Internasional

Eropa Mencekam, 'Neraka Bocor' Tewaskan 10 Ribu Orang

tps, CNBC Indonesia
Senin, 13/07/2026 19:40 WIB
Foto: Seorang wanita menggunakan payung untuk melindungi diri dari matahari saat berjalan di dekat Gedung Parlemen, di tengah cuaca panas di London, Inggris, 23 Juni 2026. (REUTERS/Guglielmo Mangiapane)

Jakarta, CNBC Indonesia - Negara-negara di benua Eropa secara resmi melaporkan lebih dari 10.000 kematian berlebih (excess deaths) akibat gelombang panas ekstrem yang memecahkan rekor di wilayah barat benua, Juni. Lonjakan drastis angka kematian massal akibat "neraka bocor" ini, menjadi fenomena yang sangat tidak biasa dan mencerminkan dampak fatal dari perubahan iklim global.

Mengutip laporan Reuters, Senin (13/7/2026), mayoritas mutlak dari korban jiwa-yakni lebih dari 9.000 kematian-didominasi oleh kelompok lansia yang berusia 65 tahun ke atas. Data mengerikan ini dipublikasikan oleh Proyek Pemantauan Angka Kematian Eropa (EuroMOMO), jaringan yang disokong Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa (ECDC) serta Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).


Cuaca ekstrem ini diketahui dapat memicu kematian dengan cara menyebabkan sengatan panas (heat stroke) atau memperparah gangguan pada sistem kardiovaskular serta penyakit pernapasan kronis. Ketiadaan faktor pemicu besar lain, seperti lonjakan wabah virus, membuat para ahli meyakini bahwa suhu panas ekstrem adalah satu-satunya penyebab utama di balik tragedi kemanusiaan ini.

"Mengalami kematian berlebih semacam ini pada waktu sekarang ini adalah hal yang tidak biasa. Ini benar-benar tinggi," ungkap Lasse Vestergaard, Kepala Dokter di Statens Serum Institut Denmark yang menaungi EuroMOMO.

"Sulit untuk menjelaskan kematian berlebih yang tinggi ini dengan hal lain selain panas ekstrem," tambah Vestergaard dalam penjelasannya mengenai situasi darurat tersebut.

Data gabungan statistik kematian nasional dari 27 negara Eropa ini mencatat total tepat 10.650 kematian berlebih pada pekan yang berlangsung dari 22 Juni hingga 28 Juni, yang menjadi puncak gelombang panas. Angka tersebut melonjak sangat kontras mengingat rata-rata angka kematian gabungan pada delapan minggu sebelumnya justru berada di bawah tingkat normal.

Bencana iklim ini tidak hanya merenggut nyawa, tetapi juga melumpuhkan pasokan listrik, memaksa penutupan operasional sekolah, serta menghancurkan rekor suhu tertinggi di Prancis, Spanyol, dan Inggris. EuroMOMO mencatat bahwa Prancis dan Belgia menjadi dua negara dengan tingkat kematian berlebih yang masuk dalam kategori sangat tinggi.

Bahkan bagi Belgia, angka kematian kali ini tercatat sebagai yang tertinggi dibandingkan gelombang panas mana pun dalam sejarah pencatatan negara tersebut sejak tahun 2000. Di sisi lain, sebuah studi terpisah dari Imperial College London mengestimasi 2.700 orang tewas di Inggris dan Wales sepanjang Mei dan Juni, di mana 42% di antaranya disebabkan oleh pemanasan global akibat ulah manusia.


(tps/sef) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Gelombang Panas Ekstrem Eropa Picu Kebakaran di Sejumlah Negara