"Neraka Bocor" Makin Terasa, Status Siaga Merah-Transportasi Lumpuh
Jakarta, CNBC Indonesia - Gelombang panas ekstrem dilaporkan tengah mencengkeram sebagian besar wilayah Eropa dengan lonjakan suhu udara yang kini nyaris menyentuh angka 40 derajat Celsius. Fenomena alam ini memicu dikeluarkannya peringatan nasional di berbagai negara, mengacaukan sistem transportasi massal, serta mulai mengancam keselamatan satwa liar.
Mengutip Reuters, Senin (22/06/2026), lonjakan suhu dahsyat yang bertepatan dengan titik balik matahari di belahan bumi utara ini menimbulkan kekhawatiran global mengenai datangnya kondisi cuaca ekstrem yang lebih awal dan persisten. Kondisi ini dipicu oleh pergerakan massa udara panas dari Gurun Sahara ke utara yang didorong oleh sistem tekanan tinggi kuat yang dikenal sebagai "Antisiklon Afrika".
Sistem cuaca tersebut menciptakan fenomena "kubah panas" yang memerangkap udara panas di atas wilayah Eropa Barat dan Tengah, sehingga suhu terus berakumulasi menjadi lebih panas dari hari ke hari.
Guna mengantisipasi dampak buruk kesehatan, otoritas Italia telah menetapkan status siaga merah di delapan kota besar, termasuk Milan, Florence, Bologna, dan Turin.
Dampak cuaca ekstrem ini kini juga telah mulai melumpuhkan sektor infrastruktur vital di sejumlah negara, khususnya pada moda transportasi massal. Pihak operator kereta api nasional Prancis, SNCF, terpaksa membatalkan total 71 perjalanan kereta antarkota hingga Senin di beberapa rute utama yang padat penumpang.
"Jaringan kereta api kami sangat terdampak oleh suhu tinggi yang berisiko merusak kabel listrik atas serta memicu pemuaian pada rel kereta. Kami telah mengerahkan 3.500 staf untuk memantau jaringan dan 2.000 kru tambahan guna melakukan perbaikan darurat," ungkap Jean Castex selaku Kepala SNCF saat memberikan keterangan pers di stasiun Gare Montparnasse, Paris.
Sementara itu di Spanyol, badan meteorologi AEMET merilis peringatan siaga merah dan oranye di beberapa wilayah karena suhu diperkirakan akan terus bertahan di atas 39 hingga 40 derajat Celsius hingga pertengahan minggu.
Di Jerman, suhu panas yang menyengat disusul oleh badai petir parah di wilayah timur termasuk Berlin, hingga memaksa penyelenggara mengevakuasi turnamen tenis Berlin Open akibat hujan deras dan angin kencang.
Dampak buruk dari kubah panas ini rupanya tidak hanya menyasar manusia dan infrastruktur, melainkan juga mulai menekan populasi satwa liar di alam bebas. Sebuah pusat penyelamatan satwa di dekat kota Namur, Belgia, melaporkan telah menampung sekitar 150 ekor hewan yang mengalami stres berat akibat sengatan panas dalam beberapa hari terakhir.
"Anak-anak burung di sarang kini lebih memilih untuk melompat jatuh ke bawah daripada membiarkan diri mereka mati dan benar-benar matang terpanggang di dalam sarangnya," jelas Romain De Jaegere selaku pendiri lembaga penyelamat CREAVES mengenai kondisi darurat satwa tersebut.
"Pusat-pusat rehabilitasi satwa di seluruh Belgia saat ini sudah berada dalam kondisi kewalahan menerima limpahan hewan yang sakit."
Para ahli lingkungan menegaskan bahwa situasi kritis ini mencerminkan tren global yang lebih luas, di mana gelombang panas di Eropa kini menjadi jauh lebih sering terjadi dan jauh lebih intens akibat dampak nyata dari perubahan iklim dunia.
(tps/luc) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]