Internasional

Trump Klaim Iran Ingin Damai, tapi Ancaman Perang Masih Ada

tfa, CNBC Indonesia
Jumat, 10/07/2026 08:00 WIB
Foto: CNBC Indonesia TV

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengklaim Iran kini ingin mencapai kesepakatan damai setelah serangkaian serangan militer terbaru Washington. Meski demikian, Trump mengaku belum bisa memastikan apakah konflik antara kedua negara benar-benar akan berakhir atau justru kembali meningkat menjadi perang skala penuh.

Berbicara kepada wartawan di dalam Air Force One saat kembali dari Inggris menuju Washington, Trump mengatakan serangan terbaru AS telah memberikan tekanan besar kepada Teheran

"Mereka sangat ingin membuat kesepakatan. Mereka menelepon beberapa waktu lalu. Mereka sangat ingin membuat kesepakatan. Saya hanya tidak tahu apakah mereka layak untuk membuat kesepakatan. Saya tidak tahu apakah mereka akan menghormati kesepakatan itu. Itulah masalahnya," ujar Trump, seperti dikutip CNBC International, Jumat (10/7/2026).


Trump juga menegaskan AS akan terus merespons setiap serangan Iran dengan kekuatan yang jauh lebih besar.

"Saya katakan kita menyerang mereka 20 banding 1. Setiap kali mereka menyerang kita, kita akan menyerang mereka 20 kali lipat, dan kita melakukannya tadi malam," katanya.

Ia menambahkan bahwa apabila perang kembali pecah, Washington akan "memenangkannya dengan sangat cepat" karena, menurutnya, AS sudah unggul secara militer.

Meski mengklaim Iran menginginkan perdamaian, Trump tidak bisa memastikan apakah kedua negara akan kembali terlibat dalam konflik terbuka. Saat ditanya mengenai kemungkinan perang skala penuh, ia hanya menjawab, "Saya tidak tahu," sembari menegaskan bahwa kemampuan militer Iran kini sudah jauh melemah.

Di sisi lain, operasi militer AS masih terus berlangsung. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan pasukannya kembali melancarkan serangan pada Rabu untuk melemahkan kemampuan Iran menyerang kapal dagang dan pelaut sipil di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi dunia.

Sebelumnya, militer AS juga menyerang sekitar 170 target militer Iran sebagai respons atas serangan terhadap tiga kapal komersial di Selat Hormuz. Pemerintah AS turut mencabut pengecualian yang sebelumnya memungkinkan Iran tetap menjual minyaknya, sehingga meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Teheran.

Pernyataan Trump muncul hanya beberapa pekan setelah Washington dan Teheran mengumumkan nota kesepahaman untuk mengakhiri konflik. Namun, saat menghadiri KTT NATO, Trump justru meragukan masa depan kesepakatan tersebut.

"Saya rasa sudah berakhir. Saya tidak ingin berurusan dengan mereka lagi. Sejauh yang saya ketahui, sudah berakhir," kata Trump, seraya menyebut upaya negosiasi lanjutan sebagai "buang-buang waktu."

Iran membantah langkah AS tersebut. Dalam pernyataan resminya pada Kamis, Kementerian Luar Negeri Iran menyebut serangan Washington sebagai pelanggaran terhadap nota kesepahaman yang baru disepakati kurang dari empat minggu lalu. Teheran menegaskan akan mempertahankan kedaulatan dan integritas wilayahnya serta menghukum pihak yang disebut sebagai agresor.

Ketegangan yang belum mereda turut memengaruhi pasar energi global. Pada perdagangan Kamis pagi, harga minyak mentah Brent untuk pengiriman September bertahan di atas US$78 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di US$73,55 per barel. Kenaikan harga mencerminkan kekhawatiran pasar bahwa konflik di kawasan, terutama di sekitar Selat Hormuz, masih berpotensi mengganggu pasokan energi dunia.


(tfa/tfa) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Israel Masih Siaga Penuh Akan Dibombardir Iran