RI-Australia Bersatu, Cokelat dan Produk Halal Jadi "Senjata" Baru
Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia dan Australia resmi meluncurkan Katalis 2.0, fase lanjutan program kerja sama ekonomi yang ditujukan untuk mempercepat implementasi Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA). Program ini diharapkan memperkuat kerja sama ekonomi kedua negara.
Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri mengatakan Katalis 2.0 bukan sekadar peluncuran program baru, melainkan bentuk komitmen bersama untuk mengubah peluang dalam IA-CEPA menjadi manfaat ekonomi yang nyata.
"Hari ini bukan sekadar peluncuran program baru. Ini adalah penegasan kembali komitmen bersama untuk mengubah peluang yang diciptakan IA-CEPA menjadi hasil ekonomi nyata yang bermanfaat bagi dunia usaha, pekerja, dan masyarakat kedua negara," ujarnya dalam peluncuran di Jakarta Selatan, Senin (13/7/2026).
Menurut Roro, Katalis 2.0 akan memperkuat implementasi IA-CEPA melalui kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan mitra pembangunan. Ia menilai Indonesia dan Australia kini tidak hanya menjadi tetangga secara geografis, tetapi juga mitra strategis dalam membangun ekonomi Indo-Pasifik yang lebih tangguh di tengah perubahan rantai pasok global, transformasi digital, dan ketidakpastian ekonomi dunia.
Sejak IA-CEPA mulai berlaku pada 5 Juli 2020, hubungan dagang kedua negara terus menunjukkan tren positif. Nilai perdagangan barang tumbuh rata-rata 10,68% per tahun, meningkat dari sekitar US$7,2 miliar atau setara Rp128,9 triliun pada 2020 menjadi sekitar US$13 miliar (sekitar Rp232,7 triliun) pada 2025.
Roro menambahkan kedua negara juga telah sepakat memulai peninjauan IA-CEPA agar tetap relevan dengan kebutuhan ekonomi masa depan.
"Kami juga berdiskusi mengenai sektor yang dapat diperkuat ke depan, termasuk pasar tenaga kerja dan sektor jasa, di mana sumber daya manusia Indonesia dapat berkontribusi lebih besar di Australia," kata Roro.
Ia juga menyoroti pentingnya peran usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menyumbang lebih dari 60% produk domestik bruto Indonesia. Menurutnya, mayoritas UMKM tersebut dijalankan oleh perempuan sehingga program pelatihan, transfer pengetahuan, dan penguatan kapasitas menjadi kunci agar pelaku usaha mampu menembus pasar Indonesia maupun Australia.
Roro menilai keberhasilan Katalis fase pertama menjadi fondasi penting bagi pengembangan program baru. Selama lima tahun terakhir, Katalis dinilai berhasil memperluas akses pasar, memperkuat kemitraan bisnis, meningkatkan keterampilan tenaga kerja, serta mendorong kerja sama di sektor strategis seperti agrifood, kesehatan, layanan digital, pariwisata, manufaktur maju, hingga ekonomi hijau.
"Melalui peluncuran Katalis 2.0, kita belajar dari apa yang berhasil sebelumnya. Ini menjadi momentum untuk melihat apa yang bisa kita lakukan lebih baik dan peluang apa yang bisa kita manfaatkan bersama," ujarnya.
Cokelat Jadi Simbol Kemitraan Baru
Sementara itu, Asisten Menteri Luar Negeri dan Perdagangan Australia Matt Thistlethwaite menggunakan komoditas cokelat sebagai simbol eratnya hubungan ekonomi kedua negara. Ia mengungkapkan konsumsi cokelat masyarakat Australia sangat tinggi, sementara pasokan kakao dalam negeri sangat terbatas sehingga bergantung pada impor.
"Australia menyukai cokelat. Kami ingin mengimpor lebih banyak kakao dari Indonesia karena Indonesia merupakan salah satu produsen kakao terbesar di kawasan dan produsen terbesar keenam di dunia. Kita harus melakukannya lebih banyak karena kita bertetangga, bermitra, dan berteman," kata Matt dalam kesempatan yang sama.
Ia menjelaskan Katalis fase pertama telah membantu pelaku usaha kakao Indonesia memasuki pasar Australia melalui riset pasar, lokakarya, hingga kunjungan eksportir ke Australia. Hasilnya, nilai ekspor kakao Indonesia ke Australia meningkat hingga tiga kali lipat sepanjang 2022-2025.
Selain sektor kakao, Matt mengatakan Katalis juga mendukung berbagai proyek strategis lain, termasuk ekspansi perusahaan ke Australia serta pelatihan tenaga perawat Indonesia melalui kemitraan pendidikan yang membuka peluang kerja di Australia.
Pada fase kedua, Katalis akan difokuskan pada pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dengan memperkuat UMKM, bisnis yang dipimpin perempuan, dan kelompok yang kurang terwakili agar dapat memanfaatkan peluang perdagangan dan investasi bilateral.
"Kami akan terus menghubungkan pelaku usaha, mendorong investasi, mendukung pengembangan keterampilan, serta membangun kemitraan yang memberikan dampak nyata bagi kedua negara," ujar Matt.
Perkuat Perdagangan Lewat Kerja Sama Produk Halal
Sebelum peluncuran Katalis 2.0, Indonesia dan Australia juga memperkuat kerja sama ekonomi melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) di bidang jaminan produk halal. Kesepakatan tersebut diteken Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) dan Kedutaan Besar Australia di Indonesia untuk mendukung kelancaran perdagangan produk bersertifikat halal antara kedua negara.
MoU ditandatangani Kepala BPJPH Ahmad Haikal Hasan dan Kuasa Usaha Australia di Indonesia Gita Kamath, serta disaksikan oleh Matt.
Kepala BPJPH Ahmad Haikal Hasan mengatakan kerja sama tersebut menjadi langkah penting dalam memperkuat ekosistem halal kedua negara.
"MoU ini menandai langkah penting dalam memperkuat kerja sama halal antara Indonesia dan Australia. Melalui pendalaman dialog teknis, peningkatan kapasitas, dan pertukaran informasi, kita dapat meningkatkan kepercayaan konsumen, mendukung ekosistem halal Indonesia, serta membantu produk halal berkualitas tinggi menjangkau pasar kedua negara," ujarnya.
Sementara itu, Matt mengatakan Indonesia merupakan salah satu mitra ekonomi terdekat Australia sekaligus pasar utama bagi produk pangan dan pertanian Australia, khususnya daging dan produk susu. Menurutnya, kesepakatan ini akan memperkuat perdagangan dua arah sekaligus memperdalam implementasi IA-CEPA dan Kemitraan Strategis Komprehensif (Comprehensive Strategic Partnership/CSP).
Â
(luc/luc) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]