Dari Nikel Menuju Raja Baterai: Strategi RI Tampil di Panggung Dunia
Jakarta, CNBC Indonesia - Persaingan di tengah era kendaraan listrik semakin ketat. Tak hanya soal kemampuan memproduksi unit kendaraan, Dunia juga mulai bergeser pada penguasaan rantai pasok bahan baku melalui hilirisasi nikel menjadi baterai EV.
Sebagai negara dengan cadangan nikel terbesar dunia, Indonesia tentunya memiliki peluang besar menjadi pemain utama di dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik tersebut. Maka dari itu, peran MIND ID menjadi semakin strategis.
Pasalnya, sebagai holding BUMN industri pertambangan, MIND ID tidak hanya mengelola sumber daya mineral nasional, tetapi juga mengoordinasikan pembangunan ekosistem industri itu sendiri.
Dalam agenda hilirisasi yang terintegrasi, MIND ID memastikan pengelolaan sumber daya mineral dan batu bara tidak hanya berorientasi pada eksploitasi tetapi juga menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan bagi negara.
Direktur Utama MIND ID Maroef Sjamsoeddin menyampaikan sebagai BUMN pertambangan nasional, pihaknya menjalankan mandat negara untuk mengelola sumber daya mineral secara optimal dan berkelanjutan.
"Visi kami sebagai perusahaan pertambangan terintegrasi kami terjemahkan secara konsisten melalui agenda hilirisasi yang telah berjalan dan terus diperkuat di seluruh Grup MIND ID," ujar Maroef dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI baru-baru ini.
Salah satu fokus utama MIND ID saat ini adalah pengembangan ekosistem industri baterai kendaraan listrik (EV). Proyek ini mencakup rantai pasok lengkap, mulai dari penambangan bijih nikel sebagai mineral strategis, pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian, pengembangan material baterai di Halmahera Timur, hingga pembangunan pabrik baterai di Karawang.
Selain nikel, MIND ID juga terus mendorong hilirisasi pada berbagai komoditas mineral lainnya guna memastikan nilai tambah tercipta di dalam negeri sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.
Maroef menegaskan bahwa seluruh proyek hilirisasi dijalankan dengan memperhatikan kepatuhan terhadap regulasi, pengendalian dampak lingkungan, serta prinsip keberlanjutan.
"MIND ID berkomitmen dalam memastikan agenda hilirisasi nasional tidak hanya berjalan tetapi memberikan manfaat nyata dan terukur bagi perekonomian nasional sekaligus mendukung ketahanan energi dan transisi energi terbarukan serta pembangunan industri masa depan Indonesia," tambahnya.
Bangun Ekosistem dari Hulu hingga Hilir
Untuk mempercepat pembangunan industri baterai nasional, pemerintah sudah membentuk PT Industri Baterai Indonesia (IBC) sebagai kolaborasi Grup MIND ID, Pertamina, dan PLN di bawah koordinasi Danantara Indonesia. IBC berperan sebagai orkestrator ekosistem baterai nasional yang mengintegrasikan rantai nilai dari hulu hingga hilir.
Di sektor hulu, Grup MIND ID memastikan pasokan mineral strategis melalui ANTAM sebagai produsen nikel, didukung Freeport Indonesia, INALUM, Bukit Asam, Timah, dan Vale Indonesia. Di sektor pengolahan, IBC mengembangkan pabrik Cathode Active Material (CAM) di Tanjung Buli, Halmahera, serta pabrik sel baterai di Karawang yang ditargetkan mulai beroperasi pada Juli 2026 ini.
Pabrik tersebut dirancang memiliki kapasitas produksi 6,9 GWh pada fase pertama dan dapat dikembangkan hingga 15 GWh pada fase kedua. Proyek ini diproyeksikan menyerap sekitar 3.200 tenaga kerja, disertai program transfer teknologi melalui pelatihan selama enam bulan di Tiongkok bagi 600 tenaga ahli.
"Kapasitas pertama yang akan kita instal ini 6,9 Giga Watt hour dan Insya Allah sih masih on schedule. Jadi bulan Juli 2026 ini, akhir Juli 2026 beroperasi," kata Aditya.
Peluang Besar RI Lewat NMC
Mengutip factsheet MINDJOURNEY VOL3, dalam perkembangan teknologi baterai kendaraan listrik, dua jenis katoda yang mendominasi pasar global adalah Lithium Iron Phosphate (LFP) dan Nickel Manganese Cobalt (NMC). Perbedaan utama keduanya terletak pada komposisi material.
NMC menggunakan nikel, mangan, dan kobalt sehingga menghasilkan densitas energi yang lebih tinggi. Sedangkan LFP hanya menggunakan litium, besi, dan fosfat tanpa kandungan nikel maupun kobalt.
Bagi Indonesia, perbedaan ini menjadi keunggulan strategis. Sebagai negara dengan cadangan nikel terbesar di dunia, Indonesia memiliki posisi yang lebih kuat dalam rantai pasok baterai NMC.
