RI Mau Bangun Pabrik Metanol 2,5 Juta Ton, Ini Detilnya

Firda Dwi Muliawati, CNBC Indonesia
Senin, 13/07/2026 15:35 WIB
Foto: Ilustrasi metanol/Doc.BulelengKab.go.id

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berencana membangun pabrik metanol dengan kapasitas total mencapai 2,5 juta ton. Proyek tersebut salah satunya untuk mendukung produksi bahan baku biodiesel yang saat ini telah mencapai kadar 50% (B50).

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (Dirjen EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi menjelaskan rincinya yakni pembangunan pabrik tersebut akan difokuskan di dua wilayah utama, yakni Jawa Timur dan Kalimantan.

"Kalo Bojonegoro kan yang pakai model dari gas itu prosesnya," dikutip Senin (13/7/2026).


Pembangunan pabrik di Bojonegoro, Jawa Timur, rencananya akan mengoptimalkan potensi sumber daya gas alam di wilayah tersebut. Pemerintah akan menerapkan teknologi pengolahan uap guna mengonversi gas menjadi metanol.

"Nanti pakai gas alam, pakai gas alam, pakai steam reforming ya kalau nggak salah ya istilah teknologinya," imbuhnya.

Sementara itu, untuk proyek yang berlokasi di Kalimantan, pemerintah akan mendorong produksinya melalui gasifikasi batu bara. Hal itu senada dengan hilirisasi batu bara untuk menghasilkan gas sintetis sebelum dikonversi menjadi metanol.

"Kalau yang di Kalimantan kan low rank coal jadi gasifikasi pakai syngas, syngas jadi metanol. Nah itu bisa," tuturnya.

Memang, pemerintah mencatat kebutuhan metanol nasional kini mencapai 2,5 juta ton per tahun. Hal itu sejalan dengan mulai berlakunya program B50 sejak 1 Juli 2026 yang membutuhkan metanol sebagai salah satu bahan baku biodiesel.

Untuk memenuhi kebutuhan itu, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan pemerintah akan segera membangun industri metanol di dalam negeri. Langkah tersebut diambil agar Indonesia bisa menyediakan pasokan secara mandiri bagi program biodiesel.

Pemerintah menargetkan pembangunan pabrik metanol tersebut dimulai melalui peletakan batu pertama (groundbreaking) pada bulan ini. Hal itu lantaran implementasi B50 juga perlu dibarengi dengan pemenuhan bahan bakunya dalam negeri.

"Maka langkah berikut adalah kita mendorong untuk segera membangun industri metanol. Ini ada di Jawa Timur sudah kita bulan ini juga kita akan melakukan groundbreaking. Dan kemudian adalah di Kalimantan Timur merupakan bagian hilirisasi daripada batu bara," kata Bahlil.

Seiring dengan itu, memang B50 sendiri bisa menghentikan impor solar di dalam negeri.

"Ini adalah sebuah lompatan yang sangat cepat atas dasar arahan Bapak Presiden. Dengan peluncuran B50 ini maka alhamdulillah kita tidak lagi melakukan impor solar dari negara lain," terang Bahlil.

Pemerintah juga memproyeksikan adanya surplus produksi solar hingga 4 juta kiloliter (kl) berkat pengoperasian kilang baru di Kalimantan Timur. Kelebihan pasokan tersebut akan dikonversi untuk mendukung produksi Avtur di dalam negeri.

"Surplusnya itu diperkirakan di antara 3-4 juta. Tahap berikutnya adalah kita akan mendorong untuk membangun Avtur. Kita akan mencoba untuk juga tidak lagi melakukan impor Avtur," tandasnya.


(pgr/pgr) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Perkuat Sinergi, Kapolri Temui Jaksa Agung ST Burhanuddin