FOTO

Pertama di Dunia! BBM Biodiesel B50 Resmi Diluncurkan Prabowo

Dok. BPMI Sekretariat Presiden/Cahyo, CNBC Indonesia
Kamis, 09/07/2026 19:35 WIB

Presiden Prabowo meluncurkan mandatori biodiesel B50 di Karawang. Program ini bisa hentikan impor solar dan perkuat ketahanan energi.

1/6 Presiden RI Prabowo Subianto resmi meluncurkan mandatori biodiesel B50, yakni bahan bakar minyak jenis solar yang dicampur bahan bakar nabati berbasis minyak kelapa sawit sebesar 50 persen, di Karawang, Kamis (9/7/2026). (Dok. BPMI Sekretariat Presiden/Cahyo)

Presiden RI Prabowo Subianto resmi meluncurkan mandatori biodiesel B50, yakni bahan bakar minyak jenis Solar yang dicampur bahan bakar nabati berbasis minyak kelapa sawit sebesar 50%, di SPBU Pertamina Rest Area KM 57, Kabupaten Karawang, Kamis (9/7/2026). Kebijakan ini menjadi langkah strategis pemerintah untuk mengurangi ketergantungan impor Solar, memperkuat ketahanan energi, serta meningkatkan nilai tambah sumber daya alam nasional. (Dok. BPMI Sekretariat Presiden/Cahyo)

2/6 Presiden RI Prabowo Subianto resmi meluncurkan mandatori biodiesel B50, yakni bahan bakar minyak jenis solar yang dicampur bahan bakar nabati berbasis minyak kelapa sawit sebesar 50 persen, di Karawang, Kamis (9/7/2026). (Dok. BPMI Sekretariat Presiden/Cahyo)

Dalam sambutannya, Prabowo menyatakan Indonesia menjadi negara pertama di dunia yang menerapkan mandatori biodiesel B50. Menurutnya, peluncuran B50 bukan hanya pencapaian teknologi, tetapi juga bukti kemampuan Indonesia memanfaatkan sumber daya alam untuk kepentingan rakyat sekaligus menjadi tonggak penting menuju kemandirian energi. (Dok. BPMI Sekretariat Presiden/Cahyo)

3/6 Presiden RI Prabowo Subianto resmi meluncurkan mandatori biodiesel B50, yakni bahan bakar minyak jenis solar yang dicampur bahan bakar nabati berbasis minyak kelapa sawit sebesar 50 persen, di Karawang, Kamis (9/7/2026). (Dok. BPMI Sekretariat Presiden/Cahyo)

Prabowo menegaskan kemandirian bangsa ditentukan oleh kemampuan memenuhi kebutuhan pangan, energi, dan air secara mandiri. Ia mengatakan program swasembada energi telah menjadi fokusnya sejak sebelum menjabat sebagai Presiden, dengan target menghentikan impor bahan bakar minyak dan pangan. (Dok. BPMI Sekretariat Presiden/Cahyo)

4/6 Presiden RI Prabowo Subianto resmi meluncurkan mandatori biodiesel B50, yakni bahan bakar minyak jenis solar yang dicampur bahan bakar nabati berbasis minyak kelapa sawit sebesar 50 persen, di Karawang, Kamis (9/7/2026). (Dok. BPMI Sekretariat Presiden/Cahyo)

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan implementasi B50 membuat Indonesia tidak lagi mengimpor Solar pada tahun ini. Sebelumnya, Indonesia masih mengimpor sekitar 3 hingga 4 juta kilo liter (kl) Solar per tahun, sementara konsumsi nasional mencapai 38-40 juta kl. Ia menyebut percepatan penerapan B50 dilakukan atas arahan Presiden sebagai bagian dari upaya memperkuat kedaulatan energi. (Dok. BPMI Sekretariat Presiden/Cahyo)

5/6 Presiden RI Prabowo Subianto resmi meluncurkan mandatori biodiesel B50, yakni bahan bakar minyak jenis solar yang dicampur bahan bakar nabati berbasis minyak kelapa sawit sebesar 50 persen, di Karawang, Kamis (9/7/2026). (Dok. BPMI Sekretariat Presiden/Cahyo)

Pelaksanaan mandatori B50 mengacu pada Peraturan Menteri ESDM Nomor 4 Tahun 2025 dan Keputusan Menteri ESDM Nomor 257.K/EK.01/MEM.E/2026. Pemerintah memberikan masa transisi selama tiga bulan hingga 30 September 2026 untuk menghabiskan stok biodiesel B40 sebelum B50 mulai tersedia di seluruh Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). (Dok. BPMI Sekretariat Presiden/Cahyo)

6/6 Presiden RI Prabowo Subianto resmi meluncurkan mandatori biodiesel B50, yakni bahan bakar minyak jenis solar yang dicampur bahan bakar nabati berbasis minyak kelapa sawit sebesar 50 persen, di Karawang, Kamis (9/7/2026). (Dok. BPMI Sekretariat Presiden/Cahyo)

Kementerian ESDM menyatakan implementasi B50 telah dipersiapkan melalui pengujian pada enam sektor pengguna mesin diesel, meliputi otomotif, alat pertanian, alat berat pertambangan, angkutan laut, pembangkit listrik, dan kereta api. Program ini diperkirakan menghemat devisa hingga sekitar Rp 170 triliun pada 2026, meningkatkan nilai tambah industri kelapa sawit, menyerap sekitar 2,1 juta tenaga kerja, serta menurunkan emisi gas rumah kaca hingga 44,46 juta ton CO₂. (Dok. BPMI Sekretariat Presiden/Cahyo)

Add as a preferred
source on Google