Sebaliknya, bahan baku utama LFP, seperti litium dan fosfat, masih harus diimpor sehingga memberikan nilai tambah yang lebih kecil bagi industri nasional.
Dari sisi biaya, katoda menyumbang sekitar 40% dari total biaya produksi baterai sehingga menjadi komponen paling menentukan. Hal ini membuat baterai NMC memiliki harga lebih tinggi, sekitar US$ 62/kWh dibandingkan LFP yang sekitar US$ 40/kWh.
Namun, harga tersebut diimbangi oleh densitas energi yang lebih tinggi sehingga NMC mampu memberikan jarak tempuh dan performa yang lebih baik, terutama untuk kendaraan listrik berperforma tinggi.
Dengan demikian, meski lebih mahal, NMC menawarkan nilai strategis yang lebih besar bagi Indonesia karena sejalan dengan keunggulan sumber daya nikel yang dimiliki.
Kolaborasi Regional
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan Indonesia membuka peluang kerja sama komoditas nikel dengan Filipina sebagai bagian dari penguatan kolaborasi energi di kawasan Asia Tenggara.
Pernyataan tersebut disampaikan menjelang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN di Filipina yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto.
Menurut Bahlil, negara-negara ASEAN tengah membangun kekuatan energi bersama di kawasan Asia Tenggara. Dalam konteks tersebut, nikel menjadi salah satu komoditas strategis karena dapat dikonversi menjadi bahan baku baterai kendaraan listrik.
"Nikel adalah salah satu komoditas energi yang bisa dikonversi untuk menjadi baterai. Nah, kebetulan di Asia Tenggara, yang punya pabrik ekosistem baterai dan hulu sampai hilir itu tidak semua negara punya. Indonesia salah satu yang sedang mengembangkan itu. Nah, terkait dengan nikel, Indonesia membuka diri saja," kata Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Rabu (6/5/2026).
Ia menjelaskan kerja sama tersebut bukan berarti Indonesia akan melakukan investasi di Filipina. Menurutnya, peluang yang terbuka lebih kepada suplai bahan baku apabila Indonesia mengalami kekurangan pasokan.
"Tetapi, bukan berarti kerja sama untuk kita melakukan investasi di sana. Tapi mereka mungkin bisa menyuplai kalau kita kekurangan. Kalau kita kekurangan bahan bakunya, bisa disuplai dari mana saja. Jadi tidak ada isu kerja sama yang lebih teknis spesifik itu, enggak ada, ya" katanya.
Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Sudirman Widhy menilai Indonesia merupakan negara yang beruntung lantaran negara ini dianugerahi sumber daya alam yang sangat melimpah, baik dari sisi potensi maupun cadangan.
Ia memandang pengelolaan sumber daya tambang harus terlebih dahulu diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Nikel misalnya, menjadi bahan baku utama baterai kendaraan listrik dan stainless steel, sementara bauksit digunakan untuk produksi aluminium serta tembaga untuk berbagai kebutuhan industri.
"Keseluruhan produk industri tersebut sangat diperlukan untuk proses pembangunan guna menjadikan Indonesia sebagai negara maju yang dapat memberikan kesejahteraan kepada rakyatnya. Oleh karena itu, pemanfaatan bahan galian mineral tersebut harus diprioritaskan untuk diolah lebih lanjut di dalam negeri," ujar widhy kepada CNBC Indonesia, dikutip Rabu (8/7/2026)
Itulah sebabnya program hilirisasi dan industrialisasi sangat diperlukan guna mengolah bahan galian mineral tersebut menjadi produk industri yang sangat diperlukan untuk proses pembangunan negara. Selain itu, produk industri ini bisa juga dijual guna memberikan pendapatan kepada negara secara optimal.
Terpisah, Chairman Indonesian Mining Institute (IMI) Irwandy Arif menilai bahwa periode 2026-2029 akan menjadi fase transformasi strategis bagi industri pertambangan Indonesia.
Setidaknya, sektor ini tidak lagi hanya berfungsi sebagai penyedia komoditas melainkan juga sebagai penggerak industrialisasi, ketahanan energi, serta transisi menuju ekonomi berkelanjutan.
"Industri pertambangan Indonesia periode 2026-2029 akan berada pada fase transformasi strategis, di mana sektor ini tidak hanya berperan sebagai penyedia komoditas, tetapi juga sebagai pendorong industrialisasi, ketahanan energi, dan transisi menuju ekonomi berkelanjutan," katanya.
Ia memaparkan arah industri pertambangan ke depan akan difokuskan pada upaya menjaga stabilitas produksi, mendorong hilirisasi, serta memperkuat kontribusi terhadap pembangunan nasional. Selain itu, penerapan prinsip keberlanjutan (ESG) dan adopsi teknologi digital juga menjadi aspek penting untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing.
(pgr/pgr) Add
source on Google