalnya dikira kembang api dari luar rumahnya di Biddeford, kota berpenduduk sekitar 22.000 jiwa yang berjarak sekitar 24 kilometer di selatan Portland dan sekitar 145 kilometer di utara Boston.

Saat melihat ke luar jendela, ia menyaksikan sebuah SUV berusaha menabrakkan diri ke sebuah mobil kecil berwarna putih di persimpangan jalan.

Tak lama kemudian, sejumlah petugas berseragam rompi menghentikan kendaraan tersebut dan menarik keluar pengemudinya yang sudah berlumuran darah.

"Dia masih berbicara. Dia berkata, 'Saya sudah mencoba berhenti'," ujar saksi tersebut kepada Press Herald.

Saksi itu mengatakan ia kemudian melihat kaki korban berhenti bergerak ketika tergeletak di jalan.

Saksi lain yang diwawancarai Biddeford Gazette mengatakan sedikitnya dua petugas ICE mengenakan rompi hijau mengepung sedan putih yang berhenti di persimpangan. Menurutnya, para petugas berteriak sangat keras sebelum terdengar sedikitnya empat kali suara tembakan.

Media sosial juga dipenuhi berbagai foto dan video yang diduga memperlihatkan detik-detik kejadian. Salah satu foto menunjukkan kaca depan kendaraan dipenuhi lubang bekas peluru.

Dalam video yang dirilis Press Herald, sebuah sedan kecil tampak perlahan berputar sementara sejumlah pria mengejarnya sambil mencoba membuka pintu mobil. Belum diketahui apakah video itu direkam sebelum atau sesudah penembakan.

Video lain memperlihatkan petugas berusaha mengeluarkan tubuh korban yang sudah tidak berdaya dari dalam mobil sebelum memborgolnya. Sementara rekaman lain menunjukkan aparat federal bersama polisi setempat mengelilingi korban yang tergeletak di tanah sambil memberikan pertolongan medis.

Hingga kini identitas korban belum diumumkan secara resmi. Namun muncul laporan yang saling bertentangan mengenai status imigrasinya.

Kelompok pembela hak imigran menyatakan korban memiliki izin bekerja secara legal di Amerika Serikat dan telah memperoleh nomor jaminan sosial.

Sebaliknya, NewsNation, mengutip sejumlah sumber, melaporkan korban telah menerima perintah deportasi final.

Senator Angus King mengatakan Menteri Keamanan Dalam Negeri Markwayne Mullin juga menyebut pria tersebut memang telah mendapatkan perintah deportasi.

Adapun penembakan di Maine menjadi orang ke-11 yang tewas ditembak aparat imigrasi federal sejak Donald Trump memulai masa jabatan keduanya sebagai presiden. Kasus ini juga merupakan penembakan kelima dari sebelas insiden tersebut yang terjadi ketika korban sedang mengendarai kendaraan.

Sekretaris Negara Bagian Maine Shenna Bellows, yang tengah mencalonkan diri dalam pemilihan pendahuluan Partai Demokrat untuk kursi Senat AS, menyoroti angka tersebut. "Sudah waktunya ICE disingkirkan dari jalan-jalan kita," tulis Bellows melalui platform X.

Sejumlah politikus Demokrat lainnya menyampaikan seruan serupa. Mantan Senator Negara Bagian Maine Troy Jackson mengatakan timnya terus memantau perkembangan kasus tersebut.

"Saya telah menerima informasi mengenai penembakan mematikan oleh ICE di Biddeford pagi ini," tulis Jackson di X.

"Tim kami memantau situasi ini dengan sangat cermat dan akan memberikan pembaruan begitu kami mengetahui lebih banyak informasi. Hati saya bersama Biddeford dan seluruh warga Maine."

Sementara itu, Wali Kota Biddeford Liam Fountain sebelumnya pada Januari lalu pernah menyebut konsep penegakan hukum imigrasi di kotanya sebagai sesuatu yang "sangat mengkhawatirkan."

Ia mengatakan Biddeford telah "dibentuk dari waktu ke waktu oleh para imigran dan orang-orang lain yang datang ke sini mencari keamanan, pekerjaan, serta kesempatan membangun kehidupan."

Insiden di Maine terjadi hanya enam hari setelah petugas ICE di Houston, Texas, menembak mati Lorenzo Salgado Araujo ketika aparat berusaha menghentikan kendaraannya. Dalam kasus tersebut, para saksi yang berada di dalam mobil bersama Salgado membantah klaim ICE bahwa korban menggunakan kendaraannya sebagai senjata.

Menurut mereka, Salgado sama sekali tidak berusaha menyerang petugas, berbeda dengan versi resmi pemerintah yang menyatakan penembakan dilakukan sebagai bentuk pembelaan diri yang sah.

Juru bicara DHS kemudian mengakui Salgado sebenarnya bukan target operasi penangkapan ICE saat itu. Namun, agen ICE tetap menghentikan mobilnya karena ada seseorang di dalam kendaraan yang "memiliki kemiripan dengan target" operasi.

 


(luc/luc) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Rp366,7 M Uang Pungli di Imigrasi Pakai Rekening OB & Cleaning Service